Xenoglossophilia: Makhluk Apa Tuh?

Aku tersandung artikel ini dan terdiam beberapa jenak.
Mempertanyakan diri. Mempertanyakan gaya tulisanku di sini.
Apakah bahasa campur aduk yang kugunakan merupakan tanda-tanda bahwa aku sudah terkena virus itu.

Kecintaan terhadap bahasa asing yang tidak wajar; penggunaan bahasa asing dalam konteks komunikasi berbahasa Indonesia; penggunaan istilah asing yang sebetulnya sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia; padahal istilah tersebut tidak memperjelas atau memperlancar komunikasi.

Aduh, tak urung terlintas pertanyaan seberapa besar cintaku pada bahasa Indonesia, bahasa sendiri.

Aku bisa beralasan, sebagai penerjemah wajarlah kalau aku begitu “tercemari” bahasa kedua.


Aku bisa berkilah, aku hanya menggunakan campuran bahasa asing dalam konteks tak resmi dan berusaha menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk konteks resmi.


Aku bisa menunjukkan, bahasa asing bagaimanapun telah memperkaya bahasa kita. Tapi kemudian, kuingat bahwa ada aturan tersendiri untuk penyerapan kata dan istilah asing.

Jadi, kembali pada Xenoglosofilia.


Apakah aku akan membiarkan penggunaan bahasa campur aduk menjadi sekadar habit eh kebiasaan , atau memang ada motivasi lain.

Bahasa atau variasi bahasa bisa kita rujuk sebagai sebuah code. Dalam berkomunikasi, kita selalu dihadapkan pada code choices. Dan kita menentukan pilihan berdasarkan situasi, topik, target pembaca/pendengar, dan sebagainya.

Di negara multibahasa seperti Indonesia, kemampuan beralih dari satu bahasa ke bahasa lain sudah diterima sebagai suatu kewajaran. Kita melakukan code-mixing antara bahasa Jawa dan Sunda, misalnya, atau code-switching antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah lain.

“Sampeyan mau ke mana?” alih-alih “Anda mau ke mana?”

Diglossic situation seperti itu terjadi juga di Singapura, yang memiliki empat bahasa resmi: Bahasa Inggris, Mandarin, Tamil, dan Melayu.

Mahasiswa Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, misalnya, cenderung mendiskusikan masalah akademis dalam bahasa Inggris, dan membicarakan masalah sehari-hari dengan keluarga mereka menggunakan bahasa Indonesia. Tak jarang, terjadi code mixing atau code switching di dalamnya.

Kupikir, bagi kita, yang sering menemukan istilah tak berpadanan atau tak tepat semakna atau tak senilai dalam rasa, penggunaan bahasa asing mungkin belum menjurus ke xenoglosofilia.

Yah kuakui, ini sebuah pembelaan diri, di satu pihak.

Tetapi di lain pihak, ini sebuah sentilan bagiku untuk lebih cermat, lain kali, benarkah kamus besar bahasa Indonesia memang tidak memadai, ataukah aku hanya terlalu malas menambah kosa kata.

__________________
image dari sini


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..