[Translation 101] Aku atau Saya?

Menerjemahkan buku ibarat memasak mengikuti resep asing. Aku dihadapkan pada tantangan untuk menyajikan makanan sedekat mungkin dengan cita rasa aslinya, tapi sekaligus juga harus bisa diterima lidah Indonesia. Masalahnya, belum tentu bahan dan bumbu asing itu tersedia di sini. Aku harus menggantinya dengan bahan dan bumbu lokal. (Kalau benar-benar tak tergantikan, terpaksa deh menggunakan barang impor dengan catatan kaki... hahaha). 

Nah, aku atau saya sama-sama bisa menggantikan I. Tapi kapan aku dan kapan saya? Aku biasanya mengikuti kelaziman dan kepatutan di Indonesia, selama itu tidak bertentangan dengan gaya dan tujuan penulis buku aslinya. Kalau si penulis menghendaki tokohnya bersikap kurang ajar kepada Pak Guru ya dia tidak akan menggunakan saya dan Bapak

Tapi sebetulnya kenapa sih harus mengikuti kelaziman di Indonesia? Kalau aslinya ayah dan anak sama-sama menggunakan I dan you, kenapa tidak diikuti saja dengan aku dan kau? Toh pembaca tahu ayah dan anak ini bukan orang Indonesia.

Terus terang, jawabanku bukan aturan baku. Penerjemah lain mungkin tidak sependapat. Aku hanya ingin mempertahankan nilai-nilai yang kuyakini lebih baik. Ketika kesantunan anak terhadap orang lebih tua dilambangkan dengan penyebutan nama diri dan sapaan menghormat, kenapa harus merusaknya dengan terjemahan mentah buku-buku luar. Kupikir, mereka yang ingin membaca buku asing seperti apa adanya, sebaiknya memilih buku aslinya, tak perlu terjemahan. Buku terjemahan sudah menjadi karya milik bangsa penerjemahnya. Karena bahasa dan budaya tak bisa dipisahkan, alih bahasa berarti alih budaya. (Impilikasinya luas... hehehe, termasuk di dalamnya pornografi. Yang sudah membaca The Gargoyle versi asli dan terjemahannya, pasti tahu setajam apa guntingku bekerja) 

Kembali pada Aku atau Saya...

Aku: menandakan keakraban, ketidakresmian, dan kesetaraan si pengguna dengan lawan bicaranya.
Saya: menandakan penghormatan, formalitas.

Dalam fiksi, aku menyapa pembaca, aku bermonolog, dan aku berbicara dengan tokoh lain yang setara atau lebih rendah. 

Pengecualian: 
  • orangtua membahasakan dirinya dengan Ayah/Ibu ketika berbicara dengan anak-anaknya, dan anak-anak menyebut diri dengan nama/saya;
  • guru adalah Bapak/Ibu di depan siswanya, dan siswa menggunakan saya;
  • dosen dan mahasiswa saling ber-saya/Anda;
  • kepada orang baru/tidak dikenal, kita bersaya-Anda;
  • dan dalam fiksi yang bernuansa terlalu formal, saya bisa saja lebih tepat digunakan, karena aku akan mengacaukan rasa yang sengaja disajikan penulis aslinya.

Dalam nonfiksi, umumnya saya digunakan. Penulis menyebut dirinya saya dan menyapa pembaca dengan Anda. Tapi kadang di dalamnya dicontohkan situasi tidak resmi seperti percakapan, anekdot, surat pribadi, sehingga aku lebih tepat di situ. Aku juga biasa muncul dalam nonfiksi tidak formal, atau yang ditujukan kepada pembaca lebih muda. 

Misalnya, dalam sebuah buku how-to formal, penulis konsisten menggunakan saya:

"Saya yakin Anda pernah mengalami situasi...bla...bla. Apa yang Anda lakukan ketika dihadapkan pada masalah seperti ini:.... 
(lalu ada contoh kisah suami istri yang berdialog menggunakan aku dan kau)

Perlu diingat, pasangan aku adalah kau/kamu. Jadi, akan janggal jika, "Aku akan datang ke rumah Anda." Saya-lah yang berpasangan dengan Anda.

Menarik untuk diamati: dalam bahasa Inggris, I selalu muncul belakangan setelah orang lain disebutkan: You and I, your mother and IThe King and Iyour selfish little brats and I, dst. (Konon menandakan unselfishness... ciee)

Dalam terjemahannya, kadang urutannya perlu dibalik karena... hmm, mungkin nilai rasa saja sih. Aku dan ibumu lebih enak dibaca ketimbang Ibumu dan aku. Dan jelas lebih mudah dibaca yang ini: Aku dan berandal-berandal kecilmu yang egois, ketimbang sebaliknya. 

Jadi kalau kita bilang aku dan kauaku dan diaaku dan si kancil... bukan berarti kita selalu mendulukan ke-aku-an... hehehe. Yah, walaupun gejala "aku duluan" sudah mulai menancapkan akarnya....lihat saja di jalan raya.... toloooong.

Kembali pada aku atau saya. Ya, keduanya bisa digunakan sendiri-sendiri secara konsisten, bersamaan atau bergantian, dalam satu naskah, sesuai kelaziman. Aku atau saya yang digunakan pada tempatnya seharusnya tidak perlu menjadi masalah atau dianggap kaku. Yang tidak mengenakkan pembaca hanyalah kalau aku dan saya digunakan suka-suka/tidak konsisten, contohnya seperti ini: 

Saya yakin kau tidak memahamiku. Katakan saja padaku apakah aku harus melakukannya. Saya akan menuruti katamu. 


By the way, baik aku maupun saya sama sekali tidak bisa digunakan untuk I dalam lelucon klise berikut:

When a school child said, "I is…" 
It didn't amuse the teacher. "How many times must I teach it - 'I am' not 'I is'! Now use the word 'I' in a sentence, and say it so!" 
The little pupil, obeying the instruction, said, "I am... the letter after H!"



Semoga bermanfaat.



Kupersembahkan untuk Fathin aka Yayan 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Short Stories

Spin-Off

Writing for Kids



Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

..more..

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

..more..

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

..more..