(Sketsa) Negeri Asap Raksasa Bertangan Banyak

Prolog

Kalau sketsaku, Siklus Itu Milik-Nya, sempat memenangi juara 1 Lomba Menulis Sketsa Keagamaan Depag-RI 2004, maka sketsaku kali ini yang jelas-jelas antiasap barangkali tak akan laku di media mana pun, apalagi sebuah lomba.

Dulu, aku menulis tentang
 ketabahan dan kegigihan seorang sahabat melawan DMD (Duchenne's muscular dystrophy), pelumpuhan dan pembusukan otot progresif. Presentasi tentang naskah itu di depan juri kulakukan dengan suara tersendat-sendat tercekik keharuan. Saat itu aku yakin, aku menang bukan karena gaya tulisanku, tapi karena perjuangan sahabatku itu memang inspiratif.

Dan untuk sketsa kali ini, spanduk dalam foto inilah sumber inspirasi sesungguhnya.


 

NEGERI ASAP RAKSASA BERTANGAN BANYAK


Tersebutlah sebuah negeri yang entah sejak kapan dikuasai oleh seorang raksasa. Bukan sembarang raksasa, ia berkaki banyak, bertangan banyak, bermata banyak, dan yang terutama berotak jenius.

Raksasa ini mengeluarkan asap dari setiap pori tubuhnya. Asap itu menjadi makanan pokok bagi raksasa itu sendiri dan sebagian besar penduduk negeri. Bisa dibilang sang raksasa adalah self-maintaining entity yang jelas tidak memerlukan tombol self-destruction, karena yakin tidak ada yang akan menyabot sistemnya, berhubung terlalu banyak orang bergantung padanya. Termasuk pemerintah resmi negeri. 


Asap menjadi undispensable, men-dispensable kebutuhan pokok lain seperti pangan, pendidikan, sandang, papan, dan lain-lain. Dengan sendirinya, negeri ini disebut Negeri Asap. 

Rakyat Negeri Asap terbagi menjadi 4 kasta yang komposisi jumlahnya membentuk piramida. Pengkastaan sama sekali tidak berkaitan dengan agama, kedudukan sosial-ekonomi, bahasa, dan etnis-budaya. Kasta lebih menunjukkan attitude seseorang terhadap asap. 


Di puncak piramida, kasta minoritas, adalah mereka yang menyebut diri sebagai non-asaper. Mereka menyadari bahwa asap tidak baik untuk kesehatan. Jangankan makan asap sendiri, menghirup aroma asap yang dimakan orang lain pun membuat mereka pening, berkunang-kunang, dan mual. Itu efek samping paling ringan, sebetulnya, tapi langsung terasa, sementara efek samping berat yang tidak kentara dan menyerang perlahan terlalu mengerikan untuk disebutkan di sini. Tepatnya, terlalu menyedihkan bagi non-asaper, karena terbukti mereka lebih menderita akibat dampaknya ketimbang penikmat asap sendiri. Jadi, sedapat mungkin mereka menjauhi asap dan para asaper yang sedang makan. Sedapat mungkin, karena nyaris tidak mungkin menghindari asap di Negeri Asap, bukan? 

Ketiga kasta berikutnya diduduki para asaper, tetapi dibedakan menurut toleransi dan kepedulian mereka terhadap kaum minoritas. Pada lapis kedua, yang sedikit lebih banyak dari kasta non-asaper, ada asaper yang sopan. Dia tahu bahwa asap yang dikonsumsinya di tempat umum akan terhirup oleh non-asaper dan membuat mereka terganggu dan menderita. Karena itu dia menghentikan konsumsi di tempat umum, juga di rumah. Biarlah, hanya dia sendiri yang merasakan efek samping asap, asalkan istri, janin dalam kandungan, anak-anak, remaja, lansia, dan hewan peliharaan bebas asap. Kasta ini punya cara, tahu tempat dan kondisi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka sendiri. Mereka bisa bergaul baik dengan para non-asaper. Kedua belah pihak saling menghargai.

Lapis ketiga mencakup para asaper yang tidak berpengetahuan. Mereka tidak mengerti dampak buruk asap terhadap orang lain. Tetapi, mereka masih bisa mengangguk sopan dan segera menghentikan konsumsi jika ada non-asaper yang memohon dengan memelas, sembari terbatuk-batuk, “Pak, Mas, Dik, atau Mbak, tolong mengasap-nya dihentikan dulu ya.”

Atau dengan melihat bahasa tubuh non-asaper saja, mereka cukup peka untuk mengerti apa yang diharapkan. Bungkusan asap yang tinggal sepuntung pun dikantongi untuk kesempatan lain. Sayang kalau dibuang. Mahal tahu?

Lapis keempat dengan jumlah terbanyak, adalah mereka yang tak punya toleransi sedikitpun terhadap orang lain. Bisa berpendidikan, bisa juga tidak, orang dalam kasta ini merasa makan asap adalah hak asasi. Dan hak asasi orang lain yang ingin menikmati udara bebas asap bukanlah urusannya. Negeri ini miliknya. Raksasa mengayominya. Pemerintah mendukungnya. Kamu mau apa?!


Terhadap non-asaper, dia tidak peduli. Keluarga sendiri dituntut untuk menerima dan memahaminya. Yang menunjukkan ketidaksenangan dicuek-bebek-in, atau malah dibalas dengan pelototan. Yang menegur halus barangkali dibalas dengan bentakan. Apalagi yang berkeras melarang, barangkali tinjunya pun melayang.

Namun jangan salah paham, premanisme seperti itu bisa dibilang jarang terjadi. Dalam kasta-kasta asaper, ada ayah-ayah yang baik, pekerja keras, dan sangat menyayangi keluarga. Ada dokter, apoteker, dan ilmuwan hebat yang tekun meneliti dan mencari solusi. Ada guru dan pemuka agama teladan yang sibuk menyebar ilmu. Ada politisi, pakar ekonomi, dan praktisi segala bidang yang disegani. Ada ibu-ibu rumah tangga, wanita karier, dan mahasiswi, yang berdedikasi.

Itulah keberhasilan sang Raksasa. Dengan kecerdikannya, dia berhasil membuat asap identik dengan kesuksesan, kejantanan, keanggunan, kecanggihan, kesetiakawanan, keunikan, keunggulan, keberanian, selera tinggi, kecerdikan, dan sebagainya. Asap adalah identitas bangsa, titik.

Akan beda hasilnya, kalau iklan asap dimodeli bukan oleh sophisticated gents and ladies di kantor, restoran, lapangan, dan mal-mal, melainkan oleh si mbok-mbok dari dusun pinggir kali Comal yang sudah menganggap asap sebagai peralihan praktis dan modern dari sirih-kinang. Bayangkan, tubuh bungkuk, kulit keriput, bibir dan gigi memerah-hitam oleh kinang, berkemben ala kadarnya, dan jemari gemetar menjepit lintingan asap. Mereka ada. Mereka dipengaruhi. Tapi mereka dilupakan. Kecuali sebagai konsumen.


Semakin banyak penduduk dirangkul dengan tangan Raksasa yang terus bertambah dan memanjang, semakin banyak asap dikonsumsi?menembus paru-paru mengaliri setiap pembuluh darah mendekam dalam sumsum tulang, semakin dia dibutuhkan, semakin dia tak tersingkirkan.

Sampai di suatu masa, entah siapa pula yang berhasil memulai, kepedulian terhadap non-asaper tiba-tiba meningkat.


Asap tidak lagi muncul eksplisit dalam iklan-iklan. Tapi itu sama sekali tak merugikan Raksasa, karena citra sudah terbentuk kuat. Kesan bahkan lebih merasuk dan membekas.

Peringatan pemerintah tentang bahaya asap terhadap kesehatan pun dipampang dan dicetak terang-terangan oleh Raksasa. Lebih jauh untuk ikut mempromosikan hidup sehat, olah raga di negeri ini dibuatnya berkembang dengan semburan asap. Simpati penduduk pun menguat.

Aturan pemisahan tempat bagi asaper dan non-asaper menyu
sul diberlakukan. Non-asaper sempat bersorak, mengira diagram Venn negeri ini akan berubah total. Dulu, asap menjadi semestanya, dan hanya ada dua lingkaran kecil bebas asap untuk tempat umum terbatas seperti sekolah, rumah sakit, dan rumah ibadah, serta untuk tempat-tempat ber-AC seperti bus, bioskop, dan supermarket. Kaum minoritas membayangkan aturan itu akan menciptakan semesta bebas asap, dan sebuah lingkaran kecil untuk para asaper.

Apa yang terjadi, saudara-saudara?

Ya! Semesta tetap berasap. Dua lingkaran kecil yang semula menjadi exclusive sanctuary bagi para non-asaper, kini justru harus diiris sebagiannya untuk diserahkan kepada asaper lagi. Contohnya, bus AC yang dulu tidak menyediakan tempat untuk asaper, tiba-tiba diberi sekat untuk mengakomodasi mereka. Di bioskop pun kini ada ruang khusus untuk mengudap asap. Berdinding kaca biasanya, sehingga non-asaper bisa melihat sosok-sosok samar dalam gulungan-gulungan tebal asap putih. Oh, tak terbayangkan berada di dalamnya!


Masalahnya, sering ruang-ruang khusus itu tidak sepenuhnya kedap udara. Asap merembes keluar dan mencemari tempat-tempat “bebas asap”.

Ini kekalahan telak. Nyaris pengelabuan eh pengasapan mutlak. Non-asaper semakin tak berdaya. Raksasa tertawa.

Satu lagi well-meant proposal adalah Hari Bebas “Asap” Sedunia, yang dicanangkan badan kesehatan global pada akhir Mei, tiap tahunnya. Please, please, please…, dengan mengiba meminta, cuma sehari dari setahun, yuk ciptakan semesta bebas asap. Just one day of the whole year! 1/356! Please deh. Barangkali ini the last resort. Lumayanlah, setiap 31 Mei, kita lihat saja.


Karena hasil perhitungan ekonomi pun tidak bisa dijadikan alat untuk menambah jumlah non-asaper atau dukungan terhadap mereka. Secara pribadi, mencandu asap memang membobol keuangan. Contohnya saja suami pembantuku. Ia bekerja sebagai satpam RT yang digaji sebulan Rp 300 ribu. Dengan alasan kerja malam, untuk menahan dingin, dia mengonsumsi sehari 1-2 pak asap, tapi untuk merk termurah pun dia harus mengeluarkan Rp 10.000/hari. Habislah gajinya. Bengeknya pun tambah parah. Tinggal istri marah-marah, karena menjadi sumber tunggal nafkah keluarga dan membayangkan berapa banyak uang dibakar selama sekian tahun ini.

Untuk mereka yang berpenghasilan besar, barangkali Rp 300 ribu tidak terasa. Tapi biasanya, penghasilan berbanding lurus dengan pengeluaran. Menghasilkan Rp 10 juta/bulan, barangkali menjadi pembenaran untuk membelanjakan minimal 10% untuk memanjakan diri sendiri.

Dan perhitungan ekonomi nasional malah melegitimasi Raksasa dan asaper. Asap telah menggerakkan roda perekonomian negeri. Asap menjadi sumber mata pencarian mudah bagi seluruh lapisan masyarakat. Jual asap pasti laku, di mana pun kapan pun. Jadi petani pemasok bahan asap pasti kaya. Pabrik asap juga
menyerap tenaga kerja dengan jumlah luar biasa. Mau membantah? Mau menyuruh berhenti berasap? Bagaimana nasib mereka? 


Yee, siapa suruh berhenti membeli asap. Beli saja asap sebanyak-banyaknya kalau memang itu dianggap satu-satunya cara untuk peduli nasib rakyat dan negeri. Tapi membeli dan mengasap adalah dua hal berbeda. Silakan beli tapi berhentilah mengasap. Timbun saja berpak-pak asap itu di dalam tanah, atau lakukan apalah asal jangan sampai ada asap. Pokoknya, buy and destroy!

Asaper barangkali berkilah, “Itu sih perbuatan sia-sia!”

Lha, memangnya mengasap bukan perbuatan sia-sia? Mengasap kan ibarat menggantang asap. Atau makna pepatah menggantang asap sudah berubah? Menggantang asap kini bermakna membantu menjalankan roda perekonomian bangsa? Membantu rakyat kecil? Tak apa badan rusak dan kantong jebol pun?

Kalau demikian, aku hanya bisa menghela napas, di balik sapu tangan tentunya. Apalah yang bisa kulakukan? Menulis? Untuk apa? Sudah terlalu banyak artikel, materi kampanye, esai persuasif, dan hasil penelitian, ditulis orang. Kata-kata barangkali tak lagi bermakna, apalagi mampu membuat perubahan. Terus terang, aku hampir menyerah.


Lalu di suatu siang… 

Dari dalam angkot berasap yang melaju lambat, aku melihat sebuah warung dengan spanduk berteriak lantang (lihat foto). Karena membawa anak-anak dan sudah terlalu siang, aku menelan keinginanku untuk mampir, berkenalan dengan pemilik warung, dan memberinya pujian dan penghargaan tulus.

Sungguh, melihat spanduk itu ibarat mendapati lubang kecil pada kotak tertutup penuh asap. Kutempelkan hidungku di lubang itu, mengirup udara segar dari luar sepuas-puasnya.

Baru keesokan harinya, aku bela-belain ke sana, membawa kamera pula. Aku bertemu dengan pemilik warung, seorang ibu muda dan putri kecilnya. Suaminya seorang psikolog yang menangani anak-anak korban narkoba. Spanduk itu mengibarkan prinsip dan perjuangan mereka. Mengobarkan semangatku untuk kembali menghidupkan kata.


Siapa bilang Raksasa tak melihat dan tinggal diam?

Salah satu tangannya sudah mengusik warung itu, menanyakan siapa yang mensponsori spanduk mereka. Ketika dijawab, bikin sendiri karena prinsip, tangan itu ditariknya. Tapi selang beberapa waktu, tangannya yang lain datang membawa setumpuk uang. Diberikan cuma-cuma jika pemilik warung mau temboknya dicat dan dilukis untuk mengiklankan asap tertentu. Ditolak dengan halus namun tegas, tangan itu ditarik lagi.

Tapi setiap hari tak kurang dari 20 orang asaper dari pelbagai kasta, dan dengan pelbagai gaya perilaku, datang untuk membeli apa yang tak disediakan. Seolah mereka tak bisa membaca spanduk. Seolah mereka tak percaya apa yang mereka baca. Seolah mereka menyatakan protes karena kenyamanan dan kemudahan mereka membeli asap telah terusik. Seolah mereka ingin membuktikan, dengan menjual asap, warung mestinya bisa lebih laris.

Semua dilayani dengan santun. “Maaf, kami tidak menjual itu.”

Pemilik warung menyatakan, dia pesimis spanduknya bisa mengubah keadaan. Mengubah keadaan barangkali mustahil. Tapi setidaknya, spanduk itu menggerakkan aku untuk menulis sketsa ini, meskipun bakal sama dengan menggantang asap dalam artian lama. 

Siapa tahu, sketsaku menggugah non-asaper lain yang penulis dan pemilik warung, sehingga akan lebih banyak berkibar spanduk serupa. Atau sebetulnya sudah banyak, hanya menunggu untuk ditemukan. Siapa tahu, it's not that bad.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..