Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Aku pernah membawa laptop ke taman, sambil menemani anak-anak bermain, kukira aku bisa duduk di rumput atau bangku taman dan menulis. Tapi mataku susah lepas dari gerakan anak-anak, pikiranku waswas kalau-kalau mereka jatuh atau apa… Tak jadilah aku menulis.

Aku pernah membawa laptop, atau notepad di hp, atau kadang juga sekadar pena dan kertas, ke sekolah anak-anak, siapa tahu keramaian bocah-bocah itu menginspirasiku. Oh ya memang, inspirasi mengalir dari segala penjuru, begitu deras sampai aku sulit menuliskannya. Buntutnya, aku pulang tanpa tulisan, hanya catatan mental seabreg yang setiap detiknya mrucut dan tercecer di jalan…

Aku pernah membawa laptop ke sebuah cafe yang sejuk alami dan tidak terlalu ramai. Kukira duduk di sudut dengan secangkir capucino, wi-fi menyala, aku bisa menulis ala JK. Rowling. Sesaat aku bisa berimajinasi dan menulis lancar. Namun ketika pengunjung lain muncul dalam radius 2-3 meter, aku mulai terdistraksi. Mengamati mereka tanpa sadar, menangkap ide-ide baru yang tak relevan. Maka hasil tulisanku tak sebanding dengan waktu, tenaga, dan uang yang kukeluarkan. Aah, pulang sajalah…(kalau foodcourt mall tak pernah kucoba, belum apa-apa sudah bikin pening soalnya)

Aku pernah selalu membawa-bawa bloknot dan bolpen dalam perjalanan sebagai penumpang. Kuharap aku bisa menuliskan sesuatu atau apa pun yang menarik di sepanjang jalan. Melatih diri membuat deskripsi yang detail dan meyakinkan. Tapi pemandangan justru memaku mata dan hatiku di sana, lupa kutuliskan kesanku sampai semuanya berlalu…

Aku pernah membawa-bawa voice recorder atas saran suami untuk merekam saja ide-ideku di jalan. Hahaha, ternyata lidahku kelu dan aku seperti demam panggung, malu bersuara….bagaimana aku bisa meniru penulis-penulis hebat yang memanfaatkan multimedia atau memiliki asisten pengetik kalau begini?

Aku suka sekali suara Clay Aiken, kukira sambil mendengarkan lagu-lagunya, seluruh indraku tergugah dan terjaga, lalu menambah kepekaan dan ketajaman dalam menulis. Maka, aku membuka laptop, siap menulis, dan memutar 2-3 albumnya. Oh, memang feeling itu muncul, tapi aku malah terlena ikut bersenandung… Kapan nulisnya?

Aku sering meyakinkan diri bahwa aku masih bisa lancar menulis sambil chatting dengan beberapa teman, membicarakan hal-hal yang memang penting. Tapi sering aku terpaku menunggu reply mereka…lalu waktu pun lewat tak terasa…

Aku juga meyakinkan diri, bisa lancar menulis sambil ngemil. Ternyata untuk bolak-balik ambil minum, cuci tangan, dan mengebaskan remah-remah sungguh makan waktu. Belum lagi ekstra kalori yang bikin ngantuk. Whuaaa, nggak deh.

Dan percayalah, aku mencoba semua situasi di atas dengan variasi waktu juga; pagi, siang, sore, malam, dan kadang dini hari (kecuali di sekolah dan tempat umum lainnya).

Aku masih ingin melatih diri bisa menulis dalam segala situasi, namun untuk sementara tampaknya aku masih harus mengandalkan selera asal:

Ruang kerja di rumah, tanpa gangguan, tanpa musik, tanpa kudapan, tanpa chatting, tanpa blogging, menghadap tembok, sendirian…dengan jendela dan pintu dibuka lebar-lebar karena aku nggak mau kehabisan oksigen…

Ini terutama saat deadline mendesak. Kalau waktunya leluasa, aku masih suka bereksperimen…siapa tahu menemukan situasi tepat lain untuk melejitkan kelancaran menulis…karena dalam situasi standar, kecepatan menulisku maksimal hanya 2500 kata/5 jam, atau satu cerpen sehari. Belum termasuk menyuntingnya.

Aku memang mudah teralihkan ya… Hehe.

Bagaimana denganmu, kawan? Sharing dong, mungkin bisa kucoba…

 

linked in share button


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..