Sepele tapi Bencana

Ada sebuah negeri di kaki pelangi. Sekilas pandang saja, keadaannya membuat hati trenyuh. Sepi, murung, dan lesu, bahkan di pasar dan sekolah. Kenapa? Menurut buku sejarah negeri itu, seabad lalu, terjadi duel antara rajanya dan penyihir hitam. Raja menang. Tapi penyihir hitam yang licik sempat melancarkan kutukan sebelum menghilang.
“Vocalittera!! Huruf hidup akan mendatangkan bencana bagi kalian.”
 
Kutukannya terdengar sepele. Tapi penduduk segera tahu, hidup mereka selamanya tak akan mudah lagi. Sejak saat itu, bayi-bayi diberi nama dengan rangkaian huruf mati yang sulit diucapkan. Seperti Krn, Nd, dan Snt. Toko-toko menghapus huruf hidup pada papan nama mereka. Jadi, TK BRG bisa berarti toko burung atau toko barang. Orang yang ingin membeli roti bisa keliru masuk ke toko Rita yang menjual perhiasan.
 
Huruf hidup juga harus dibuang dari percakapan. Tak heran penduduk memilih tidak berbicara. Untuk berkomunikasi digunakan bahasa isyarat atau pesan tertulis di kertas. Misalnya, “B, Nyl prg k rmh tmn. Plng sr.” Bisa kamu tebak artinya? Yah, sangat merepotkan. Walaupun penduduk akhirnya terbiasa dengan rangkaian huruf mati.
 
Kutukan itu bukannya tak pernah terbukti. Di masa lalu, banyak penduduk yang tidak percaya. Mereka menantang, “Kutukan konyol! Kami tak takut menggunakan huruf hidup. Dengarlah, A I U E O!” Seketika kilat membelah langit tanpa diikuti halilintar. Mereka menjadi batu. Bongkahan batu itu masih tegak di alun-alun, menjadi peringatan mengerikan bagi seluruh negeri.
 
Raja sekarang menjanjikan hadiah bagi orang yang bisa memunahkan kutukan. Sudah lama pengumuman itu dipajang di mana-mana. Belum ada yang menanggapi. Orang bilang, karena huruf matinya sulit dibaca. Padahal sudah jelas, tak ada yang tahu bagaimana mengakhiri kutukan itu. Penyihir hitam pasti sudah lama tiada, rahasianya pun ikut terkubur. Tak ada harapan.
 
Benarkah? Selalu ada harapan, pikir Thn. Anak laki-laki itu satu-satunya orang yang senang mengunjungi perpustakaan. Tentu saja buku-buku lama yang mengandung huruf hidup sudah dimusnahkan, diganti koleksi baru berisi huruf mati saja. Tapi Thn membaca semuanya, terutama buku sejarah tentang raja-raja lama dan penyihir hitam. Thn menemukan catatan bergambar bahwa penyihir hitam memiliki lima anak buah. Dipelajarinya gambar-gambar itu; Anubis bermata tujuh, Eagre makhluk berbentuk gelombang laut raksasa, Ikthyornis burung bergigi pembenci sinar matahari, Ocelot kucing liar penyembur api, dan Unicorn air.
 
Thn segera menyadari kunci kutukan vocalittera ada pada kelima makhluk itu. Nama mereka adalah petunjuknya. Menurut buku, makhluk-makhluk itu bisa hidup ribuan tahun. Dia harus mencari mereka. Terlebih dulu, dia menemui raja untuk mengisyaratkan temuannya. Mata raja berbinar dengan harapan. Diberinya Thn seuntai kalung emas yang terbuat dari rangkaian huruf mati. Raja mengisyaratkan bahwa kalung itu bermuatan sihir dan mengajarkan penggunaannya.
 
Thn memulai perjalanannya. Jatuh bangun mendaki tebing utara yang terjal. Hanya tekad dan semangat yang membawanya ke puncak. Seperti tertulis dalam buku, Anubis bisa ditemukannya di salah satu gua. Tampak huruf A di dadanya. Itu dia, pikir Thn. Dia menunggu Anubis pulas untuk mengambil huruf itu. Tapi dengan tujuh mata, Anubis tak pernah bisa pulas. Dia bahkan menemukan Thn yang bersembunyi.
 
“HAA! Aku tahu apa yang kamu cari,” teriaknya. “Penyihir sudah mati. Aku tak perlu menjaga A ini lagi. Akan kuberikan padamu kalau bisa membuatku pulas. Aku penat sekali, tidak pernah tidur sungguhan selama ratusan tahun.”
 
Thn mendekati Anubis dan memberinya Z dari rangkaian kalungnya. Begitu A digantikan Z, Anubis mendesah, “ZZZZZZ.” Dan tertidurlah semua matanya dengan nyenyak.
 
“Nah!” Thn tertawa. “A sdah kdapatkan. Skarang k lat!” Dengan A di tangan, Thn bisa merangkai kata camar raksasa dengan huruf-huruf sihirnya. Binatang itu menerbangkannya ke laut selatan.
 
Di sana, tampak Eagre menghantam pantai dengan gelombang raksasanya.
 
“Apa yang ka lakkan?” tanya Thn tanpa takut.
 
Eagre menatapnya dengan frustrasi. “Lihat buah-buahan ranum itu. Bagaimana aku meraihnya tanpa menumbangkan pohonnya?”
 
Thn melepaskan beberapa H dari kalungnya. Menyusunnya ke atas dan menyandarkannya pada pohon. Dengan segera susunan H itu berubah menjadi tangga. Dia naik dan memetik beberapa buah untuk Eagre. Makhluk yang gembira itu memberikan E kepadanya.
 
“Terma kash,” kata Thn. Senang kata-katanya mulai hidup. Tapi masih ada burung pembenci terang yang harus ditemuinya. Ikthyornis tinggal di tengah hutan lebat, di kedalaman sebuah lubang.
 
“Aku tahu kamu mencari I. Cari saja sendiri di dasar lubang. Aku menjatuhkannya entah di mana,” kata makhluk itu.
 
Thn merangkai kata cahaya dengan huruf-huruf sihir yang dimilikinya. Seberkas sinar menerangi dasar lubang. Burung bergigi itu menutup mata dan mengepakkan sayap dengan garang. “Pergi!” serunya memamerkan taring runcing.
 
Untunglah Thn menemukan I segera di salah satu sudut. Dia keluar sebelum makhluk itu mengamuk. “Kini ke kawah!” katanya kepada camar.
 
Ocelot mendekam di dalam kawah. Huruf O sihir melingkari lehernya. “Aku kepanasan dan haus,” katanya. WHUFF! Api menyembur ketika dia berbicara.
 
“Kasihan,” kata Thn. Diambilnya S dari kalungnya. Dilemparkannya ke kawah. Terdengar desisan sssssss. Api padam dan kawah kini tertutup es. “Asyik!” sorak Ocelot. Apinya mencairkan sebagian es. “Aku bisa minum dan main seluncuran sepuasnya! Ini, ambilah O-ku. Aku lelah menjaganya.”
 
“Tinggal sat lagi,” kata Thn. “Tapi di manakah nicorn tinggal? Tak ada informasi tentangnya, kecali bahwa ia ada di dalam air.”
 
Thn membentuk kata teropong. Dengan alat ajaib itu dia menyapu sekeliling lereng gunung. Ditemukannya sebuah danau di kejauhan. Teropongnya menembus kedalamannya. Ya, tampak Unicorn di dasarnya. Segera Thn menaiki camar menuju ke sana.
 
Di pinggir danau, Thn mengikatkan magnet di ujung tali. Dilemparkannya bentukan huruf sihir itu ke air. Beberapa saat kemudian, talinya bergerak-gerak. Dia berkutat menariknya. Magnet telah menempel kuat pada tapal kaki Unicorn. Makhluk itu terpaksa melepaskan U dari sepatunya agar bisa terlepas dari jeratan magnet.
 
Thn berhasil mendapatkan huruf hidup terakhir. Dengan senyum lebar dia berkata, “Aku Thn. Sudah kubebaskan negeriku dari kutukan. Tugasku selesai.”

Belum. Thn lupa. Dia belum menggunakan huruf-huruf temuannya untuk menghidupkan namanya sendiri. Kira-kira apa ya nama yang cocok untuknya?

 

Download gratis  e-book Sepele tapi Bencana


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..