Proses Kreatif

Ide Write Me His Story muncul sekitar awal Januari, selagi aku menulis Hexotic Cafe. Menyela, mendesak, dan mengganggu flow HC. Kalau tidak segera dituangkan, rasanya aku bisa meledak sendiri, dan HC bisa macet total.

Keidean yang lain di tengah penulisan satu buku itu biasa. Seringnya bisa kukendalikan dengan menulis saja poin-poinnya, lalu lanjut dengan tugas di tangan. Tapi kali itu, benar-benar engggak bisa diabaikan.

Wynter merasuki kepala dan hatiku. Karakternya langsung mendominasi,  mengatasi kawanan Halimun.

Teen Fiction dengan bad boy sangat klise di WP, lantas kenapa aku cari gara-gara masuk ke wilayah itu?

Apalagi Hexapack sedang bagus-bagusnya, fantasi dengan ide segar ini malah sudah mendapatkan tempat di hati seorang editor.

Wynter ngotot meyakinkanku bahwa dia berbeda. (yang sudah kenal Wynter, tahulah gimana dia kalau sudah bersikeras). Ini argumentasinya:

Karakter dan Nama

"Aku bukan bad boy yang masalahnya klise, cuma sering bolos, telat, slengean, ngelawan guru, dan digandrungi cewek-cewek karena kegantengannya. Aku punya kedalaman karakter. Dari nama saja aku sudah menjanjikan sesuatu."

Ya, memang nama Wynter muncul duluan ketimbang judul. Write Me justru diturunkan dari inisial WM, Wynter Mahardika. Dan dari WM ini pula kemudian Wynn Maharesi diciptakan.

Write Me apa? History -> His Story --> Wynn's Story

Bayangkan, tokoh utama dengan sudut pandang aku yang menceritakan orang lain, bukan sekadar cerita tentang diri sendiri dan egonya. Bukan melulu me me me me. Beda, kan?

Oke, Wynter. You got my Attention

Bromance

Sudah lama aku jengkel dengan fakta bahwa aku mulai sulit berbaik sangka pada kedekatan dua cowok. Gara-gara maraknya BL di mana-mana, aku jadi curigaan. Masa aku sampai mikir ada apa-apanya antara dua cowok roommate yang jadi tetangga apartemenku. Padahal mereka biasa-biasa saja. Nyebelin kan?

Aku harus mengembalikan "kemurnian" cara pandang dan pikirku. Persahabatan cowok-cowok itu masih ada. Lebih banyak dan kuat.

Jadi itulah yang kulakukan. Bromance akan menjadi fokus utama. Brothers Romance. Kisah kasih sayag antar-brothers. Wynter dan Wynn sudah kayak kakak adik.

Tapi perlu cewek juga. Untuk menggarisbawahi hubungan Wynter-Wynn. Untuk menjadi latar dan motivasi kedekatan mereka. Yang satu benci cewek dan satu lagi mencintai cewek ini. Namanya harus berinisial HS. Lahirlah Hyacintha Sheridani. Cewek istimewa, enggak dangkal. Enggak mudah jatuh cinta dan cuma bisa mewek. Karena kalau ceweknya begitu, pasti sudah ditendang Wynter dari awal.

Konflik dan Motif

Apa lagi sih yang dialami remaja selain konflik personal, keluarga, sekolah, dan teman/pacar?

Perang, politik, bencana, masalah sosial? Haha, bisa saja. Tapi adakah yang tertarik baca kalau menu utamanya itu? Remaja terkenal tight-minded dan near-sighted. Tertarik hanya pada segala sesuatu yang radiusnya paling jauh satu meter dari mata, kepala, dan hatinya. (Sorry to say, but it's the truth. Karena memang lagi masa-masanya pencarian jati diri)

Jadi bahannya ya itu-itu saja. Tinggal meramu dan mengolahnya yang harus beda. Diperdalam dengan pemikiran dan pengalaman saja.

Wynter punya masalah keluarga. Broken home. Tapi broken home ini harus didefinisi ulang. Bukan lagi-lagi keluarga kaya dengan orangtua sibuk, dan si remaja menjadi korban paling malang sedunia, jadi beku/pendendam karena kurang sentuhan dan kasih sayang.

Wynter harus punya andil juga dalam permasalahan keluarganya. Prasangka. Hei, remaja, jangan melulu menyalahkan orangtua. Buka mata dan hati. Iya, mereka salah, tapi ketahuilah, masalah mereka seringnya lebih dari apa yang terlihat di permukaan.

Wynn punya keluarga ideal. Tapi masalahnya adalah kesehatan. Yah, begitulah. (Ehem, sudah ada yang bikin petisi untuk nasib Wynn selanjutnya nih.)

Hyacintha punya masalah juga. Tapi belum terlihat dari sudut pandang Wynter, maklumlah, Wynter memandang dan memikirkan Hya saja baru belakangan ini. Gara-gara Neru. Hihihi.

Setting

Bandung. Bukan saja karena aku tinggal di Bandung dan lebih familier dengan situasinya. Tapi karena aku enggak mau pakai lo-gue yang bernuansa Betawi/Jakarta. Aku mau bilang, remaja enggak identik dengan lo-gue dan Jakarta-minded. Banyak pembaca remaja di mana pun berada yang lebih nyaman dengan aku-kamu.

Sekolah Internasional. Karena nama Wynter masih aneh buat anak Indonesia, ia kujadikan blasteran. Kupilih British karena aku suka nuansa tradisional dan aristokratisnya. Amerika terlalu liberal dan aku enggak suka Trump (apa pula ini...). Setting sekolah multibangsa, multietnis dan multiras menjustifikasi penggunaan bahasa Inggris, menguatkan konflik pencarian jati diri Wynter.

Aku terinspirasi juga dengan suasana di sekolah anak-anakku di Kuala Lumpur. Nongkrong menunggu mereka pulang, aku menikmati interaksi anak-anak dari 60 negara. Berbagai warna kulit, rambut, mata, beragam bahasa campur aduk dengan bahasa Inggris.

Pulau Bintan, Singapura, London-Cambridge. Aku pilih karena aku pernah ke sana. Sekalian mengabadikan memorinya di dalam cerita. Kurasakan sendiri remukan sand-dollar pada telapak kaki saat menelusuri pantai Bintan; keramaian jalan-jalan di Singapura dan terminal Tanah Merah-nya; summer-rain yang menusuk tulang di taman-taman kota London dan jalanan Cambridge; musim panas kok temperaturnya 4-11 derajat celcius. Brrr. (Ini pula sebabnya nama Wynter dan Summer muncul)

Bahasa

Bahasa mencerminkan kehalusan budi. Baku tidak identik dengan kaku. Bahasa bisa segar dan lincah, juga trendy, bergantung bagaimana kamu mengolah kata-kata biasa jadi efektif. Metafora yang unik akan memperdalam kesan dan makna.

Ibarat kendaraan, kamu akan merasakan guncangan dan ketidaklancaran kalau bahasa yang digunakan enggak efektif, muter-muter, bikin pusing. Tapi bahasa baku enggak akan terasa saat kamu dibawa meluncur mulus oleh rangkaian kata menjadi cerita bermakna.

Aku enggak mau pakai bahasa kasar yang dianggap populer dan jadi identitas remaja. Tapi bukan berarti Wynter enggak bisa memaki. Oh ya, dia pengumpat kelas kakap. Wynter terinspirasi Kapten Hadock dari komik serial Tintin yang suka dibacanya.

Plot

Terus terang, aku enggak pernah tahu ke mana Wynter membawaku tiap babnya. Sudah lama aku berhenti mendebatnya. Manut saja ia bawa ke mana pun. Aku cuma punya patokan-patokan, tiang pancang, bahwa Wynter akan begini, Wynn akan begitu, dan Hya jadi gimana. Detailnya diserahkan sepenuhnya pada Wynter sebagai narator. (Yang amit-amit rewel bawel picky!)

What Next?

 

 

 

linked in share button


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..