POV (Point of View)

Sudut pandang, Viewpoint, atau Point of View (POV), secara sederhana, adalah bagaimana penulis menempatkan dirinya dalam cerita, dan bagaimana ia menyampaikan cerita kepada pembaca. POV ditentukan saat mulai menulis. Digunakan konsisten dari awal hingga akhir cerita. Jadi tidak berubah-ubah sesukanya antaradegan. Ada beberapa  7 pilihan POV:

 

1. POV orang pertama (aku): penulis menjadi si aku dalam cerita, mengikuti pikiran dan aksi si aku. Penulis tidak bisa menggambarkan apa yang tidak dilihat si aku, tidak bisa mengetahui perasaan yang tidak dirasakan si aku. POV ini dianggap paling mudah, terutama bagi penulis pemula, karena seperti menulis diari saja. Hati-hati: Apa pun yang diketahui si aku tidak bisa dirahasiakan dari pembaca. Karena pembaca menjadi si aku.

a. POV orang Pertama konsisten di satu tokoh saja

Contoh: Write Me His Story Cerita disampaikan oleh Wynter sebagai aku. Dari awal sampai akhir.

b. POV orang Pertama, mengikuti dua tokoh atau lebih secara bergantian pada bab berbeda.

Contoh: Kutukan Ayundara Cerita disampaikan oleh Kiran, Ayutia, dan Rista secara bergantian pada part/bab berbeda, menggunakan aku.

PERHATIAN: Jika memilih "aku" untuk lebih dari satu tokoh, lakukan perubahan POV minimal saat pergantian bab. JANGAN BERUBAH DI BAB YANG SAMA, JANGAN TIAP BEBERAPA PARAGRAF GANTI POV DAN KAMU LABELI DENGAN POV SIAPA.

Kenapa?

Karena itu mengganggu kelancaran membaca. Karena pembaca itu bisa berpikir sendiri. Kecuali mereka yang terbiasa disuapi dan ditunjukkan ini POV siapa. Atau karena tulisan kamu tidak rapi, sehingga kamu sendiri bingung.

Sekali lagi, hargai pembacamu. Mereka bisa berpikir sendiri dan harus berpikir sehingga tidak perlu diberitahu ini POV siapa. Dan terlebih penting, hargai dirimu sendiri sebagai penulis, dengan membuat alur cerita yang rapi dan mudah dipahami.

Mulailah dengan membenahi pergantian POV, lakukan antarbab saja, dan cukup beri nama di judul. Lihat Kutukan Ayundara

Contoh paragraf dengan POV orang pertama:

Kupandangi punggungnya yang menjauh. Anak aneh. Apa yang ia harapkan dariku? Hidupku sudah terlalu runyam tanpa perlu ditambah apapun masalahnya. Aku turun dari pohon. Kelas Miss Jansen sebentar lagi selesai. Sebetulnya aku suka Creative Writing, tapi Miss Jansen membuat telingaku pekak dengan tegurannya tiap kali lensa matanya menangkapku. Dan kacamata yang dipakainya berlabel Wynter-the-trouble-maker-make-him-suffer. Di kelas, di depan banyak orang, aku dibuatnya populer sebagai siswa yang melakukan kebodohan, berotak cemerlang tapi bermasa depan suram, tajam mulut tumpul hati, handsome yet depressing, rajin membuang waktu, konsisten untuk tidak konsisten, dan sederet panjang oxymoron lainnya. (Write Me His Story, part 3)

POV Orang Pertama dianggap lebih mudah karena sifatnya alami. Kamu bercerita tentang dirimu, akan lebih mudah ketimbang bercerita tentang orang lain. Cocok untuk cerita yang self-centered, tokoh utama tungal, yang menggambarkan lingkungan dan kejadian secara subyektif. Dalam kasus Wynter, kita dibawa melihat dunia melalui mata dan perasaannya, yang bisa benar, bisa juga tidak.

Kekurangan POV Orang Pertama, tentu saja kamu tidak bisa menceritakan pikiran dan kejadian yang dialami orang lain. Si Aku harus mendengarnya dari yang bersangkutan.

2. POV orang kedua (kau): sangat jarang digunakan. Penulis seperti mengamati tindak tanduk si tokoh (kau) melalui teropong, lalu menceritakan apa yang dilihatnya kepada si kau juga.

Contoh:

Kau berlari mendaki bukit secepat mungkin. Kau harus meloloskan diri! Kaurasakan jantungmu berdegup kencang dan otot-otot kakimu mengejang. Sampai di puncak bukit, kau menoleh. Oh, tidak! Monster itu masih mengikutimu. Ia menggerung keras. Tak mungkin kau bisa lepas darinya. Jelas sekali monster itu marah karena tiga matanya terkena pasir lemparanmu.
POV ini biasanya digunakan untuk karya literer atau sastra.

3. POV Orang Ketiga (dia/ia), Subjektif

a. Konsisten di satu tokoh sepanjang cerita

Batasannya hampir sama dengan si aku. Bedanya penulis masuk ke dalam kepala satu tokoh saja, si dia/ia, dan mengikutinya dengan konsisten. Hal-hal di luar pengetahuan si dia, tidak bisa digambarkan, seperti pikiran dan perasaan tokoh-tokoh lain. Dengan POV orang ketiga subjektif ini, karakter dan karakterisasi satu tokoh utama bisa dieksplorasi lebih dalam dan diperkuat.

Hati-hati: Tidak mudah konsisten pada satu tokoh. Sering tanpa sadar penulis berpindah memasuki kepala tokoh lain. Diperlukan latihan dan pengalaman untuk menyadari perpindahan ini dan kembali ke jalurnya.

Contoh, Citra dalam Cermin Retak

Citra lalu membanting pintu kamar. Tidak puas. Novel tebal bersampul keras pun dilemparkannya pada cermin lemari. Retak, seretak dirinya sejak kejadian itu. Segalanya tidak sama lagi. Tubuhnya, kamar ini, buku-buku pelajaran itu, seragamnya, sepatunya, berjalan pergi-pulang sekolah, gerbang sekolah, lapangan basket, kelas, koridor, tatapan teman-teman, perhatian guru .... Semua mengingatkannya pada kejadian itu. Satu-dua menit yang telah meruntuhkan 15 tahun eksistensinya.

Dilemparkannya tubuhnya ke dipan. Ingin menangis sejadi-jadinya, berteriak lepas, dan memaki. Tapi desakan itu hanya menyumpal di tenggorokan. Sakit. Matanya nyalang menatap langit-langit. Dulu ia biasa memproyeksikan dongeng dan fantasinya di sana, kini yang diputar ulang hanyalah wajah setan itu, dengan jemari kasar .... TIDAK!! Citra memejamkan mata rapat-rapat, walau dia tahu pelupuknya sama sekali tidak kedap imaji.

b. Bergantian lebih dari satu tokoh

Penulis bercerita melalui dua atau lebih tokoh penting secara bergantian di tiap babnya. Atau berpindah-pindah pada segmen yang jelas. Eksplorasi semua karakter utama pun jadi lebih kuat. Karena pada satu bab, penulis berkonsentrasi menceritakan apa yang dirasakan, dilakukan, dan dipikirkan oleh tokoh tertentu. Termasuk pandangannya tentang tokoh lain.

menggunakan POV ini, bergantian enam tokoh utama. POV Lavender di bab 1, Brick di bab 2, dan Tiger di bab 3, dst.

Sementara pada Pangeran Bumi Kesatria Bulan, pergantian POV di subbab antara Maya dan Geo.

Hati-hati: Tokoh minor sebaiknya tidak diberi jatah POV, karena hanya akan merampas ruang untuk karakterisasi tokoh utama.

Biasanya POV seperti ini diterapkan pada novel. Jarang pada cerpen. Dalam cerpen, tokoh dan adegan terbatas, ruang gerak terbatas, lebih baik didedikasikan semaksimal mungkin untuk tokoh utama.

Contoh:

(POV Brick pada chapter 13, Hexotic Cafe)

Perasaan. Emosi. Brick sudah membaca banyak tentang hal itu. Risiko terbesar menjadi manusia. Tapi tetap saja, ia masih terkaget-kaget melihat sahabat-sahabatnya memamerkan suasana hati. Begitu meledak-ledak seperti Tiger. Tak terduga seperti Cloudie. Bocor seperti Lavender. Dan cengeng seperti Minty. Bagaimana dia sendiri? Brick menggeleng. Sejauh ini, masih aman terkendali. Tak ada yang perlu dirasa secara berlebihan.

(POV Minty pada chapter 14,Hexotic Cafe)

Minty baru menyadari cardigan yang dipakai Cloudie dan Tiger. Sinar matahari yang menembus kaca jendela memantul pada berkas perak di antara anyaman kain. Cantik, serasi, dan tampak nyaman dipakai. Ingin rasanya Minty pergi ke kamar untuk memakai cardigan hijaunya. Tapi Lavender sudah berdiri dan mengetuk meja untuk minta perhatian. Mata ungunya memandang sekeliling, tampak bahagia. Minty bisa merasakan apa yang dirasakan Lavender. Entah kapan terakhir mereka berkumpul seperti ini.

POV selanjutnya

 

 

 

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..