Please Read and Act for Aida

Aida namanya, gadis kelas 2 Aliyah di Tangerang
Cantik, berkulit putih, sehat, bercita-cita tinggi
Putri kedua/bungsu pasangan Ibu Umiyati dan Bapak M. Hasan
Sekitar akhir bulan Januari, Aida mengalami kejang-kejang
Itu yang pertama kalinya, karena sejak bayi step pun tidak pernah

Aida dibawa ke rumah sakit
Kutanya Bu Umiyati, sakit apa dia
"Saya tidak tahu. Kata dokter, Aida harus minum obat sehari tiga kali selama setahun."
Selama SETAHUN?
"Ya. Obat kejang. Tapi rumah sakit cuma memberi obat untuk 10 hari."

Setelah itu Aida membaik. Dia pulang dan bersekolah lagi.
Ketika obat habis, Ibu Umiyati menebus resep untuk melanjutkan terapi
Diperolehnya obat dengan nama dan bentuk berbeda
Heran Ibu Umiyati bertanya kepada dokternya
Dijawab bahwa obatnya sama hanya bikinan pabrik yang berbeda

Aida melanjutkan minum obat
Sebulan kemudian dia panas tinggi, dan tidak turun-turun
Dibawalah kembali dia ke dokter
Diagnosis tipes, DB, kembali negatif, panasnya tidak berkurang
Bahkan kulitnya kini merah-merah
"Jadi sakit apa Aida?"
"Saya tidak tahu. Barangkali campak, kata dokternya."

Aida tentu diberi obat untuk semua diagnosis itu
Sementara obat kejang masih disuruh diteruskan pula
Merah-merah di kulitnya menghitam
Semula dia lebih putih ketimbang ibunya, kini dia tampak gosong
Selain itu, Aida mengalami sesak napas

Aida dibawa ke rumah sakit berbeda
Bertemu dokter berbeda
Serangkaian tes diulang, darah, scan, entah apa lagi
"Hasil tes yang dulu tidak bisa dipakai kata dokter. Karena dia pengen tahu kondisi sekarang."
"Bagaimana hasil tesnya? Jadi Aida sakit apa?"
"Saya tidak tahu."

Kamis, 2 April lalu, Aida dimasukkan ke ICU.
Ibu Umiyati hanya bisa berdoa dan menangis
Suaminya tidak memiliki penghasilan tetap
Dia sendiri tidak lagi bekerja karena harus menunggui Aida
Walaupun tidak mampu dia lama-lama di ruangan
Tak tahan melihat keadaan putrinya

"Aida akan pulih, sabar ya Nak. Mama solat dulu."
Begitu alasan Ibu Umiyati agar bisa keluar dari kamar
dan menangis di lorong
Hari kedua di ICU, Ibu Umiyati masih belum tahu
Apa penyakit Aida?
Berapa harga kamar semalam?
Apa yang harus dilakukannya?

Disuruhnya suami mencari keterangan
Bolak-baliklah Pak Hasan dari lantai tiga ke satu ke tiga lagi
Dari satu bagian ke bagian lain
Berapa harga kamar semalam?
Mereka tahu pasti mahal, itu saja sudah membuat takut
Tapi ketidakpastian lebih menakutkan lagi

Pak Hasan kembali kepada istrinya dengan tangan hampa
Entah dia tidak menemukan orang atau bagian yang tepat
Entah bagaimana
Pertanyaan mereka belum terjawab

Aida masih terbaring di ICU sampai hari ini
Bu Umiyati masih menunggu di lorong 
Kadang dia sengaja turun ke lantai satu tanpa menggunakan lift
Lewat tangga agar setiap anak tangga bisa dihitungnya
dengan istigfar dan dzikir

"Saya dan suami hanya orang-orang kampung bodoh."
Aku terdiam. Sebodoh apa pun mereka, mestinya dokter bisa menjelaskan
dengan bahasa awam, sakit apa putrinya, tindakan apa yang diambil
Apakah ada kaitannya dengan obat jangka panjang yang diminum Aida?
Sebodoh apa pun mereka, pihak rumah sakit seharusnya bisa menjelaskan
Berapa harga kamar semalam, adakah keringanan untuk rakyat miskin

Pada akhirnya, aku dan Ibu Umiyati mencuri dengar
Seseorang dari askes berbicara kepada keluarga lain
Kamar ICU semalam Rp 751.000, dan askes membayar 500.000, sisanya ditanggung sendiri
Pucat wajah Bu Umiyati. 
Aku bisa menduga, tidak ada askes

Sampai hari ini kondisi Aida belum ada perubahan
Kalaupun ada, apakah ada yang menyampaikannya kepada orangtuanya?
Sakit apa Aida dulu, yang menimbulkan kejang?
Sakit apa Aida sekarang?
Memang dokter tidak tahu segala
Dia hanya mendiagnosis, trial-error mengobati gejala

TAPI.....
Rasanya aku ingin berteriak
Banyak situasi buruk bisa dicegah jika praktisi kedokteran dan farmasi 
mendulukan nurani ketimbang komisi dan keuntungan
Mengedepankan komunikasi dan wajah ramah
Tidak bisa dipungkiri banyak pasien bahkan tidak berdaya
Memercayakan sepenuhnya tubuh dan jiwa mereka di tangan dewa pengobatan

Di lain pihak, ketika bahan parasetamol seharga cuma Rp 15-30 ribu/kg
Setelah diolah dan dikemas dan diiklankan di TV dengan model terkenal
Dan diresepkan dokter-dokter* yang berpartisipasi menentukan dan mengejar target penjualan
Harga per 500mg bisa menjadi..... silakan survei pasar, berapa sebutir parasetamol bermerek dagang?
Setinggi itukah ongkos produksi?
Dan itu baru parasetamol....
Betapa dunia kedokteran dan farmasi menjadi semakin jauh, tak tersentuh rakyat jelata

Seperti Aida dan kedua orangtuanya
Yang hanya bisa berpasrah diri dan menganggap ini sebagai cobaan Tuhan
Tak sedikitpun terlintas dalam benak mereka gugatan terhadap dokter, rumah sakit, apalagi farmasi
Tidak sama sekali
Mereka hanya ingin tahu, kenapa? berapa?

Dan pada akhirnya, bagaimana?
Bagaimana mereka bisa membayar biaya pengobatan Aida?

Teman-teman yang budiman dan dermawan
Setidaknya kita bisa berdoa untuk mereka
Lebih jauh, kita bisa memberikan bantuan finansial kepada mereka, SEGERA. Sedikit dari Anda, berarti banyak bagi mereka. 
Bagi teman-teman yang bersedia, melalui PM akan kuberikan nomor flexi Bu Umiyati, dan alamat rumah sakit tempat Aida dirawat, dan kalau perlu nomor rekening transit pengumpulan dana**

Terima kasih telah membaca dan berempati.

_______________________________
Dari pengalaman pribadi, aku yakin tidak semua dokter begini, masih banyak di luar sana dokter-dokter yang baik. Aku mengenal beberapa di antaranya yang sampai sekarang masih memberikan jasa konsultasi murah, tidak terburu-buru memberi obat terutama antibiotik, kalaupun harus ada obat, dipilihkannya yang murah, dan dia memberikan nomor hpnya agar bisa dihubungi setiap saat.
Tapi aku juga sudah meninggalkan beberapa dokter yang gelagatnya menyebalkan: memberikan obat yang tidak perlu (seperti vitamin kepada bayi 2 bulan yang sehat dan asi ibunya lancar), obat terlalu keras (dosis untuk anak 4 tahun lebih besar ketimbang untuk 
12 tahun), sulit ditanya-tanya, mengharuskan cek lab ulang di lab miliknya, dsb.

** Ini nomor rekeningku di BCA:
1391456092
an. Ary Nilandari
KCP Cimahi

Insya Allah, tahap pertama, berapa pun yang terkumpul, akan aku sampaikan pada hari Rabu 8 April 2009


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Short Stories

Spin-Off

Writing for Kids



Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

..more..

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

..more..

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

..more..