Perjodohan Penulis dan Ilustrator

Khusus untuk buku anak-anak yang didominasi ilustrasi, aku selalu berpesan kepada penerbit untuk dijodohkan dengan ilustrator yang bisa bercerita melalui gambarnya. Alhamdulillah selama ini, aku telah bertemu dengan para ilustrator yang dengan indah memperkaya bukuku. Artinya, mereka tidak sekadar membeo kata-kataku dengan gambar, tapi ikut bercerita melalui gambar.

Di lain pihak, mereka juga menghormati keinginanku bahwa si bangau ini harus berkaca mata dan bersyal merah, bahwa si tante itu tidak setua yang dibayangkan ilustrator. Coba deh roknya diganti celana panjang, sepatu hak tinggi diganti kets. Dan tolong, gambarkan pemandangan angkasa luar di jendela, daripada kosong begini. (Oh ya, aku cerewet dalam hal ini).

Untuk cerita anak sedikit kata, penulis mau tidak mau menyerahkan sebagian besar unsur cerita pada sang ilustrator. Tak banyak ruang untuk menguatkan karakter tokoh, memberikan deskripsi detail tentang tempat dan waktu, apalagi menggambarkan adegan laga. Itu tugas ilustrator.

Nah, ketika dua kreator bertemu, penulis dan ilustrator, pastilah terjadi benturan dan belakangan kompromi. Picture book yang bagus adalah hasil perpaduan ini:


 

  • penerbit yang baik. Yang memberikan peluang pada penulis untuk menentukan jodohnya sendiri. Atau kalau tidak, penerbit memberikan beberapa alternatif ilustrator untuk dipilih. Penulis akan memilih berdasarkan parade contoh ilustrasi, mana yang dirasa paling cocok dengan imajinasinya. Setelah itu, biarkan sepasang soulmates ini bekerja sama. Idealnya, tidak memburu-buru dan memberikan reward yang bagus untuk keduanya (he he he).

 

  • penulis yang baik. Yang mau bekerja ekstra, menuliskan di luar cerita seperti apa halaman demi halaman yang dibayangkannya. Ini akan jadi patokan bagi ilustrator dan mempercepat kerjanya. Sering ilustrator tak punya waktu untuk membaca cerita sampai tuntas. Tapi jika ilustrator menikmati tulisannya dan ingin berkreasi penuh, penulis harus memberikan kebebasan padanya.

 

  • ilustrator yang baik. Yang mau membaca dulu cerita dengan saksama. Memahami apa yang ingin disampaikan penulis. Menangkap apa yang bisa ditonjolkan. Dan tidak sekadar menerjemahkan saja kata-kata penulis ke dalam gambar. Ilustrator harus bisa menggambarkan apa yang tak tersampaikan dengan kata-kata. Ilustrasinya harus mengungkapkan sesuatu yang baru.


Asyik kalau penulis bisa merangkap sebagai ilustrator. Apa yang diimajinasikannya bisa ia tuangkan dalam kata sekaligus ilustrasi. Aku sendiri paling payah dalam menggambar. Contoh penulis-ilustrator hebat adalah Maurice Sendak. Bukunya, Where the Wild Things Are akan menjadi contoh bagus ilustrasi yang bercerita.

Dalam buku itu, Sendak menceritakan Max, yang meninggalkan tempat tidurnya untuk mengunjungi pulau yang dihuni bangsa monster. Max mengalami petualangan seru yang mengharuskannya tinggal lama di pulau. Ketika akhirnya Max kembali ke kamarnya, kita bertanya-tanya, berapa lama dia pergi. Apakah petualangannya benar-benar terjadi?

Anak-anak yang jeli akan melihat bulan di luar jendelanya kini purnama dan memasuki fase lain. Beberapa hari telah berlalu. Mereka menyukai analisis semacam ini dan menjadi ahli membaca gambar dalam buku.


Contoh lain adalah perjodohan Paul Jennings dengan Jane Tanner, dalam buku mereka, The Fisherman and The Theefyspray. Buku itu bercerita tentang ikan Theefyspray terakhir di dunia. Makhluk malang itu nyaris punah ketika sebuah peristiwa ajaib terjadi. Sebagai pembaca, kita tak ingin bayi ikan ini mati.


Jane menggambarkan bayangan di permukaan air yang belakangan kita sadari ternyata sebuah perahu. Kemudian, kita melihat kaitan pancing degan umpan. Teks tidak menyebutkan semua ini sama sekali. Akhirnya dalam gambar yang sangat dramatis kita lihat bayi ikan ini memakan umpan. Tak ada kata-kata pada halaman ini. Teks tidak dibutuhkan. Gambar sudah menceritakan segalanya.

Jane memodifikasi gambarnya sesuai dengan permintaan Jennings dalam beberapa hal. Dan Jennings mengubah teks menuruti permintaannya. Jennings akan selalu ingat, katanya, nada marah Jane di telepon. Waktu itu Jane sedang menggarap halaman yang berbunyi, "Dia melemparkan Theefyspray kembali ke air."

"Paul," kata Jane. "Ini laki-laki banget. Tulislah, 'Dia memasukkan Theefyspray kembali ke dalam air.'"

Jennings menurutinya. Dan Jane menggambar ilustrasi menakjubkan dua tangan kasar dengan lembut menurunkan Theefyspray kembali ke dalam air.

Namun, kata Jennings, pada akhirnya, penulislah yang harus memastikan bahwa ilustrasi dan teks bekerja sama untuk membantu pembaca memahami cerita.

______________________________
tulisan ini kupersembahkan untuk para ilustrator yang pernah berjodoh denganku, yang sudah datang jauh-jauh, yang sudah mengobrol lama di telepon, yang terkadang harus bekerja dua kali, bahkan yang belum pernah bertemu muka: 

Iwan Nazif, Ade Wawa, Rachman, Dini, Bintang, Tommy, dan Budi Riyanto Karung. Terima kasih. What a great talent you have!


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..