Penulis Juga Punya Voice

Suka mendengarkan Il Divo? Aku suka banget. Semua albumnya, aku koleksi. Semua lagunya, aku suka. Mereka berempat dan aku hapal suara masing-masing karena keunikannya. Urs Buhler berbeda dengan Sebastien Izambard, David Miller, dan Carlos Marin. Apa kaitan Il Divo dengan topik writing craft kali ini? Selain bahwa suara mereka menemani aku menulis… hehehe.

Begini. Penyanyi dikenali terutama dengan kekhasan suaranya. Iya kan? Anda akan tahu itu suara Celine Dion, Ruth Sahanaya, Anggun C.Sasmi, Raisa, atau Afghan ketika lagu mereka diperdengarkan. Baik di mall, restoran, angkot, bahkan di penjual CD bajakan di pinggir jalan yang memutarnya dengan volume maksimal.

Jenis/warna suara akan membedakan satu penyanyi dengan penyanyi lain. Sementara tingkat penguasaan teknik olah vokal  menunjukkan kelas si penyanyi apakah ia seorang diva atau penyanyi kamar mandi.

Ini tak ada bedanya dengan penulis. Bayangkan, Anda disodori novel tanpa nama penulis. Anda baca, dan Anda tahu itu tulisan Jonathan Stroud, Michael Crichton, Paul Jennings, Enid Blyton, atau Lucy Maud Montgomerry. Karena Anda suka  dan sering membaca karya-karya mereka,  Anda hapal dengan kekhasan gaya tutur mereka, Meskipun novel itu belum pernah Anda baca sebelumnya, Anda yakin atau setidaknya mempunyai feeling kuat tentang penulisnya. Itulah voice atau suara penulis.

Memang jauh lebih sulit bagi kita mengenali suara penulis ketimbang suara penyanyi karena bergantung pada tingkat “kecintaan” dan “kedalaman” kita membaca karya-karya penulis yang bersangkutan. Tapi suara itu ada. Penulis yang hebat mempunyai voice yang bisa dikenali. Terlepas dari kuantitas karyanya. Karena ada kok penulis dunia yang hanya menerbitkan 1-2 karya, tapi begitu istimewa dan berbeda, sehingga kata-katanya dikutip dan diingat sepanjang masa.

Oke…. itu kan penulis dunia. Bagaimana dengan penulis seperti kita? Apakah tidak terlalu muluk membayangkan kita juga punya voice yang bisa dikenali pembaca?

Mungkin terasa jauh dari jangkauan, mengawang-awang, tapi bukan mustahil. Dan voice itu bisa diperoleh dan dilatih secara bertahap. Mulailah dengan:

1. Look into yourself. Gali keunikan diri sendiri dalam memandang dan menyampaikan sesuatu.Seratus orang yang berada di sebuah pantai yang sama seharusnya bisa menghasilkan 100 kesaksian yang berbeda tentang pemandangan di sana. Itu berkaitan dengan sudut pandang, preferensi, pengalaman hidup, kreativitas, dan kepribadian masing-masing. Pemandangan pantai dan laut begitu kaya, tak akan habis diceritakan oleh 100 orang dengan cara berbeda. Kenapa harus jatuh pada penggambaran itu-itu lagi, dengan kata-kata usang seperti ombak memecah pantai, matahari memerah tenggelam di ufuk? Gali pengalaman Anda. Ingat emosi Anda sewaktu berada di sana. Aktifkan panca indra. Dan wham! Anda dapat menyajikan keindahan pantai dengan suara Anda sendiri yang murni dan orisinal.

2. Jangan tergelincir pada klise. Aku pernah menyunting 100 naskah antologi bertemakan ibu. Tak lebih dari 20% yang melakukan nomor 1 di atas. Sisanya terjebak pada cara penggambaran yang sama betapa ibu selama 9 bulan susah payah mengandungnya, bahwa kasih sayangnya besar sekali, bahwa dirinya belum berbuat banyak untuk membalas jasa ibu. Oh well, 100 orang yang berbeda yang tentunya punya ibu yang berbeda mengatakan hal yang sama. Dan itu akan dibaca oleh ribuan orang lain di luar sana yang jelas sama-sama pernah dikandung selama 9 bulan oleh ibunya. Dan para ibu itu sama-sama mengalami masa sulit mengandung dan melahirkan. Come on, what’s new?

Sebagai pembaca, aku ingin mendengar yang berbeda dari pengalaman yang sama. Dan setiap penulis seharusnya punya sesuatu yang berbeda untuk dipersembahkan kepada pembacanya. Voice. So, sing! Jangan membeo.

3. (Tak bosan-bosannya): Banyak membaca. Analisis, pelajari, cara penulis hebat itu menyampaikan idenya. Anda mungkin akan terpengaruh pada awalnya. Meniru gaya penulis favorit. Tidak masalah. Di audisi American Idol juga banyak tuh yang mencoba menyanyikan lagu lama dengan suara yang mirip penyanyi aslinya. Tapi kalau ia punya voice yang khas, Jimmy Levine melatihnya untuk mengeluarkan karakternya sendiri. Dan muncullah penyanyi berkarakter dengan lagu khusus untuknya. Tahapan penulis meniru penulis favoritnya biasanya sudah muncul di usia belia..Dan kita memaklumi ini sebagai tahapan belajar. Namun anak-anak itu harus dibimbing/dilatih untuk memunculkan suaranya sendiri dan ide-ide orisinalnya. Bagaimana dengan penulis yang baru memulai tahap ini setelah dewasa? Speed up! kerja keras berlatih untuk memunculkan diri.

Cukuplah tiga itu dulu untuk provokasi diri.

Reach deep into yourself.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..