Pembaca bagi Penulis

Banyak di antara kita “beruntung”, menjadi penulis yang membaca, pembaca yang menulis, dan sudah merasakan keajaiban di kedua sisi. Namun demikian, itu tidak memudahkan penulis menerima dan memahami reaksi negatif pembaca terhadap bukunya. Penulis cenderung defensif dan lupa bahwa sebagai pembaca, kita juga bersikap kurang lebih sama. Yaitu punya standard penilaian sendiri yang berpangkal pada fakta bahwa:

  1. Keberadaan pembaca sangat penting, tanpanya apalah arti buku yang ditulis. Bukankah tujuan utamanya untuk dibaca? Dan asal tahu saja, di dunia ini, atau setidaknya di negeri kita, lebih banyak penulis ketimbang pembaca. Jadi pembaca adalah entitas tak ternilai, indispensable.
  2. Pendapat pembaca itu valid dan berdasar, setidaknya bagi dirinya sendiri. Apa pun itu, dari pujian setinggi langit hingga cacian menyakitkan hati. Hei, dia pembaca, bukan penulis yang harus berbahasa elok agar enak dibaca. Tugas pembaca adalah menikmati bacaan. Titik. Salahkan buku kalau ia tak bisa menikmatinya.
  3. Selera adalah bahasa pertamanya. Walaupun belum tentu ia tahu apa yang diingininya saat akan membeli buku. Biasanya baru nyadar kalau sudah baca. Semakin kuat dengan “sense seleratif” atau sebaliknya, merasakan pengalaman baru yang asyik dengan membaca sesuatu yang berbeda.
  4. Uang yang dikeluarkannya untuk membeli buku harus kembali utuh berupa kepuasan. Kepuasan sama dengan menemukan apa yang dicari dan diharapkannya. Dan itu bisa macam-macam. Dari sekadar hiburan sampai pencerahan. Dari sekadar membunuh waktu di ruang tunggu, sampai kesembuhan sakit giginya hanya dengan membaca. (Jadi tahu kan kenapa di ruang tunggu dokter gigi, cukup ditaruh majalah saja? Warning untuk novelis! Kalau dia mau baca novel, pasti bawa dari rumah)
  5. Ia cerdas. Jadi wajar sajalah kalau merasa jengkel dengan tulisan yang menganggapnya bodoh.
  6. Waktunya untuk membaca terbatas. Buku yang kita tulis dengan proses paaaaanjang sampai melupakan banyak M (makan, minum, mandi, mertua, mmm…)  hanya mendapatkan perhatiannya 1-2 hari sebelum beralih ke buku lain. No hard feeling.

Itu gambaran umum tentang pembaca. Lebih detailnya, ada beberapa jenis pembaca, yang tentunya perlu direspons berbeda oleh penulis:

Pembaca “Friendly” (=temannya penulis ^_^)

Ia terlalu sopan untuk mengkritik tulisan teman. Mencari-cari hal positif untuk dipuji secara terbuka di medsos dan menyembunyikan kerutan kening dan kekecewaan. Apalagi kalau bukunya dikasih gratis oleh penulisnya sendiri. Apalagi kalau si pembaca ini juga sesama penulis, yang tahu susah payahnya menulis, dan yang berharap mendapatkan perhatian balik ketika bukunya sendiri terbit nanti.

Sebagai penulis, kita perlu masukan positif dari siapa saja, share dan likes di medsos membantu meningkatkan kepercayaan diri. Tetapi jangan terlena. Jangan berpuas diri dengan readership ini semata. Kemampuan kita belum teruji kalau hanya mengandalkan pembaca dari kalangan sendiri.

Pembaca Umum (It’s a jungle out there)

Buku Anda akan dimutilasi, dicacah, dicincang, down to each word. Satu dua pujian bisa saja mampir, tapi bersiaplah dengan seribu celaan. Dari masalah typo yang tidak penting banget, sampai masalah yang mungkin timbul akibat kesalahapahaman pembaca sendiri. “Ini novel jelek banget. Fantasi kok begini.” Padahal buku Anda adalah novel realistik psikologis. Beruntung kalau kita menemukan kritik salah paham ini dan bisa meluruskan, sering kita tahunya setelah sekian lama. Setelah buku itu punah dari pasaran.

Atau,  “Kapok dah baca, merusak hari saya! Gak rekomended deh. Rugi…bla bla bla….” Padahal cuma masalah selera yang diiakui pembaca di baris terakhir review-nya. Hehehe.

Menyebalkan memang, tapi ingat 6 aturan utama di atas. Pembaca berhak berpendapat. Kata-katanya penting. So, jadikan saja sebagai bahan introspeksi. Kalau hanya satu dari sekian banyak pembaca yang salah paham, mungkin bisa diabaikan. Tapi kalau banyak dan berulang, perlu kita evaluasi tulisan kita sendiri, kok bisa membuat orang salah paham. Mungkin kita yang salah menyampaikan. Maksud tak sampai karena keterbatasan kita dalam teknik menulis. Perbaiki saja. Tak perlu merasa down, ngambek, “mutung”, tak mau menulis lagi. Atau yang lebih membuang waktu, membuat status defensif dengan mencela pembaca ybs, mengatainya sok tahu, sok pintar, tidak sopan, dan berlanjut dengan ratapan tentang sulitnya menulis, betapa orang tidak menghargai…bla bla….

Stop. Kuatkan mental. Berpikir positif. Ada kritik berarti ada pembaca. At least. Dan dari onggokan abu itu muncullah Phoenix baru yang lebih cantik….. cieee bahasanya!

Kalau Anda mau tahu kejamnya hutan rimba, tengoklah Goodreads. Bacalah review-review  1-2 bintang yang ditulis oleh pembaca umum yang bukan penulis/editor/penerjemah. Bahkan penulis besar dan sukses di dunia dapat bagian review pahit juga.

Tapi di komunitas pembaca seperti itulah, Anda bisa mendapatkan penilaian sebenarnya. Karya Anda teruji di sana. Pembaca yang kritis, pembaca yang santun dan objektif, pembaca yang jeli, juga banyak di sana. Mereka adalah sekutu Anda untuk meningkatkan kualitas karya.

Pembaca Kritis, Objektif, dan Santun

Kita beruntung kalau mendapatkan readership seperti ini.  Apalagi pembaca yang paham benar menganalisis karya, berpengalaman dan jeli melihat kelemahan dan kelebihan. Dengarkan kata-kata mereka. Pertimbangkan saran-saran mereka untuk perbaikan pada karya selanjutnya.

Sebagai pembaca, ehem, aku memilih menjadi yang seperti ini. Tentu saja aku membaca berdasarkan pertimbangan selera, mood, waktu, dan faktor-faktor lainnya juga. Tetapi kalau diminta secara profesional mereview, aku lebih suka menyampaikan kritik dan pujian secara pribadi.

Pembaca Orangtua

Sebetulnya mereka lebih menjadi orangtua daripada pembaca. Memilah-milah dan membeli buku untuk anak mereka. Dari sekadar skimming hingga mencermati tiap gambar dan kata. Sensornya peka luar biasa. Apalagi bagi orangtua yang tujuannya menjadikan buku sebagai mitra pendidik. (Wow, suatu kehormatan bukan? Banyak penulis bacaan anak dengan senang hati berusaha memenuhi standar itu. Tapi banyak juga yang sedikit “nakal”, ingin mencuri hati anak dan menghiburnya saja, jadi tidak peduli dengan pesan moral yang dituntut orangtua untuk dieksplisitkan… hehehe, kayak aku)

Untuk penulis yang anti mainstream, ada risiko buku Anda disebut “tidak bermoral” eh, dipertanyakan, “Mana atau apa pesan moralnya?”….

Wajar…. Literasi anak memang dipenuhi standar berbeda-beda. Yakini apa yang kita yakini. Terima masukan. Pertimbangkan. Belajar lagi. Yakini apa yang kita yakini. Proses lagi. Di dalamnya tentu ada usaha menyampaikan apa yang kita yakini dengan ilmu dan kesantunan. Dan mungkin dalam prosesnya, Anda akan menemukan formulasi yang tepat untuk merangkul orangtua sekaligus anak-anak mereka.

Pembaca Anak

Di satu sisi ada benarnya orangtua berdiri di antara anak dan buku dengan tameng terangkat. Aku juga melakukan itu, hanya tamengnya bolong-bolong dan miring-miring. Hahaha. Karena aku percaya anak-anak. Karena aku pernah menjadi anak-anak. Karena aku penulis bermoral. Dan karena buku–meskipun dapat memberikan kesan mendalam–risikonya tidak sedahsyat visualisasi orang dewasa yang dijejalkan kepada anak melalui film/animasi. Buku, untuk sampai pada kesan dahsyat perlu pengalaman dan kecanggihan pembaca dalam menginterpretasi dan berimajinasi. Dengan kata lain: satu kalimat yang dianggap mengerikan oleh orangtua belum tentu menghasilkan visualisasi yang sama dalam benak anak. Itu bergantung pengalamannya, juga bergantung konteksnya. Buku lebih aman bagi anak ketimbang video. Dan literasi visual anak menjadi hal penting untuk diperhatikan.

Di sisi lain, pembaca anak adalah yang paling jujur. Meskipun orangtua, penulis, penerbit, berbusa-busa mempromosikan sebuah buku, mereka punya mekanisme seleksi sendiri yang kadang susah dipahami orang dewasa. Di hadapan anak, penulis itu sama, tak peduli apakah pernah menang lomba, menyabet aneka award, atau baru muncul kemarin sore (lha kan jelas, yang memenangkan penulis adalah juri dewasa, jadi kriterianya juga beda). Kadang satu gambar kecil di cover membuat anak-anak jatuh cinta dan tak mau lepas dari buku tersebut. Kadang warna berperan. Kadang karakter yang mewakili dirinya menjadi faktor penentu. Bisa jadi yang disukai anak sebetulnya adalah suara Ayah/Ibunya ketika membacakan satu buku. As simple as that. Anak lalu mengasosiasikan kebahagiaannya saat itu dengan buku yang dipegang. Maka, dimintanyalah dibacakan sampai tujuh kali dalam semalam.

Bukan berarti aku menafikan peran penulis dan ilustrator. Buku bagus selalu stands out of the crowd. Tapi pada buku anak, penulis jangan ge-er banyak-banyak dulu deh ketika bukunya disukai anak sampai kucel. Banyak faktor penyebabnya. Ge-er berlebihan bikin lengah. Jika anak sudah lebih besar, dapat mencerna buku secara mandiri, dapat menyampaikan hal-hal yang disukai atau tidak disukainya, dan cenderung memilih buku berdasarkan nama penulis, bolehlah kita salto. Selamat untuk kita Justru inilah penghargaan terbesar bagi seorang penulis bacaan anak.

Salam kreatif…..

Catatan Definisi

  1. Pembaca yang kumaksud di sini adalah orang yang memegang buku, membolak-balik halaman, dan membacanya baik secara cepat maupun cermat untuk menangkap gagasan penulis. Orang yang hanya membaca judul belum dapat disebut pembaca. Orang yang hanya melihat sekilas satu halaman yang dishare di medsos, menurutku, juga bukan pembaca. Memang ada fenomena orang-orang yang berkomentar panjang tentang buku secara keseluruhan hanya dengan membaca judul atau sepotong informasi yang dishare di medsos. Untuk yang seperti itu, penulis tak perlu ambil pusing.
  2. Penulis adalah orang yang menulis–satu kata, kalimat, paragraf, artikel, cerita, atau buku–hasil pemikirannya sendiri yang ditujukan untuk dibaca publik. Selama ia copas, ia bukan penulis.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..