PELIK: Behid the Scene

Karena banyak yang bertanya tentang prosopagnosia dan gimana awalnya aku bisa keidean soal itu, jadi aku ceritain deh.

Prosopagnosia beneran ada. Diperkirakan, 2,5%  manusia di bumi menderita kelainan ini. Bukan penyakit yang ditimbulkan oleh virus atau bakteri, yang dapat menyerang siapa saja. Melainkan kelainan pada komposisi/susunan otak.

Bisa bawaan lahir, bisa juga akibat kecelakaan yang mencederai otak.

Bisakah disembuhkan? Entahlah.  Penelitiannya masih berjalan. Memang belum lama ditemukan karena penderitanya kebanyakan enggak sadar punya masalah. Prosopagnostik sejak lahir mungkin sudah begitu terbiasa mengenali orang dari tanda-tanda selain wajah. Kalau ia gagal mengenali, orang sekitarnya paling menganggapnya pelupa, sombong, pemalu, dsb.

Karena pada dasarnya, kita semua pernah mengalami "lupa". Sementara mengenali wajah sudah dianggap identik dengan kenormalan mata. Selama enggak tunanetra,  asumsi kita, orang pasti bisa lihat dan ingat wajah. Padahal mengenali wajah bukan cuma tugas mata. Harus ada bagian otak yang menyimpan informasi fitur muka dikaitkan dengan nama. Nah di situ masalahnya. Ternyata bagian otak ini pada setiap manusia beda-beda. Kebanyakan punya dan normal. Sebagian orang punya tapi kapasitasnya kecil (mudah lupa, mudah tersesat), dan sebagian lagi sama sekali enggak punya, kaya Rayn.

Aku pernah baca, ada seorang model cantik yang mengidap kelainan ini. Dia enggak sadar kecantikannya, bahkan enggak bisa ngenali dirinya di foto-foto majalah, kecuali dari pakaian yang dikenakan. Nasib baik untungnya yang membuat dia ditemukan agen pada usia 16 tahun dan diorbitkan jadi model populer. Aku lupa namanya. Enggak kesimpan artikelnya waktu riset. Dicari lagi enggak ketemu. 

Karena susunan otak manusia bervariasi, tingkat keparahan prosopagnostik pun beda-beda. Selain enggak ngenali muka sendiri, ada juga yang sampai enggak ngenali arah. Gangguan visual parah kalau ini. Jadi ada kasus, prosopagnostik yang kalau keluar rumahnya, baru beberapa meter saja, ia sudah "lupa" jalan pulang.  Ekstrem ini. 

Aku enggak pakai yang ekstrem buat Rayn. Kasihan. Enggak ngenali wajah sendiri saja sudah sangat gimanaaaaaa gitu. Ngenes.

Sebelum lihat pengumuman kompetesi BWM2,  karakter Rayn sudah ada di kepalaku. Aku simpan dulu idenya karena sedang menulis Write Me His Story dan Hexotic Cafe.  

BWM2 genrenya komedi romantis yang bikin baper. Bagaimana Rayn yang bikin ngenes ini diposisikan dalam cerita komedi? Ya udah, aku kasih dia tugas bikin kalian baper. 

Sementara untuk yang komedinya, aku ciptakan Ardi. Gimana sejauh ini? 

Berhasil enggak dua cogan ini bikin baper dan ketawa? 

Oke, lebih jauh tentang prosopagnosia, kamu bisa googling sendiri. Artikel dalam bahasa Indonesia enggak banyak sayangnya. Waktu aku riset, banyaknya menemukan artikel bahasa Inggris. Sampai tercengang-cengang deh lihat dokumentasi penelitian, wawancara, kisah-kisah para penderita, dll. Mereka punya semacam komunitas dan support group juga.

Gimana sih sampai terpikir itu?

Awalnya, keidean karena aku sendiri punya kesulitan mengingat wajah orang. Aku harus berkali-kali ketemu orang yang bersangkutan dan ngobrol intens, baru ingat wajah dan namanya. Kalau cuma sekali dan basa-basi saja, dijamin besoknya ketemu pun aku enggak ingat. 

Tapi aku enggak prosopagnostik. Cuma "pelupa" yang wajar, walau bikin enggak nyaman karena sering dianggap sombong. Padahal aku sama sekali enggak sombong loh. Suer.

Gara-gara sering kejadian yang bikin malu ini, kepikirlah Rayn. Gimana kalau ada cowok enggak bisa ingat wajah teman-temannya? Bukan karena dia ice boy, bad boy, cover boy, ceo boy, play boy, golden boy .... hihihi, tapi ya karena suatu kelainan. Semacam color blind, enggak ngenali warna.

Aku mulai search dengan kata kunci buta wajah, face blind. Dan voila! Ternyata ada. Prosopagnosia namanya. Susah ya nyebutnya? Itu sebabnya nama Rayn kubuat susah juga. Haha, just kidding.

Rayn Xavier Wrahaspati (dibaca kurlebnya: Rein Savier Rahaspati), sebetulnya mudah aja sih. Memang perlu waktu untuk membiasakan menyebutnya. Sama kayak prosopagnosia itu.

Karakter Rayn semakin jelas tergambar, menjadi sosok  tiga dimensi di kepalaku saat aku browsing-browsing cogan. Eaaaaaa. Siapa yang enggak lakukan itu? Ish, hayo ngaku!

Nemu ini. Masaki Okada.

 

        

Cocok banget lah buat Rayn. Lembut, polos,  .... dst. 

Seterusnya, everything falls into place. 

Judul awal ceritaku ini LOVE IS FACE BLIND. Tapi editor cantik di BWM mengarahkan judul harus satu kata dalam bahasa Indonesia plus tagline.

Dan jadilah PELIK: haruskah aku relain kamu dengannya?

Tagline itu siapa yang ngomong? Banyak yang nanya dan menduga-duga. Keep guessing. Baca dan dukung terus ya.

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



PELIK: Behid the Scene

PELIK: Behid the Scene

..more..

Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..