Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

Dalam kemacetan, angkot itu berjalan pelan, mungkin tak lebih dari 10 km/jam, tapi anak itu kesulitan melompat ke pintunya. Dia berlari-lari kecil di trotoar, berkali-kali mengambil ancang-ancang, tapi berkali-kali juga meragu dan batal meloncat. Usahanya mulai menarik perhatian penumpang, termasuk aku dan sulungku.
 
“Kelihatannya bukan anak yang biasa ngamen,” komentar ibu-ibu di sampingku. 
 
Ya, aku sependapat. Anak lelaki itu–mungkin usianya tak lebih tua dari anakku, Irfan (14)–memakai kemeja putih bergaris yang masih rapi dan bersih, dimasukkan ke dalam jeans abu-abu berikat pinggang. Rambutnya lurus pendek, tersisir rapi, seperti baru mandi. Wajahnya cukup tampan dan imut dengan kulit putih segar. Barangkali dia tidak akan terlihat mencolok di mal-mal atau lingkungan sekolah, tapi berlarian mengikuti angkot sambil memegang gelas plastik bekas air mineral, begitu kikuk ketika mencoba naik…. dia pemandangan luar biasa.
 
Kontras dengan temannya yang sudah terlebih dulu melompat naik, dan kini berdiri di pintu angkot dengan mantap dan percaya diri, mengguncangkan alat musik buatan dari tutup-tutup botol dan bernyanyi sumbang, “Cintaaaa oh cintaaaa…” 
 
Tidak seperti si imut yang berlarian di luar, anak ini bertubuh kecil kurus, berkulit gelap, dan secara keseluruhan tampak lusuh, kusam, bahkan kotor. Khas penampilan anak jalanan. Apalagi ketika di sela-sela nyanyiannya, dia memaki-maki temannya yang belum juga bisa naik. Bahasa Sunda yang digunakannya kasar. Jelas tidak ada empati sama sekali.
 
“Kayaknya anak di luar itu diajak ngamen untuk ngisi liburan sekolah,” lagi-lagi ibu di sampingku berkomentar. Nada kesalnya ditujukan pada anak kucel di pintu angkot yang masih menyanyi dan memaki.
 
Aku menghela napas prihatin. Beberapa penumpang lain mulai tertawa. Kuakui pemandangan itu lucu, tapi hatiku terasa perih. Hal ini sampai terjadi saja sudah merupakan kedzaliman. Potret ketidakberdayaan masyarakat segala lapisan, termasuk aku di dalamnya. Apa yang bisa kulakukan? Sebatas tidak memberi uang kepada mereka, karena aku percaya pemberian justru menjadi penarik dan pengikat anak-anak itu untuk tetap di jalanan. Sebatas mengurus anak-anakku sendiri dengan baik. Tak lebih.
 
Apa bedanya aku dengan sopir angkot, yang hanya berfokus pada kemudi dan jalan di depannya? Sopir angkot hanya berhenti jika ada penumpang naik dan turun. Anak pengamen yang takut-takut bukan urusannya. Toh, si anak kucel itu mungkin duluuuu sekali juga begitu, waktu awal-awal turun ke jalan. Mungkin bahkan pernah jatuh, tapi lama-lama bisa canggih juga.
 
Kuamati sulungku. Irfan masih memutar badan untuk mengamati si imut di luar. Wajahnya sulit kubaca. Aku berharap situasi ini bisa membangkitkan kepekaan sosialnya, mengasah kecerdasan emosionalnya…
 
Atau setidaknya, dia bisa membandingkan dirinya dengan anak-anak itu, dan bersyukur. Pergaulan di sekolah dan lingkungan rumah hampir selalu menempatkannya di posisi “kurang beruntung”. Dengan kacamata remajanya, anakku melihat dirinya tidak seperti teman-temannya yang serba wah dan mudah mendapatkan segalanya. Di SMP, teman-temannya sudah dilengkapi dengan blackberry, sepeda motor, pakaian, sepatu, dan aksesoris branded. Sementara aku dan suamiku lebih suka membelikannya buku dan barang-barang fungsional saja.
 
Dari buku-buku parenting yang kuterjemahkan, aku mengerti bahwa menjadi remaja bukan hal yang mudah. Tekanan hormon, tekanan teman sebaya, membuat dunia anakku jungkir balik begitu saja. Kesalahpahaman dengan orangtua mudah sekali terjadi, potensial meletus kalau tidak disikapi dengan kepala dingin. Oh believe me, sudah 2-3 tahun ini aku memiliki remaja, tapi aku masih saja terkaget-kaget setiap harinya. 
 
Kami berdua terperangkap di angkot sesak, di jalanan macet, hari Jumat menjelang magrib, di akhir pekan menjelang Natal, juga akibat interaksi “unik-menantang” seorang ibu dengan remaja putranya.
 
Sudah beberapa hari belakangan, ponsel Irfan nge-hang tak bisa dinyalakan lagi. Ponsel sederhana itu dibeli dengan uang tabungannya sendiri dibantu bonus lebaran dari kami. Waktu itu dia menginginkan ponsel lain, tapi tidak terjangkau. Aku menekankan “fungsional” bukan “gaya”, maka dengan terpaksa, Irfan memilih SE Spiro. Kukira bukan salahku, kalau ternyata jenis ini ada bugs-nya. Sudah dua kali ini hp Irfan harus diservice. Meski masih dalam garansi, bolak-balik ke BEC bukan hal yang mudah. Aku bekerja, Irfan sekolah. Selalu tertunda. 
 
Dan remaja tanpa ponsel, jelas bagaikan alien terisolasi dalam botol bersama lebah pemarah. Akhirnya, pada Jumat siang itu, aku tak bisa lagi menunda. Tapi karena malamnya aku kurang tidur dan Bandung pasti macet, aku malas mengemudi. Kami naik bus dari Kotabaru Parahyangan ke pusat kota. Berharap pulangnya bisa naik bus yang sama. Sayangnya, kami ketinggalan bus itu sorenya, dan terpaksa naik angkot.
 
Kesempatan jalan bersama anak-anak biasanya selalu menyenangkan. Tapi kali ini aku menemani alien yang sudah cukup lama diperam bersama lebah, dan berada di lingkungan gemerlap dengan aneka ponsel, kamera, ipod, netbook, dan segala tetek-bengeknya. Maka dengung ketidakpuasan dan kemarahan menusuk-nusuk telingaku sepanjang sore itu. Salah satunya adalah pertanyaannya yang membuat aku terenyak tak bisa menjawab, “Kenapa Irfan dapat Spiro sementara Ibu dapat Xperia?”
 
Kukira jawaban karena Ibu bekerja dan membeli ponsel berdasar prinsip fungsi juga, atau karena Irfan belum perlu ponsel seperti itu, atau fakta bahwa ketika Ibu remaja, boro-boro punya hp, tak akan memuaskannya. Jawaban apa pun tidak akan memuaskannya. Dan faktanya, Irfan bukan bertanya, dia tidak membutuhkan jawaban, dia hanya mengungkapkan rasa frustrasi menjadi remaja yang belun punya kontrol penuh atas hidupnya. Seiring waktu, dengan bertambahnya usia dan kematangannya, kuharap anakku menyadari hikmah pengasuhan kami. Dan kalau sudah mentok begini, aku hanya bisa berpaling kepada-Nya, memohon tuntunan-Nya bagi anakku.
 
Di jalan pulang itu, di angkot sesak itu, kukira Allah langsung memberikan pelajaran untuknya. Melalui dua anak sebayanya. Si imut
yang akhirnya menyerah, tidak jadi melompat naik ke angkot kami. Si kucel yang marah besar dan menyalahkan si imut karena ternyata tidak ada seorang penumpang pun memberinya uang. Kalau dua-duanya kucel, mungkin efeknya tak sedramatis ini. Tentu sulit bagi Irfan membayangkan dirinya sebagai si kucel, tapi dia pasti bisa mengidentifikasikan diri dengan si imut. Dan dibandingkan dua anak itu, Irfan memiliki segalanya.
 
Mendadak anakku tidak marah lagi. Turun dari angkot, kami disambut hujan. Ojek baru ada satu. Irfan dengan sikap gentleman-nya menyuruh aku naik lebih dulu. 
 
Alhamdulillah, ya Allah, terima kasih untuk pelajaran unik dan indah ini. 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..