Teori dan Kiat-Kiat Parenting Itu...

Sejak 1998, selama satu dekade menjadi penerjemah/editor, aku menghasilkan 120 buku yang didominasi tema parenting dari A sampai Z. Mulai dari kiat-kiat mendidik anak sejak dalam kandungan (yang bikin aku menyesal baru baca ini setelah anak-anak lahir...hehe); bagaimana menghadapi tantrum batita dan balita (sebagian kiat memang ampuh benar); bagaimana berpisah dengan anak seusai cuti melahirkan; bagaimana melatih anak-anak tidur terpisah, potty training, dst; sampai hal-hal yang bikin menyesal jilid dua, seperti paparan tentang 7 kesalahan orangtua; menyesal jilid 3 seperti daftar anugerah terindah yang seharusnya diberikan kepada ananda; sampai yang sering bikin frustrasi karena ternyata ada banyak jurus untuk bikin anak begini begitu; sampai yang bikin deg-degan seperti urusan remaja. Tidak berhenti sampai situ, gelombang teori parenting berikutnya datang mengandung IQ, EQ, SQ, dan kecerdasan majemuk di judulnya. Lalu ya ada lagi tentang mode-mode belajar anak.
 
Untungnya aku keburu pensiun menerjemahkan sebelum muncul trend otak kanan, otak kiri, dan otak tengah... dan ah ya, sidik jari.
 
Don’t get me wrong. Aku bukan antipati dengan buku-buku parenting. Sebagian besar (walau tidak semua) buku itu memberikan argumentasi yang bagus dan basis kuat dari penelitian dan pengamatan. Ditulis oleh para pakar di bidangnya pula. Banyak kiat yang kuterapkan dan berhasil. Banyak pemikiran yang menjadi basis saat aku menulis bacaan untuk anak. Tapi banyak juga kiat yang tidak memberikan efek. Aku terhibur dengan pesan-pesan dari pakar/penulis di buku-buku itu bahwa parenting adalah common sense. Parenting adalah pekerjaan yang hasilnya tidak langsung kelihatan. Dan parenting adalah orangtua yang belajar pada anak sejalan pertumbuhannya.
 
Belakangan aku pernah diminta menjadi ghost writer untuk pakar parenting/motivator dalam negeri yang merasa kurang pandai menulis. Apa yang disampaikannya di seminar-seminar ternyata merujuk pada buku-buku yang kuterjemahkan itu. Jadi, ya buku-buku itu telah banyak membantu orangtua dan calon orangtua. Karena tak ada sekolah resmi untuk menjadi orangtua.
 
Dan belakangan lagi, orangtua yang mengikuti seminar-seminar parenting sang pakar itu bisa berbagi juga kepada orangtua lainnya dalam bentuk seminar dan workshop pula. Menggunakan bendera dan jargon yang sama atau berbeda total, tapi sama lakunya. Siapa bilang menjadi orangtua itu mudah? Jadi, siapapun yang bisa menunjukkan jalannya pasti akan disambut hangat. Siapa pun yang pandai menyampaikan dan mengemasnya menjadi sesuatu yang menggugah pikiran. Pakar atau bukan pakar.
 
Di lain pihak, sejalan dengan peningkatan penggunaan Internet, parenting bukan hal asing. Di medsos banyak orang menulis ulang teori yang dibacanya, berbagi pengalaman pribadi dalam pengasuhan, dan menunjukkan hasil-hasil dari pola asuhnya.
 
Di lain pihak lagi, sejalan dengan melejitnya keberanian dan kelebayan di medsos, banyak orang memanfaatkan apa saja untuk mensukseskan agenda pribadinya, entah itu jualan, pencitraan, pengin terkenal, atau sekadar mengumpulkan like. Bisa dengan pamer, merendahkan orang lain yang tidak sejalan, memaksakan pendapat, memanfaatkan rasa takut orang, mengobarkan kebencian, menyulut perang, dsb.
 
Dan parenting tidak luput dari hal-hal semacam itu. Yang jadi korban adalah para orangtua sendiri, dan pada gilirannya anak-anak pula yang jadi kelinci percobaan penerapan teori yang menjanjikan hasil instan dan cure for all. Perang antar-ibu juga tidak ada habisnya. Kerja vs tidak kerja. ASI vs. Pasi. Homeschooling vs Sekolah reguler. Normal vs. Cesar. Lalu para bapak pun ikutan nyinyir, merasa lebih berpengalaman dalam urusan melahirkan. Endless list. Apa enggak capek gitu ya? Outrageous.
 
Dear orangtua, calon orangtua....
 
Sampai sekarang tetap belum ada sekolah resmi menjadi orangtua. Barangkali kalaupun ada yang mau bikin, bakal bingung, kapan dimulainya. Jelang nikah? Telat lah! Harus jauh-jauh sebelumnya. Karena parenting itu ilmunya luaaaaaas banget penuh dengan variable bebas, kondisi if-then (jika maka), dan probabilitas. Jadi kapan dong? Sejak SD? Sejak anak mengerti perannya sebagai laki-laki dan perempuan dan kelak jadi bapak dan ibu?
 
Lalu siapa yang akan jadi gurunya? Apakah yang anak-anaknya sudah selamat dan sukses jadi orang? Apa ukuran suksesnya? Siapa yang berhak menentukan standard? Meskipun begitu, buku parenting semakin banyak. Teori parenting semakin ramai dan lucunya malah saling bertentangan. Dan kian marak status-status provokatif untuk menjunjung satu teori dan meruntuhkan yang lain. Semakin banyak pula bad news, kasus ekstrem, dan hoax dijadikan pembenaran atau gong penarik perhatian.
 
Siapa yang masih dan semakin bingung menjadi orangtua padahal anak-anak sudah gede-gede? Siapa yang menyesali pola asuhnya selama ini hanya karena membaca sharing teman tentang keberhasilan mendidik anak di TL? Siapa yang semakin ketakutan dengan masa depan anaknya padahal ia baru lahir kemarin sore?
 
Mungkin ini bisa membantu. Tiap kali bingung, menyesal, marah, iri, dan ketakutan, silakan ingat rumus ini:
 
Parenting (teori atau kiat-kiat) = A + B + C + D + E
 
A = pengalaman pribadi mengasuh anak sendiri
B = pengalaman pribadi diasuh oleh orangtuanya dulu
C = hasil membaca buku parenting/menghadiri seminar parenting/ilmu psikologi/teori ilmu pendukung/penelitian/pengamatan sesuai pemahamannya.
D = basis agama menurut interpretasinya sendiri
E = agenda pribadi.
 
Apa pun namanya, apa pun jargonnya, kiat-kiat parenting yang Anda dapatkan dari buku, artikel, status, seminar, mengikuti rumusan 5 komponen itu, yang semuanya bervariable bebas dengan kadar berbeda-beda. Gunakan common sense (akal sehat). Dari rumus itu saja sudah kelihatan, kita tidak bisa menerapkan satu kiat plek sama dengan hasil yang akan plek sama. Anaknya berbeda dengan anak Anda. Pola asuh yang Anda dapatkan dari orangtua berbeda dengan pola asuh si “pakar”. Bahkan antar suami istri saja, pola asuh bisa bertolak belakang dan sering harus bernegosiasi. C dan D jelas bergantung pada pemahaman dan interpretasi masing-masing. Dan E? Hanya si penulis teori/status dan Allah yang tahu.
 
Jadi, kita boleh mengambil manfaat dan pelajaran dari cara-cara parenting orang lain. Tapi jangan terlalu silaulah dengan kata-kata yang bertaburan mutiara lalu menganggapnya mutlak benar apalagi ketika kadar D-nya tinggi. Dan kalau kita tidak bisa menerapkannya, lalu merasa menjadi orangtua paling buruk. Atau kalaupun kita menerapkannya, ternyata hasilnya berbeda dan kita menganggap ada yang salah dengan anak sendiri. Ingat bahwa setiap kiat, setiap pengalaman yang berhasil, sudah melalui trial-error yang entah mengorbankan apa saja, dan tidak diceritakan.
 
Kenali anak-anak sendiri. Akrabi mereka. Sadari kelemahan diri sebagai orangtua. Belajar parenting itu paling ampuh dari anak-anak sendiri. Setiap anak lahir sebagai pribadi yang unik. Bahkan kakak beradik saja membutuhkan gaya parenting yang berbeda. Bagaimana mungkin kita seenaknya menerapkan bulat-bulat parenting untuk anak orang lain dan menuntut hasil yang sama?
 
Teori, kiat, dll. hanyalah rujukan. Kita punya agama untuk panduan dengan interpretasi masing-masing. Dan terutama kita punya Tuhan yang kita mohonkan untuk terus menjaga dan melindungi anak-anak kita. Pada dasarnya, sehebat apa pun teori parenting yang kita miliki, tak akan lebih berpengaruh dari penjagaan-Nya. Tak akan lebih menolong ketimbang kemudahan dari-Nya.
 
Sudahi perdebatan yang tidak perlu. Logout. Mainlah bersama anak-anak. You will learn something from them.
 
Dan untuk Anda yang berbagi cara-cara pola asuh di medsos, siapa pun Anda, terima kasih sudah berbagi. Anda hebat sudah menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak Anda, dan anak-anak Anda tumbuh sesuai harapan. Selamat. Mungkin kiat-kiat Anda bisa diterapkan orang lain dan menghasilkan efek yang sama. Tapi bisa juga tidak. Terima kasih untuk menghargai orangtua lain yang masih struggle mencari cara yang pas bagi anak-anaknya sendiri. Terima kasih untuk tidak meremehkan peran dan usaha mereka. Terima kasih untuk tetap humble karena keberhasilan Anda semata-mata adalah karena anak-anak Anda. Berterima kasihlah kepada mereka.
 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..