Not Just Another Job: Menuliskan Kisah Nyata Diana dan Abi

Pertama menerima order menuliskan sebuah kisah nyata, di benakku hanya ada, “It’s just another job. Memang bukan menerjemahkan, bukan menyunting pula, tapi selama masih berkaitan dengan tulis-menulis, I can do this.”

Asalkan aku tak dituntut banyak keluar rumah, meninggalkan anak-anak. Itu syarat nomor satu. Biasa kugelar di awal penawaran. Dan biasa jadi alasan pihak pemilik order untuk mencari penulis lain. He he he. Itu pula yang membuat tawaran dari sebuah rumah produksi terkenal di Jakarta mrucut dari genggaman. Biarlah…. Habisnya, untuk menulis buku ensiklopedi anak muslim nusantara saja harus standby di Jakarta ketika naskah itu difilmkan. Untuk menjaga kesesuaian skrip film dengan buku, kata mereka. Make sense. But freelance has a deeper meaning for me than just selling my services to employers without a long-term commitment to any one of them. 

Jadi, meskipun aku tahu menulis kisah nyata seseorang bisa berarti menguntit ke mana pun orang itu pergi, bersikukuh aku menegaskan, “Aku tinggal menulis saja di rumah kan?” 

“Oh ya. Wawancara sudah kami lakukan. Lengkap. Ini rekamannya.” 

Kuterima dua buah kaset, total durasinya 2-3 jam. Mudah-mudahan tape player kuno di rumah tidak ngadat, gara-gara lama dibiarkan menganggur dan berdebu sejak mp3 player dan voice recorder hp menggantikannya.

Alhamdulillah, rekaman bisa kudengarkan 2-3 kali sebelum si minicompo itu akhirnya ngebledug. DHUG! Lengkap dengan percikan bunga api segala! 

Aku termangu. Bukan memikirkan compo yang tamat riwayatnya. But I should have known better; mana ada kisah kehidupan nyata yang bisa dijejalkan dalam dua kaset, lalu dijadikan buku 200 halaman.

Diana, wanita dalam kaset itu, begitu sistematis dan kronologis menceritakan proses pengobatan putranya. Abi, 8 tahun, yang mengidap leukemia limfoblastik akut (ALL), dibawanya dari satu dokter ke dokter lain, dari pengobatan alternatif ini ke pengobatan alternatif itu, dari justerapi yang menjanjikan ke kemoterapi yang menakutkan. Sampai suatu ketika, Diana mendapatkan pencerahan tentang terapi sedekah untuk menyembuhkan penyakit. Pola ikhtiarnya pun berubah dan pelbagai hikmah diperolehnya.

Sedikit sekali emosi yang bisa kutangkap dari wawancara. Transkrip yang kubuat terbukti hanya berisikan fakta. Anehnya, ketika kuceritakan kembali apa yang kudengar dari kaset kepada suamiku, suaraku bergetar. Aku tercekik keharuan. Subhanallah kuucapkan dengan serak. Air mata tiba-tiba mengaburkan pandanganku.

Aku sadar, yang mendengarkan wawancara adalah aku sebagai penulis, tepatnya sebagai pekerja yang menganggapnya just another job. Sementara yang menceritakan kembali adalah aku sebagai ibu, yang tahu benar rasanya menghadapi anak sakit. Jangankan leukemia, anak demam karena flu saja resah dan cemasnya mengiris-iris dada. 

Maka, aku, si penulis-pekerja dan ibu, memutuskan untuk bertemu sendiri dengan Diana.

Mengatur pertemuan dengannya menjadi perjuangan tersendiri bagi aku dan penerbit. Sms tak dijawab. Telepon tak diangkat. Dua minggu mengendap.

Dan ketika akhirnya pertemuan itu terjadi di rumahnya, wawancara lanjutan dilakukan. Kali ini aku menggunakan pdaku untuk merekam.

Apa yang kucari? Emosi. Dan itulah yang kurasakan terjadi di belakang bendungan sana. Emosi bergulung dan menderu, menghajar dan mengempas. Namun sosok jangkung kurus itu kukuh bergeming.
Rekaman kudengarkan di rumah. Isinya lagi-lagi hanya fakta. Sedikit yang baru, banyak yang mengulang kaset. Why? Aku tidak terampil mewawancarai? Ataukah ada sesuatu yang menahannya?

Anyway, pertemuan langsung dan rekaman tambahan itu memudahkan aku menyusun lima bab. Tapi rasanya tetap saja ada yang kurang dan jauh dari indah. Dua minggu lagi berlalu.

Pertemuan kedua aku dengan Diana diatur di kantor penerbit. Kami berdua sendirian di ruang meeting dengan sebuah laptop. Editor menghendaki kami bekerja sama saat itu juga untuk memperbaiki naskah, kalau perlu sampai sore, yang penting selesai. Ditunggu. 

Aku mengerang. Aku ini penulis dapur, terbiasa bekerja di belakang sana with my own space and pace, tanpa penonton, tanpa gangguan, tanpa tekanan. Kata-kata justru tak keluar jika diperah paksa. 

Diana berempati. Kami mengobrol santai. Sehari-hari. Tertawa. Lalu beberapa pertanyaan sensitif kuajukan. Diana menghela napas. 

“Aku sebetulnya mau menyerah. Tak usahlah bikin buku segala. Tak ada yang menarik dari kehidupanku. Itu sebabnya aku beberapa minggu kemarin seperti menghilang. Tapi penerbit gigih mengejar dan meyakinkanku. Jadi, yah dicoba sajalah. Cuma, buku ini tujuan utamanya adalah meyakinkan orang tentang sedekah dan betapa Allah itu Mahaindah dan Pemurah dalam pertolongan-Nya. Aku juga nggak mau buku ini membuat orang-orang tertentu merasa disudutkan.” 

“Oke,” sahutku ringan. “Kukira, aku bisa mengatasinya. Katakan saja mana yang off the record.”

Diana mengangguk. Dia kemudian bercerita tentang hidupnya. Sebuah drama yang belum pernah kubaca analoginya dalam literatur. Aku tak berani menyela, apalagi menyalakan recorder. Laptop terbuka menganggur. Aku seperti mendengarkan curhat seorang sahabat. 

Sisi penulis-pekerjaku sibuk merekam dalam memori dan berkali-kali menggumam, “I knew it! It’s not that simple!” atau “What a life! Pasti jadi rebutan banyak TV untuk mensinetronkannya, kalau dia mau.” 

Ketika semua tampaknya sudah tuntas diceritakan, Diana tampak lega dan berkata, “Yang tadi itu semuanya off the record ya?”

Gedubrak! Kalau di komik manga, aku pasti sudah terjengkang dengan mata terbelalak dan mulut menganga lebar, banyak bintang dan benang kusut bertaburan di sekeliling kepala. Aku baru saja diminta membuat novel mengharukan tanpa ada tokoh antagonis dan konflik!

“Oke,” akhirnya aku menjawab. “I’ll see what I can do. Maybe I can get around…..

Ketika editor datang untuk meninjau perkembangan, “Beres kok, tenang saja, nanti kami selesaikan,” kata Diana.

“Di rumah,” tambahku. Editor menyerah, memberiku waktu lagi.

Hari-hari berikutnya, aku menemui Diana di rumah sakit. Mengikutinya makan siang. Menguntitnya ke sekolah. Menumpang di mobilnya. Mengamatinya berinteraksi dengan banyak orang. Cerita semakin banyak mengalir. I got a better, clearer picture of her. I got less and less of the material for the book. 

Tapi aku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari Diana dan caranya yang elegan menghandle konflik. Dia mengingatkan aku pada alang-alang yang diterpa hujan badai. Meliuk membungkuk mengikuti empasan angin. Ia tidak patah. Akar pun tak tercerabut. 

Aku belajar banyak pula dari Abi. Bocah kuat luar biasa dalam banyak hal. Leukemia dan kemoterapi di satu sisi kehidupannya; es krim, sepeda, bola, komik Avatar Aang, di sisi lain. Dzikir Asma Allah dan doa menyatu dalam erangan ataupun tawanya.

Buku kisah Diana dan Abi tidak lagi menjadi just another job. It’s a milestone of my career as a writer.

Buku itu kini sudah di tangan penerbit untuk setting dan naik cetak. Mengikuti kemauan Diana, buku itu dijuduli: Untuk-Mu Aku bersedekah: Perjuangan Seorang Ibu dalam Proses Penyembuhan Putranya dari Leukemia.

Aku hanya berharap, aku telah menuliskan yang terbaik untuk mereka.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..