Momo

Genre: novel fantasi (young adult)
Pertama kali diterbitkan 1 Januari 1973, dalam bahasa Jerman
Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh J. Maxwell Brownjohn
Diterbitkan oleh Puffin Books, 1984
paperback, 238 h.
_____________________________________________________

Ada teka-teki bagus dari buku ini (h.138) untuk membuka review-ku:

All dwelling in one house are strange brothers three,
as unlike as any three brothers could be,
yet try as you may to tell brother from brother,
you'll find that the trio resemble each other.
The first isn't there, though he'll come beyond doubt.
The second's departed, so he's not about.
The third and the smallest is right on the spot,
And manage without him the others could not.
Yet the third factor with which to be reckoned
Because the first brother turns into the second.
You cannot stand back and observe number three,
For one of the others is all you will see.
So tell me, my child, are the three of them one?
Or are there but two? Or could there be none?
Just name them, and you will at once realize
That each rules a kingdom of infinite size.
They rule it together and are it as well.
In that, they're alike, so where do they dwell?

Kalau mau, silakan tebak. Tapi nggak juga nggak papa. hehe. Aku juga nggak pake berhenti untuk mikir jawabannya. Baca aja terus, dan jawaban itu muncul. Baru deh baca ulang si riddle itu dan manggut-manggut. Smart. Ende-nya pinter. Penerjemahnya hebat. (lha iya, susah lho nerjemahin teka-teki/puisi agar rima dan iramanya terjaga!)

Ini ceritanya:

Momo adalah seorang anak perempuan yang tinggal di reruntuhan amphitheatre, asal-usulnya misterius. Dia menjadi bagian penting dari masyarakat sekitar reruntuhan itu karena dia punya kemampuan luar biasa untuk mendengarkan. Benar-benar mendengarkan sehingga setiap orang yang curhat kepadanya, mendapatkan pencerahan dan berhasil memecahkan masalahnya walaupun Momo tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Go and see Momo!" menjadi ungkapan seakrab "how are you doing?" bagi masyarakat. Dan Momo menjadi teman bagi semua orang, terutama Beppo, si penyapu jalan yang jujur, dan Guido, anak laki-laki tampan cerdas yang bekerja sebagai guide dan pendongeng.

Kedamaian mereka terganggu oleh Men in Grey, perwakilan dari Timesavings Bank. Laki-laki serba kelabu dari pakaian hingga kulit ini ada di mana-mana, tapi tidak ada di mana-mana. Mereka unrecognizable, tapi bekerja efisien menyebarkan gagasan penghematan waktu. Orang-orang dibujuk untuk menabung waktunya di bank dengan iming-iming bunga menggiurkan, seperti kalau kita menabung uang.

Men in Grey ini lalu membuat orang lupa tentang mereka tapi tidak tentang tekad menyimpan waktu sebanyak mungkin untuk digunakan di masa mendatang. Pelan-pelan, pengaruh jahat mereka mencengkeram seluruh kota.

Tak ada lagi kegiatan "buang-buang waktu" seperti bermain, melamun, mengunjungi sahabat, memelihara binatang, berkebun....dsb. Imajinasi mati. Tidur pun dianggap merugikan.

Pada kenyataannya, semakin banyak waktu dihemat, semakin mereka merasa kekurangan waktu. Karena Men in Grey sebetulnya menyedot habis waktu yang tersimpan agar mereka bisa terus hidup. Waktu disimbolkan oleh Ende sebagai bunga lili, kelopaknya dikeringkan untuk dijadikan cerutu dan diisap para lelaki kelabu itu. Tanpa cerutu itu, mereka musnah.

Momo dengan bakat istimewanya menyadari keberadaan Men in Grey, bahkan mengetahui rencana mereka, ketika salah satu lelaki itu tanpa sadar "curhat" pada Momo.

Bagaimana Momo menyelamatkan kotanya, sahabat-sahabatnya, dan waktu yang dipersonifikasikan sebagai Profesor Secundus Minutus Hora? Sementara Men in Grey tentu saja tidak tinggal diam, dan menggunakan segala cara untuk mengintimidasinya.

Michael Ende menggunakan fantasi dan simbolisme untuk menggambarkan permasalahan nyata seperti sifat dan pentingnya waktu, kekuatan dan keajaiban cerita, persahabatan, kasih sayang, dan hal-hal kecil tapi menyenangkan yang membuat hidup layak dijalani.

Pokoknya indaaaaaaah banget. Orangtua dan anak-anak perlu baca buku ini. Juga yang mengaku penulis buku anak. hehehe.

Buku ini disebut Lost Book, karena susah katanya ditemukan di Amerika. Yang kupunya ini terbitan UK. Tapi rasanya sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Covernya sama dengan edisi Spanish, gambar kota.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..