Moga Bunda Disayang Allah

Ini novel ketiga Tere-Liye yang kubaca tiga hari berturut-turut. Rasanya anti klimaks setelah membaca BBS dan HSD. Entahlah, padahal di sini tak ada suara-suara Tere yang menyelaku dalam membaca. Mungkin karena ada beberapa hal yang tidak klik dengan pengalaman pribadiku dan hasil bacaanku selama ini. Aku jadi protes di beberapa tempat, contohnya, "Aku seusia Bunda HK, tapi nggak bakalan deh manggil pemuda 27 tahun dengan sebutan 'anakku'" atau "aku nggak suka tokoh Karang, nggak natural". Atau aku mendapat kesan orangtua Melati tidak optimal berusaha, di zaman yang jelas jauh lebih maju ketimbang masa Hellen Keller. Dst.
Anyway... aku tetap memuji cara bertutur Tere. Way to go!


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..