Memberdayakan Buku Anak

Memberdayakan Buku Anak

Oleh Ary Nilandari

Makalah untuk Lokakarya 12 Jam bersama IKAPI

Menggagas dan Melejitkan Buku Anak

Jakarta, 25-26 Mei 2012

 

Titik Awal dan Titik Tujuan

Menurut KBBI, melejitkan berarti menaikkan ke tempat yang lebih tinggi (seperti nama, kedudukan, dsb). Buku anak, saya batasi, mengacu pada buku komersial karya asli kreator dalam negeri yang ditujukan untuk anak, dan mencakup semua jenisnya: fiksi, nonfiksi, dan faksi; dari boardbook sampai novel. Melejitkan buku anak dalam tajuk lokakarya ini, berarti menaikkan buku anak lokal ke posisi lebih tinggi, lebih berderajat, ketimbang titik awalnya.

Dan di manakah titik awal buku anak lokal saat ini? Dari segi kuantitas, tentunya IKAPI memiliki data statistik penerbitan buku anak. Dari pengamatan sekilas di toko-toko buku, perkembangannya dalam beberapa tahun terakhir sangat menggembirakan. Buku anak lokal tampak semarak, tidak lagi tenggelam di bawah buku terjemahan.

Tetapi bagaimanakah kualitasnya?

Sulit untuk menjawab dengan pasti, karena penelitian komprehensif dalam hal ini nyaris tidak ada. Secara umum, perhatian dan minat dari kalangan terkait terhadap buku anak masih dirasa kurang. Literatur anak Indonesia masih mencari-cari jati diri dan perkembangannya tidak terdokumentasi dengan baik. Pakar dan akademisi yang memelopori penelitian pada buku/sastra anak pun bisa dihitung dengan jari. Christantiowaty, Riris K. Toha Sarumpaet, Sugihastuti, Bambang Trim, dan Widyastuti Purbani, untuk menyebutkan beberapa. Sampai saat ini, hasil penelitian mereka masih sering dikutip, dan dikutip lagi, dalam artikel, makalah, bahkan skripsi yang membahas literatur dan sastra anak Indonesia. Keprihatinan tentang bacaan anak dalam berbagai aspek, terutama kritik yang menyoroti kelemahan penulisan, akhirnya terus bergaung, seolah kondisi itu tidak juga berubah.

Para kreator buku anak, terutama penulis, mungkin jengah mendengarnya. Tetapi kalaupun kita sudah mulai berubah, tampaknya perubahan itu terlalu samar untuk dapat teramati. Dan selama kita sendiri belum puas dengan keadaan buku anak pada umumnya, kritik itu masih akan selalu relevan. Marilah kita membenahi diri. Melejitkan buku anak dengan cara memberdayakannya.

Pemberdayaan Buku Anak sejak Konsepsi

Buku anak diciptakan tentunya dengan tujuan untuk memberdayakan anak. Untuk mengembangkan literasi sejati, yang merupakan keterampilan hidup bagi anak; bukan sekadar keberaksaraan, atau sekadar melek huruf, dapat membedakan b dan d.

Kita sadar, bahwa menyediakan perhatian, tenaga, waktu, dan dana untuk mempromosikan literasi sejak dini  jauh lebih mudah dan murah ketimbang mengerahkan semua itu untuk memerangi iliterasi di kemudian hari. Terutama saat iliterasi sudah berbuntut pengangguran, kenakalan dan kejahatan, depresi, serta isu-isu sosial lainnya.

Namun sebelum dapat memberdayakan anak, buku-buku harus diberdayakan terlebih dahulu.

Buku anak harus memiliki daya pikat, dapat memaku anak hingga selesai membacanya, memicu minat anak untuk membaca lagi dan lagi, dan menjangkau buku lain pula. Buku anak harus dapat mengambil hati anak, menjadi sahabatnya, tidak kalah bersaing dengan televisi dan games.

Pemberdayaan seperti itu jarang sekali merupakan proses kebetulan atau coba-coba. Rahasianya bisa dipelajari dari buku-buku terdahulu dari dalam dan luar negeri yang sudah teruji dan terbukti. Artinya, pemberdayaan dimulai sejak konsepsi. Dirancang cermat dan dieksekusi dengan baik oleh kreator yang terlibat sebagai satu tim solid.

Dalam buku anak, peran konseptor, penulis, ilustrator, editor, dan desainer menjadi setara. Hanya karena kita terbiasa mencantumkan nama penulis sendirian pada cover buku apa pun, penulislah yang  langsung menjadi sorotan.  Tak heran jika masalah penulisan dilemparkan sepenuhnya kepada penulis. Penulis dari awal harus menulis dengan baik. Benar. Tetapi menciptakan buku anak bukan seperti proses perakitan searah di atas ban berjalan. Konsepsi, penulisan, editing, proofreading, pemberian ilustrasi, layouting, lalu selesai.

Tidak.

Tim kreator buku anak lebih mirip para kesatria meja bundar. Setiap anggota tim tahu dan paham apa yang dilakukan mitra kerjanya. Setiap anggota tim dapat saling memberikan masukan, bersama mengatasi hambatan untuk menghasilkan karya utuh sesuai grand design. Artinya, masalah penulisan bukan menjadi masalah penulis saja. Untuk dapat menyunting dengan baik, editor harus memiliki keterampilan menulis juga. Agar dapat memperkaya buku, ilustrator dan desainer setidaknya memiliki pemahaman tentang perkembangan karakter, setting, sudut pandang, dan suasana cerita (mood of the story). Dan berlaku pula sebaliknya bagi penulis. Penulis tidak harus mampu menggambar, tetapi bisa belajar mengenal dan mengapresiasi gaya, warna, dan tata letak. Ia bisa membantu ilustrator memvisualisasikan imajinasinya dengan membuat storyboard.

Proses penciptaan buku, dengan demikian, “berputar” dua arah, dan di tengah-tengahnya adalah anak. Anak menjadi fokus, pengingat, dan tujuan, sejak buku masih berupa percikan ide dalam benak penulis/konseptor.

Kembali kepada Anak

Pemberdayaan buku anak juga tentang pergeseran sudut pandang. Dari pemikiran khas orang dewasa yang menjadikan anak sekadar objek:

Aku ingin menyampaikan pesan begini. Aku ingin bukuku dapat membentuk anak menjadi begitu. Aku akan menciptakan tokoh yang bisa menjadi teladan anak. Aku ingin orangtua dan guru membeli bukuku, untuk membantu mereka mendidik anak. Aku ingin bercerita tentang anak. Dst.

Menjadi pencarian bentuk dengan menjadikan anak sebagai subjek:

Apa yang dibutuhkan dan disukai anak usia tertentu? Bagaimana menyuguhkan buku agar anak berminat membacanya? Bagaimana membungkus pesan agar pembaca tidak merasa digurui? Karakter seperti apa yang disukai anak dan tak akan terlupakan olehnya? Bagaimana menjangkau anak-anak yang enggan membaca? Bagaimana menjangkau anak-anak yang terpinggirkan? Apa yang dapat menghibur anak? Seperti apa selera humor mereka pada usia-usia tertentu. Dst.

Perubahan sudut pandang ini akan berpengaruh besar pada karya kita.

Dan pembaca cilik itu cerdas. Mereka akan tahu apakah buku itu diciptakan secara khusus untuk mereka, ataukah sekadar tentang dan untuk anak dalam bayangan si kreator buku. Karena itu, kenali anak untuk memberdayakan buku anak. []

————————————————————-

Daftar Pustaka

Bolton, Lesley & Wait, Lea. 2007. Writing Children’s Books. Massachusetts: Adams Media

Christantiowati. 1996. Bacaan Anak Tempo Doeloe: Kajian Pendahuluan Periode 1908-1945. Jakarta: Balai Pustaka

Dewayani, Sofie. 2011. Dunia Anak atau Dunia Orang Dewasa? Belajar dari Dinamika Bacaan Anak di Amerika Serikat. Bandung: Makalah untuk FPBA

Evi, Clara. 2009. Sastra Anak Dalam Kurikulum Sekolah Dasar: Menegosiasikan Identitas Nasional Indonesia. Bandung: Makalah Hiski 2009

Fox, Mem. 2008. Reading Magic: Why Reading Aloud to Our Children Will Change Their Lives Forever. Florida: Harcourt

Hancock, M. R. 2000. A Celebration of Literature and Response:  Children, Books, and Teachers in K-8 Classrooms. New Jersey:  Prentice Hall, Inc

Purbani, Widyastuti. 1999. Sastra Anak Indonesia sebagai Genre: Sebuah Utopia?.Yogyakarta: Makalah Hiski III UNY

Purbani, Widyastuti. 2003. Sastra Anak Indonesia: Kegagalan dalam Memahami Siapa Anak.Yogyakarta: Makalah untuk FBS UNY.

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak (Edisi Revisi). Jakarta: Yayasan Obor

Trimansyah, Bambang. 1999. Fenomena Instrinsik Cerita Anak Kontemporer: Dunia Sastra yang Terpinggirkan. Bandung: Penerbit Nuansa

Zinsser, William (ed).1998. Worlds of Childhood: The Art and Craft of Writing for Children. New York: Houghton Mifflin Company

image dari www.reddeergrowboys.com

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..