Logika Cerita, Plot dan Jebakannya

(Illustration by Quentin Blake, Roald Dahl’s Mathilda)

Sering pembaca merasa tidak puas dengan fiksi yang dibacanya. Kok begitu sih? Masa begini? Dari mana tokoh ini tahu? Nggak masuk akal deh ada ini di situ. Kenapa tiba-tiba begini? Dst.

Pada cerita anak, sering kasusnya dari yang sepele seperti kehadiran binatang tertentu di setting yang bukan habitatnya tanpa justifikasi apa pun, sampai kasus berat seperti ending yang tidak memuaskan karena penulis terkesan menggampangkan solusi.

Pembaca berhak menilai dan berkomentar. Mereka sudah mengeluarkan uang untuk membeli buku dan waktu berharganya untuk membaca. Tetapi bukan itu saja yang seharusnya diapresiasi penulis. Melainkan juga bahwa pembaca mempunyai pengetahuan dan pengalaman sendiri. Itulah yang akan menjadi acuan mereka dalam menalar bacaan. Bukan pengetahuan dan pengalaman penulis.

Jadi, penulis tidak boleh berlindung di balik fiksi: “Ini kan fiksi, suka-suka penulis, dong.”;  “Namanya juga dongeng, nggak harus masuk akal.”; “Lho, ini kan berdasarkan cerita nyata, memang begitu kok kejadiannya.”, dst.

Alasan itu hanya menunjukkan bahwa penulis tidak memahami fiksi secara utuh, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan logika cerita, atau lebih parah lagi menganggap pembaca mau menerima begitu saja ceritanya. Ingatlah, membeli tidak selalu berarti baca tuntas, diam tidak selalu berarti menerima. Dan kalau di FB, Like tidak selalu berarti suka :)

 Fiksi Versus Kehidupan Nyata

Fiksi adalah sebuah sistem yang sangat masuk akal. Setiap unsur pembangun fiksi (karakter, setting, plot dll) disusun berdasarkan hubungan sebab akibat, keterkaitan dan sekuensi logis menjadi kisah yang dapat diterima, dipercaya. Fiksi ibarat jalan mulus tanpa lubang dari titik awal ke titik akhir. Lubang atau flaws dalam fiksi akan membuat pembaca berkerut kening, dan jika terlalu banyak flaws, buku kita akan diletakkan saja.

Pernah mendengar ungkapan, stranger than fiction? Itulah kehidupan nyata. Justru dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan banyak keanehan tanpa penjelasan. Dalam satu kelas ada tiga murid bernama Susan. Ada pasangan Jawa-Padang bertetangga dengan pasangan yang juga Jawa-Padang, dan mereka sama-sama punya tiga anak seumuran. Ada guru yang sudah 4 tahun mengajar seorang siswa, tapi tak juga hapal namanya.  Contohnya banyak.

Tapi coba itu langsung dimasukkan ke dalam fiksi. Anda menulis cerita dengan setting kelas, dan tokoh utamanya punya tiga teman bernama Susan. Lalu Anda merasa tidak perlu menjelaskan “kebetulan” itu. Memang ada kok dalam kehidupan nyata. Apa yang terjadi? Bagaimana Anda membedakan karakter Susan A, Susan B, dan Susan C? Jika Anda sendiri bingung, maka pembaca hanya akan menganggap Anda tidak kreatif menciptakan nama tokoh.

Bagaimana dengan guru yang tak hapal nama muridnya? Kenalanku mengalami itu dan terpaksa memindahkan anaknya ke sekolah lain. Coba masukkan ini ke dalam fiksi. Tapi Anda tidak memberi justifikasi kenapa si guru bisa begitu. Justifikasi bisa berupa latar belakang/karakter si guru, bisa juga setting sekolah yang memang menyulitkan kedekatan. Tanpa justifikasi itu, meskipun penulis beteriak bahwa benar ada guru seperti itu di sekolahnya dulu yang menangani satu kelas berisi 50 siswa, pembaca akan tetap mempertanyakan,  terutama ketika pengetahuan dan pengalamannya sendiri berbicara lain.

Berarti penulis tidak boleh menulis yang aneh-aneh dan imajinatif?

Bukan begitu!

Anda boleh menulis tentang kuda berkaki lima, anak kecil berekor, penguin di gurun pasir, harta karun bajak laut terpendam di halaman belakang, patung yang hidup dan meneror kota, jerapah ikut bersekolah bareng anak manusia, dll.

Tapi jangan menyinggung kecerdasan pembaca dengan kesan mengada-ada atau menggampangkan. Justifikasi. Logiskan setiap unsur itu. Paling mudah, Anda membuat setting yang sesuai untuknya, yaitu dunia fantasi. Walaupun tetap saja, genre fantasi pun punya aturan main sendiri dan juga menjunjung logika cerita. Jika Anda menggabungkannya dengan dunia yang kita huni, berhati-hatilah, karena mungkin Anda perlu justifikasi ilmiah, misalnya untuk anak kecil yang tumbuh ekor. Anda tak bisa pula mengatakan harta karun bajak laut di halaman belakang itu sebagai suatu “kebetulan” atau “pertolongan ajaib” yang wajar saja untuk anak miskin yang baik hati.

(oke, contoh-contohku mungkin sedikit lebay, tapi bisalah dipahami esensinya)

Anda mungkin berkilah dengan menunjukkan bukti-bukti berupa cerita rakyat atau dongeng yang tidak “logis” tapi tetap disukai pembaca. Benar. Itulah kekuatan genre tradisional. Tak perlu ada justifikasi untuk keajaiban. Sihir ada tanpa penjelasan. Tokoh hitam putih begitu mencolok meskipun mereka bersaudara kandung. Binatang bisa berbicara dengan manusia. Dst. Memang begitulah ciri khas genre tradisional (cerita rakyat)

Tapi Anda menulis fiksi, kan? Atau hanya menulis cerita dengan pola dongeng tradisional? Kalau Anda menulis fiksi, jangan lupakan logika cerita. Seimajinatif apa pun fantasi yang Anda tulis, cerita Anda harus berterima. Tokoh, lokasi, objek, semuanya harus “berperilaku” alami dan masuk akal untuk dunia tempat cerita itu terjadi. Jangan sampai ada lubang-lubang (flaws) dalam jalinan kisahnya.

 Masih Bingung, Berikan Contoh Lagi

 1. Bentrokan dengan fakta ilmiah

Anak-anak tahu jerapah adalah binatang berleher panjang, mampu menjangkau dedaunan tinggi, tapi tidak cukup panjang untuk menjangkau tanah. Alhasil, jerapah harus merentangkan kaki depan agar bisa minum air sungai. Jika, ada cerita atau ilustrasi yang menokohkan jerapah dengan kepala blusukan ke lubang-lubang kelinci tanpa diceritakan susah payahnya, berarti si penulis tidak tahu fakta ini. Lalu berkilah, ini kan fabel. Kukatakan itu flaw. Penulis yang cerdas justru memanfaatkan fakta ilmiah untuk membuat ceritanya lebih menarik. Kalau tidak menggunakan fakta ilmiah, buatlah si jerapah sekalian pakai baju, berdiri dengan dua kaki, dan pergi ke sekolah naik sepeda (antropomorfisme).

 2. Menggunakan stereotipe untuk justifikasi

Orang dewasa cenderung punya stereotipe yang dibangun dari pengalaman hidup atau bacaannya. Anak-anak, sebaliknya, masih polos, kalau belum dicekoki pula oleh orang dewasa dan media. Misalnya cerita detektif yang ujungnya si pelaku kejahatan adalah lelaki berambut gondrong, bertato, suka keluar malam. Tak ada petunjuk lain sepanjang cerita yang mengarah kepada orang ini kecuali penampilan lahiriahnya. Ini flaw. Tidak adil. Contoh stereotipe banyak, kaya identik sombong, miskin identik rendah diri, dll.

 3. Menggunakan pengetahuan/pengalaman terlalu personal.

Di satu sisi, penulis harus menggali dirinya sendiri untuk menghadirkan cerita dengan orisinalitas tinggi. Tetapi di sisi lain, penulis juga perlu hati-hati untuk tidak menjadikan hal-hal personal sebagai basis generalisasi. Karena setiap orang memiliki pengalaman, pengetahuan (wisdom) yang unik, belum tentu orang lain memahaminya. Contoh, seorang penulis punya pengalaman buruk waktu kecil, diledek teman-temannya karena ayahnya bekerja sebagai tukang pos. Lalu itu dituangkan dalam cerita. Si tokoh malu karena berayahkan tukang pos, sehingga ia menyembunyikan fakta itu. Oke, kalau penulis bisa menunjukkan emosi dan alasan personalnya kenapa ia malu. Tidak oke, kalau semua itu cuma ada di benak penulis dan pembaca hanya disuruh menerima sebagai fakta bahwa pekerjaan tukang pos memalukan. Haloo, lihatlah pembaca Anda. Di era apa mereka hidup. Lihat tontotan mereka yang menokohkan postman, builder, masinis, dll. dengan hebatnya.

 4. Sebaliknya, menggunakan anggapan umum atau generalisasi yang kadang tidak sepenuhnya benar (hampir mirip stereotipe)

Peri selalu dianggap cute, bertongkat sihir, punya bubuk periLalu dibuatlah cerita tentang peri dan dunianya. Setting lokasi tidak dideskripsikan dengan jelas, si peri juga tidak diberi karakterisasi kuat, karena penulis menganggap pembaca sudah tahu dunia peri ya seperti itu. Walau mungkin plotnya tidak sampai berlubang, barangkali ada baiknya penulis riset bahwa peri di negeri asalnya muncul dalam berbagai jenis, nama, karakteristik, habitat, dan legendanya masing-masing. Dengan demikian, terhindar dari menulis kisah usang/klise. Contoh lain: anggapan umum tentang anak-anak jalanan, generalisasi tentang anak kota dan anak desa, dll. Jika Anda punya pengalaman pribadi, galilah. Jika tidak, lakukan riset, riset, riset. Agar kisah Anda believable, unik, personal.

 Plot dan Jebakannya

Singkatnya, tidak ada plot tanpa konflik, dan tak ada konflik tanpa karakter. Plot muncul dari karakter, bukan sebaliknya. Jadi, ada satu atau beberapa karakter berkonflik satu sama lain, atau dengan situasi, atau bahkan dengan diri sendiri.

 Plot Utama dan Subplot

Plot utama ibarat sungai besar, dan subplot ibarat sungai-sungai kecil yang bergabung dengan sungai besar, menuju muara. Baik plot utama dan subplot berujung pada satu titik penyelesaian. Banyaknya subplot bergantung pada target pembaca dan kemampuan penulis merangkaikan semuanya menjadi satu cerita utuh tentang si tokoh utama.

Plot utama: Adi menggunakan uang kelas untuk keperluan pribadi dan harus menggantinya segera. Ia  hendak bekerja membantu pamannya di perpustakaan agar mendapatkan uang saku dan menyelesaikan masalahnya.
Subplot: Masalah-masalah yang menambah kerumitan plot utama, dan bisa juga berdiri sendiri, tetapi menguatkan karakter utama, misalnya:

  • Acara kelas dan upaya pencarian dana; Adi disibukkan oleh kegiatan ini sehingga kurang waktu untuk menjalankan rencana pribadi. (menghambat tujuan)
  • Hubungan Adi dengan sahabatnya, Maya. Maya tiba-tiba sering tidak masuk sekolah, tanpa kabar. (mengalihkan perhatian)
  • Adi menerima paket misterius berisi surat-surat kuno. (berpotensi menjadi sumber penyelesaian masalah Adi)
  • Paman sedang berusaha berhenti merokok, pernah sekali merokok di ruang belakang perpustakaan dan tertidur. Rokoknya nyaris menimbulkan kebakaran. (menguatkan karakter Adi yang sangat mencintai pamannya)

 Penggerak Plot

  1. Motif dan Tujuan: Tokoh utama (protagonis) mempunyai tujuan, dan antagonis mempunyai motif untuk menghambat. Keduanya berkonflik untuk mencapai keinginan masing-masing.
  2. Konsekuensi: Kalau tujuan adalah yang dikejar si tokoh, maka konsekuensi adalah yang mengejarnya. Si tokoh mengejar sesuatu, cerita menjadi menarik. Tapi jika dia juga dikejar oleh konsekuensi, ketegangan menjadi dua kali lipat. Misalnya, si tokoh harus menemukan benda antik warisan keluarga yang dulu pernah dijual ibunya. Pelacakannya menarik untuk diikuti. Tapi akan lebih menegangkan jika ia juga terancam konsekuensi, jika benda itu tidak ditemukan dalam batas waktu tertentu, sebuah kutukan akan menghancurkan keluarganya. Konsekuensi harus diberiktahuan kepada pembaca sebelum si tokoh memulai petualangannya. Ia tahu apa risikonya kalau ia gagal.
  3. Persyaratan: Tujuan akan tercapai, hanya masalah waktu saja, lalu cerita selesai. Tapi tujuan tidak begitu saja dapat tercapai, tanpa melakukan sesuatu. Anak yang menginginkan mobil mainan tapi tak punya uang, tidak bisa masalahnya diselesaikan dengan ia menemukan uang, atau mendapatkan hadiah mobil mainan. Itu jebakan plot yang memudahkan penyelesaian masalah. Persyaratan adalah upaya-upaya yang perlu dilakukan si tokoh untuk membuatnya berhasil menyelesaikan masalah.

Jebakan Plot

Jebakan muncul saat penulis mengalami kebuntuan plot. Untuk menggerakkannya lagi, penulis mengambil cara mudah, lupa pada elemen-elemen penggerak plot di atas.  Artinya, ketika tokohnya menghadapi konflik yang begitu rumit dan seolah semua jalan buntu,  tiba-tiba dia diberi solusi tanpa harus berusaha keras. Contohnya:

  1. Tokoh antagonis yang menghambat sengaja disingkirkan oleh penulis agar si protagonis dapat mencapai tujuan. Misalnya persaingan dua siswa dalam lomba tari. Agar tokoh utama menang, lawannya tiba-tiba ditimpa kecelakaan. Masalah selesai.
  2. Terjadi peristiwa kebetulan yang melancarkan si tokoh mencapai tujuan. Kebetulan menemukan uang saat anak ingin sekali membeli sesuatu. Kebetulan menemukan buku resep rahasia saat si tokoh ingin sekali ikut lomba masak di istana. Dan banyak lagi jenis-jenis “kebetulan” lainnya. Ada kebetulan yang begitu “kasar” ditambalkan ke dalam cerita, sehingga jelas sekali si tokoh utama tidak berdaya jika tidak dibantu penulis. Tapi ada kebetulan yang secara halus dijalinkan sehingga pembaca tidak menyadarinya. Yang terakhir ini biasanya tidak terlalu masalah bagi pembaca, apalagi kalau cerita secara umum sudah bagus sekali. Dan sedikit bantuan untuk tokoh utama yang sudah berjuang keras tentunya sah-sah saja.
  3. Meminjam mulut orang dewasa. Sering kita dengar istilah ini dalam bacaan anak. Anak-anak berkonflik, lalu masalah mereka selesai dengan kehadiran orang dewasa yang menasihati atau memberikan teladan. Tokoh utama langsung sadar, menyesal, masalah pun selesai. Atau ketika anak-anak menghadapi masalah karena ketidaktahuan, muncul orang dewasa yang pakar dalam bidangnya menjelaskan banyak hal, dan anak-anak itu manggut-manggut mengerti. Selesai. Wow.

Bagaimana Menghindari Lubang dalam Logika Cerita dan Jebakan Plot?

  1. Baca lagi cerita Anda dengan mata pembaca, dan minta orang lain juga membaca. Kacamata pembaca berbeda dengan kacamata penulis.
  2. Bacalah buku-buku bagus. Perhatikan bagaimana penulis menganyam deskripsi, karakterisasi, narasi, dialog, setting, sedemikian rapat hingga tak ada pertanyaan muncul di benak Anda. Semuanya terjawab saat Anda sampai di ending. Bahkan ending terbuka pun tidak menyisakan kejanggalan. Anda digiring sedemikian rupa dengan fakta-fakta untuk sampai pada kesimpulan atau ending yang logis.
  3. Coba menulis mundur. Anda temukan dulu solusinya, lalu Anda ciptakan konflik yang sesuai. Kadang jika konflik dulu yang muncul, di akhir Anda kebingungan dengan solusinya.
  4. Jangan bunuh antagonis Anda.
  5. Jangan puas dengan solusi kebetulan.
  6. Minimalkan peran orang dewasa dalam cerita anak.
  7. Buatlah karakter Anda hidup dan berkembang. Bukan tokoh stagnan, datar, yang dari awal sampai akhir hadir sekadar nama.
  8. Kritis.
  9. Banyak-banyak latihan.
  10. Apa lagi?

Selamat membaca dan menulis.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..