Lebih Dekat dengan Ary Nilandari

1. Tentang kegiatan membaca di masa kecil
Saya dibesarkan dalam keluarga yang suka membaca. Bapak saya seorang guru yang kemudian menjadi kepala dinas. Ada perpustakaan di kantornya, yang kebetulan satu kompleks dengan SD tempat saya bersekolah, jadi saya sering main ke sana. Tapi yang paling berpengaruh dan menjadi model adalah Ibu dan kakak sulung saya. Selalu melihat buku di tangan mereka. Saya membaca buku-buku terbitan pemerintah (Balai Pustaka) di perpustakaan, dan buku-buku yang dipinjam Kakak dari taman bacaan. Bacaan saya sangat beragam; cerita rakyat, cerita silat, komik, majalah anak, dan belakangan novel-novel lokal dan terjemahan. Karya-karya Ajip Rosidi, RA. Kosasih, Kho Ping Ho, Bung Smas, Dwianto Setiawan, Djoko Lelono, Enid Blyton, Alfred Hitchcock, dll. mengisi masa kecil saya.
 
2. Tentang awal mula suka menulis
Sejak kelas 4 SD, saya mulai menulis puisi. Guru bahasa Indonesia yang mendorong saya menulis dengan memajang puisi saya di majalah dinding dan mengirimkannya ke koran. Kelas 6, saya menulis novel pertama saya di buku tulis, menghabiskan dua buku, tulis tangan dengan pensil. Di SMP kelas 1, beberapa cerpen saya dimuat Majalah Anita. Saya kira, bisa dibilang saya hanya belajar dari guru bahasa dan buku-buku yang saya baca waktu itu. Saya juga rajin menulis diary dan punya imajinasi liar yang perlu disalurkan. Tapi karier sebagai penulis profesional yang berfokus pada bacaan anak dimulai setelah saya punya anak. Motivasi pertama adalah memenuhi kebutuhan anak saya sendiri akan bacaan yang cocok dengan perkembangannya.
 
3. Tentang proses kreatif
Saya selalu memulai dengan karakter. Karena itulah yang sering terpikirkan oleh saya di awal sebelum muncul plot dan lain-lainnya. Sebuah nama di kolom orbituary koran, wajah mengesankan di kereta, tindak tanduk, penampilan, keyakinan, gaya bicara, kelemahan dan kekuatan seseorang, sering menjadi ide awal munculnya tokoh cerita. Begitu terbentuk karakternya di benak, saya akan memberinya macam-macam konflik dan melihat bagaimana karakter ini merespons. Ini tahapan brainstorming yang sepertinya tiada henti karena saya senang mengamati orang dan mendapatkan inspirasi dari mereka. Setiap karakter merespons konflik tertentu secara unik dan jadilah cerita yang istimewa, yang hanya cocok untuknya, bukan untuk karakter lain.
 
4. Tentang misi di balik karya-karyanya
Saya ingin anak-anak disuguhi bacaan yang bervariasi. Aneka format, genre, tema, dan gaya penulisan. Setelah anak terpapar aneka bacaan, ia akan tahu dengan sendirinya mana yang ia butuhkan, mana yang cocok dengannya. Dan ia akan condong pada pilihannya. Ada anak yang suka fantasi, fiksi realistik, puisi, atau biografi. Anak suka membaca karena bertemu dengan buku-buku yang klik, “gue banget” istilahnya. Dalam banyak kasus, anak tidak suka membaca karena dijejali buku-buku yang keliru, yang tidak kompatibel, yang sulit baginya untuk menjalin koneksi. Membaca jadi membosankan dan bahkan traumatis.
 
Sebagai penulis, saya ingin memberikan alternatif bacaan pada anak-anak. Apa yang belum ada di pasaran, apa yang kurang, saya coba berikan. Tentang pesan moral, saya kira, penulis bermoral tidak akan menyajikan bacaan amoral, tapi juga tidak harus menyampaikan pesan moral itu secara eksplisit. Karena anak-anak membaca dengan tujuan awal ingin dihibur, bukan untuk diceramahi dan digurui. Saya percaya, anak-anak itu mampu menangkap pesan tersembunyi sekalipun.
 
5. Tentang tantangan dalam proses kreatif
Sering, penerbit meminta naskah yang sejenis dengan yang sedang trend dan best seller. Fenomena buku anak seragam (bukan beragam) sering kita lihat di toko buku. Dari tema, judul, desain cover, ilustrasi, banyak yang mirip-mirip. Penerbit berkilah karena memang seperti itulah yang dikehendaki pasar. Pasar di sini masih identik dengan orangtua. Orangtua memutuskan buku apa yang dibeli untuk anak-anaknya. Jadi buku harus punya daya tarik buat orangtua. Dari kacamata investor, ini bisa dipahami. Sayangnya, apa yang disukai orangtua belum tentu disukai/dibutuhkan anak. Belum lagi, keseragaman bacaan bisa membuat anak jenuh dan akhirnya enggan membaca lebih lanjut.
 
Jadi, penulis harus pandai-pandai bernegosiasi dengan editor/penerbit untuk menciptakan karya yang juga dapat memenuhi kebutuhan anak. Anak dijadikan subjek di sini. Itu bisa tercapai jika mindset penulis dewasa diubah: dari memposisikan diri superior yang menganggap anak tidak tahu apa-apa, menjadi penulis yang mengakui kecerdasan anak, berniat berbagi pengalaman lewat tulisan, dan menghadirkan anak sesungguhnya. Bukan sekadar menulis tentang anak/untuk anak dari sudut pandang orang dewasa.
 
6. Tentang target pembaca
Secara umum saya tidak pernah khawatir buku saya susah dipahami anak-anak yang menjadi target pembaca. Pada dasarnya, informasi apa pun dapat diberikan kepada anak, hanya tingkat kedalaman, cara penyampaian, dan bahasanya, harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan pembaca. Dan sebagai penulis dan seorang ibu, saya menyadari tahapan itu. Lagipula buku berfungsi sebagai pengayaan, jadi wajar saja kalau menyampaikan hal-hal baru, baik kosakata, konsep, maupun pemikiran. Jika semua itu disampaikan dengan tepat, efektif, dan menyenangkan, anak-anak akan memahaminya dari konteks. Orangtua tentu lebih tenang jika anak-anak mendapatkan informasi yang benar dari buku yang sudah melalui proses riset dan editing. Ketimbang mereka mendapatkan informasi keliru atau tidak utuh dari sumber yang tidak jelas.
 
Target pembaca anak secara garis besar dibagi berdasarkan usia: usia bayi dan anak prasekolah yang masih dibacakan orangtua, TK dan SD awal yang sudah bisa membaca sendiri, praremaja, remaja atau dewasa muda. Itu pun rata-rata. Ada anak yang lebih maju atau lebih lambat, masing-masing punya laju perkembangan sendiri. Orangtualah yang paling mengenal anak-anaknya sendiri. Asalkan, orangtua sudah memaparkan anak pada bacaan beragam dan berinteraksi rutin dengan mereka seputar bacaan, mencari bacaan yang pas untuk anak tidak terlalu sulit. Pilihlah yang tidak terlalu mudah sehingga membuat bosan dan merendahkan kecerdasan mereka, tetapi juga tidak terlalu sulit dan membuat mereka frustrasi. Dan jangan lupa, orangtua juga berfungsi memberikan dampingan saat anak bertemu bacaan yang menantang.
 
7. Tentang respons pembaca: adakah keberatan?
Sejauh ini bisa dibilang tidak pernah ada keberatan. Cuma ada satu-dua orang dewasa yang khawatir novel saya terlalu canggih untuk anak SD. Saya kira ini hanya perbedaan persepsi dan pengalaman. Jika orang dewasa meragukan kecerdasan anak dalam menangkap bacaan, bisa jadi karena mereka mengidentikkan anak-anak dengan bacaan sederhana. Pukul rata. Mereka belum ketemu dengan anak-anak yang mampu melahap bacaan rumit. Bahkan mungkin belum mencoba memberikan buku yang menantang dan berdiskusi dengan anak sesudahnya. Anak-anak itu berkembang pesat kok, dalam 1-2 tahun saja bacaannya bisa meningkat dari buku berteks sedikit ke novel tebal, asalkan diberi kesempatan bertemu dengan buku yang menarik hatinya.
 
Sejauh ini, kebanyakan anak SD yang membaca buku saya tidak merasa kesulitan memahami. Mereka dapat menikmati dan bahkan merasa klik. Saya bisa bilang begitu, karena saya aktif berkomunikasi dengan pembaca dan orangtua mereka di media sosial. Novel serial saya yang sekarang sedang berjalan, seri Keo&Noaki (jelang buku ke-6) ditargetkan untuk anak usia 9 tahun ke atas. Tapi yang membaca tidak hanya anak-anak usia segitu. Pembacanya mulai usia 7 tahun hingga dewasa.
 
8. Tentang proses penerbitan
Sejak awal karier saya sebagai penulis, 16 tahun lalu, saya terbiasa mengirimkan proposal lebih dulu kepada penerbit. Saya memaparkan konsep buku, selling point, benchmark kalau perlu, dan contoh naskah. Saya diminta presentasi dan kalau cocok, saya garap bukunya. Sekarang banyak penerbit yang langsung meminta naskah jadi. Tidak masalah. Penerbit juga melihat nama penulis, prestasi, dan karya-karya sebelumnya. Jadi, tak jarang, penerbitlah yang meminta saya menulis untuk mereka.
 
Tentang naskah yang ditolak penerbit, saya kira hal itu sudah biasa bagi semua penulis. Tidak bisa dibilang kesulitan. Lebih merupakan tantangan. Banyak alasannya. Bisa jadi karena kualitas belum memenuhi standar penerbit. Atau karena naskah tidak sejalan dengan kebutuhan penerbit. Tinggal penulis menanggapi dengan perbaikan naskah atau mengikuti tuntutan kebutuhan tersebut. Itu pilihan.
 
9. Tentang peluang buku anak di Indonesia
Peluangnya masih sangat besar. Dalam beberapa tahun trakhir, penjualan buku anak di toko buku menduduki peringkat pertama, walau masih berbagi porsi dengan buku anak terjemahan. Kalau penulis lokal mau belajar dan open-minded, saya kira, kita bisa survive dalam persaingan dengan meningkatkan kualitas buku di pelbagai aspek. Selain itu ada ceruk-ceruk yang masih longgar untuk kita isi dengan buku lokal. Perlu kejelian untuk melihat apa yang dibutuhkan dan disukai anak-anak kita. Perlu keberanian untuk menawarkan yang berbeda dan beragam. Perlu idealisme yang terus dipertahankan untuk mempertemukan anak-anak dengan bacaan bermutu. Tentu saja itu tidak bisa dilakukan oleh penulis/kreator sendirian. Penerbit, minimal, punya tanggung jawab moral juga dalam hal ini, di samping mengejar keuntungan.
 
Orangtua dan guru sebagai role model terdekat anak-anak juga harus menjadi pembaca kritis. Pustakawan dan perpustakaan, akademisi, pemerintah, masyarakat, perlu hadir juga dalam sinergi meningkatkan minat baca anak-anak. Dan lebih jauh mempertemukan anak-anak itu dengan bacaan berkualitas yang memang diciptakan untuk mereka.
 
10. Tentang peran buku terhadap perkembangan anak
Buku itu bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita, sejak dalam kandungan hingga akhir hayat. Mungkin terdengar klise, bahwa buku adalah makanan jiwa. Tapi begitulah adanya. Dalam tumbuh kembang anak, buku berperan sebagai stimulasi kecakapan kognitif dan emosional anak. Melalui buku bacaan, orangtua dapat menunjukkan kasih sayang dan kedekatan yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan anak berbahasa, berbudaya, berempati, berpikir kritis, dan produktif.
 
11. Tentang membangun minat anak membaca
  • Jadi role model yang membaca. Orangtua/guru harus suka membaca apa saja dan anak melihat itu dengan jelas. 
  • Kelilingi anak dengan buku yang beragam.
  • Asosiasikan buku dengan cinta, kasih sayang, perayaan dan hari bahagia. 
  • Bacakan buku (read aloud) rutin sejak anak lahir dan jangan berhenti walau sudah bisa membaca. 
  • Beri kemerdekaan anak untuk memilih buku sendiri (secara bertahap, dari satu di antara dua, hingga beberapa di antara ratusan di toko buku) 
  • Sahabat terbaik adalah yang membaca buku yang sama. Jadilah sahabat anak dengan membaca buku yang sama. Dengan demikian isi buku bisa jadi bahan pembicaraan yang asyik dan seru antara orangtua dan anak. 
  • Membaca selalu berbuntut menulis, seperti menarik napas yang harus mengeluarkan napas. Penuhi kebutuhan anak untuk menulis. Menulis sebagai sebuah kebutuhan, bukan tuntutan.
  • Membaca juga melibatkan seni visual. Dari kecil, anak distimulasi membaca buku dengan ilustrasi menarik dan merangsang imajinasi. Menggambar menjadi kebutuhan pula baginya.
  • Kenalkan anak dengan kegiatan menulis sebagai kebutuhan dan, juga dengan para penulis buku-buku yang disukainya. Media sosial menjadi sarana komunikasi ini.
12. Tentang kegiatan selain menulis
Sebelum berfokus penuh menulis, saya menjadi penerjemah dan editor selama satu dekade. Sekarang fokus menulis dan memberikan pelatihan menulis untuk dewasa dan anak, menjadi penggiat literasi anak dan nara sumber dalam seminar-seminar yang berkaitan dengan buku anak. Sebagai ibu rumah tangga, saya menikmati kebersamaan dengan suami dan tiga putra kami, melakukan hobi bersama seperti membaca, menonton film, memasak, traveling, dan berenang.
 
13. Tentang pekerjaan di tangan saat ini
Saya sedang menulis novel ke-6 Seri Keo&Noaki yang rencananya akan terbit bulan September 2016. Dalam genre lain, saya bersama teman sedang mengembangkan serial baru dalam bentuk komik.
 
Penulis yang telah menerbitkan 50 buku untuk anak.
Beberapa karyanya memenangi penghargaan nasional antara lain: Juara 1 Sketsa Keagamaan Depag-RI, 2004; Juara 1 LMCR Raya Kultura-Mentholatum Golden Award, 2007.
 
Dan di tingkat internasional: First Runner-up Scholastic Picture Book Award, 2015, untuk buku Pandu, The Ogoh-Ogoh Maker; Second Place Samsung Kid’s Time Author Award 2015, untuk buku I Know What You Mean; dan Second Place Samsung Kid’s Time Author Award 2016, untuk buku The Fellowhip of the Pinisi. Ketiga buku itu menampilkan sekelumit kekayaan alam, budaya, dan tradisi Indonesia.
 
Sebelum berfokus menulis, ia menjadi penerjemah dan editor lepas selama satu dekade dan salah satu karya terjemahannya memenangi Islamic Book Fair Award 2011, untuk kategori buku terjemahan terbaik. Sampai sekarang aktif menjadi trainer pelatihan menulis dan pembicara dalam seminar/konferensi seputar buku anak baik, baik sebagai pribadi maupun anggota International Society of Children’s Book Writers and Illustration (SCBWI), chapter Indonesia.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..