Kenapa Halaman Buku Harus Kelipatan 16 (atau 8)

Mengikuti pelatihan Menulis Nonfiksi Anak dengan Metode Matriks di Salamadani Sabtu, 6 Juni lalu mengingatkanku pada banyak hal. Pak Bambang Trim seakan membawaku kembali ke masa-masa aku menjadi editor di sebuah penerbit di Jakarta. Aku diingatkan lagi tentang jumlah halaman, tentang simbol-simbol internasional editing, apa sih orphan dan widow line, dsb. Bahkan ketika berkunjung ke percetakan di kompleks Salamadani Bookhouse, bau khas kertas dan tinta menyapa akrab seolah teman lama. Sayang mesin-mesinnya sedang libur, kalau tidak, telingaku pasti senang mendengar kembali keramaian khas mereka.

Yang akan kushare di sini hanya sebagian kecil ilmu perbukuan. Sudah cuma sedikit yang kuketahui, eh mengendap pula tak terpakai sejak aku memutuskan bekerja freelance. Sebagai editor, penerjemah, dan penulis freelance, kukira aku tidak membutuhkannya lagi. Ternyata aku salah. Untuk itu aku sangat berterima kasih kepada Pak Bambang, Mas Tasaro, dan Mas Ali, yang telah membangkitkan dan menambah banyak wawasanku. Proses pembuatan buku secara utuh memang perlu diketahui praktisi perbukuan.

Salah satu diskusi hangat kemarin adalah "kenapa halaman buku harus kelipatan 16". Berhubung waktu tak banyak, kumaklumi jika pembahasan tentang ini tidak terlalu mendetail. Tugas kitalah untuk menggali sendiri lebih banyak. Nah, inilah yang kugali dari ingatan terpendam. Mohon koreksinya jika keliru.
_______________________________________

Jumlah halaman buku tidak sembarangan ditentukan. Pertimbangannya adalah perhitungan ekonomis pemakaian kertas. Jangan sampai ada kertas yang dibuang ketika buku dicetak. Seperti yang kita tahu, bahan kertas sangat mahal dan dibeli percetakan berupa gulungan atau lembaran dengan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran buku karenanya harus dioptimasi menyesuaikan ukuran kertas yang dipakai.

Mungkin bisa dianalogikan dengan membuat baju anak, kita tidak memerlukan kain selebar yang digunakan untuk baju dewasa. Jika kain yang dipakai terlalu lebar, maka akan ada kelebihan yang mungkin terpaksa dibuang.

Nah, lembaran kertas itu dilipat-lipat mengikuti aturan 16. Selembar kertas dilipat tiga kali, maka kita akan mendapatkan 16 halaman, yang disebut 1 kateren. Karenanya buku akan lebih ekonomis kalau berjumlah halaman kelipatan 16. Kelipatan 8 masih bisa disiasati dengan menggunakan 1/2 kateren (8 halaman). Atau kalau terpaksa (dan dianggap lebih ekonomis) menggunakan 1/4 kateren.

Karena itu umumnya buku berhalaman 24, 32, 48, 64, 160, 400, dst.

Jadi naskah dari penulis akan diolah sedemikian rupa, dari jenis dan ukuran font, ukuran buku, hingga tata letak isinya, agar memenuhi jumlah halaman terdekat sekian kateren. 

Kalau setelah layout buku kita mentok cuma 30 halaman, mau tidak mau harus ditambah 2 halaman lagi. Bisa untuk bonus, foto narsis penulis , surat pembaca/endorsement, atau yang lebih sering ya iklan dari penerbit. Kalau kosongnya cuma sehalaman, ya ada kalanya dibiarkan kosong. Tapi halaman berlebih ini tidak sengaja dilebihkan, dan tidak bisa dibuang juga. Ini adalah pertanda naskah kita kurang pas memenuhi kuota. Karenanya, dengan mengetahui aturan ini, diharapkan penulis (terutama buku anak, karena umumnya antara 24-48 hlm) bisa merencanakan naskahnya dengan lebih efektif. 

Kita bisa mencoba-coba membuat kateren buku kita dengan selembar A4. 


Setelah langkah 4, kita mendapatkan dummy kateren, miniatur buku 16 halaman. Nomori halamannya dari 1 sampai 16, secara berurutan dan jangan terbalik angkanya. Ya memang agak sulit karena halamannya masih bersatu. 

Di percetakan nanti, tepi atas, bawah dan kanan yang bersatu itu akan dipotong dengan mesin khusus. Ada kalanya lipatan kateren luput pada saat pemotongan sehingga pembaca mendapati beberapa halaman buku masih bersatu dan perlu cutter untuk memisahkannya. 

Jika kateren ini kita buka lagi, perhatikan penomoran halaman yang kita buat. Pada satu sisi akan tampak seperti ini:


Dan sisi sebaliknya akan tampak seperti ini:


Naskah kita yang sudah dilayout, tiap halamannya akan dibuat filmnya, menyerupai transparansi. Aku lupa istilahnya, anggaplah transparansi ya. Nah transparansi halaman itu disusun pada pelat film, mengikuti penomoran di atas. Pada halaman dengan nomor terbalik (upside down), transparansi teks dan gambar dipasang terbalik (upside down). Jika Anda menemukan buku dengan teks terbalik (upside down), berarti kesalahan terjadi pada saat pemasangan di pelat film. Dan kalau ada buku yang halamannya kacau, berarti penyusunan katerennya salah. Misalnya kateren kedua letaknya tertukar dengan kateren ke-10.

Dari film, biasanya akan dibuatkan blueprint dulu, agar editor bisa memeriksa apakah tata letak dan halamannya sudah tepat. Kalau sudah oke, dicetaklah buku kita.

Satu hal yang penting, untuk buku full color, film terdiri dari 4 komponen CMYK (cyan, magenta, yellow, dan black). Jadi foto dan ilustrasi kita melewati proses separasi warna. Kalau film komponen cyan tertukar dengan komponen black, misalnya, ya siap-siap saja dominasi warna foto atau ilustrasi menjadi tertukar pula. Rambut hitam menjadi biru, daun menjadi kelabu gelap (untuk mendapatkan warna hijau, tinta cyan dicampur yellow, bayangkan kalau cyan diganti black.) 

Jadi teman-teman yang sedang menunggu bukunya dicetak, selama prosesnya tidak diselang, tetap saja dibutuhkan waktu dan ketelitian di sini. Bersabar ya, karena memburu-buru juga kontraproduktif. Yup, aku pernah mengacc sebuah buku yang ternyata komponen film-nya terbalik. Horrible.... tapi ini pelajaran berharga.

Apa lagi ya?

Itu saja dulu deh, semoga bermanfaat.

 

__________
catatan:

terbalik upside down berbeda dengan terbalik inside out. Kalau aku tak salah ingat, film memang dibuat terbalik berupa negatif (inside out)


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..