In Memoriam Michael Crichton 1942-2008

6 November lalu, aku ditelepon seorang sahabat, penerbit, editor, adik kelasku. Dia orang sibuk. Tumben bener menelepon. After a couple of casual exchange, he said, "Sudah dengar Michael Crichton meninggal?"
Ya. Paginya aku sempat browsing internet dan membaca kabar itu. Meninggal karena kanker pada usia 66 tahun tanggal 4 November. 
"What Next?" tanyaku. Ini ironi. Novel terakhir Crichton berjudul Next, dan ternyata... kami tak akan membaca lagi yang berikutnya dari penulis hebat ini. Ya, kami sama-sama penggemar berat Crichton. Justru karena itu kupikir sobatku ini bela-belain menelepon. Ini berita penting melebihi urusan marketing buku atau editing naskah.

Novel Crichton pertama yang kubaca adalah The Andromeda StrainThe Terminal Man, dan Congo. Di zaman novel-novel berbahasa Inggris sulit didapat, passionku terhadap novel dan bahasa Inggris tumbuh pesat gara-gara buku-buku itu. Dan ketika Congo muncul dalam bentuk film, aku nonton sampai 3 kali di bioskop. Setelah itu, tak ada novel atau film Crichton yang luput dari incaranku, setipis apa pun kantong ini di zaman kuliah, hehehe. Aku bertekad membaca bahkan mengoleksi semua novelnya. Alhamdulillah, semua ada sekarang. Dan kini setelah beliau tiada, kupikir aku akan mulai membaca dan mengoleksi non-fiksinya.

Crichton bagiku juga inspirasi dalam menulis. Dia menulis apa saja, temanya sangat beragam, dari kedokteran yang menjadi majornya, teknologi informasi, biologi genetika, hukum, nano-teknologi, aviasi, legenda, sejarah, time-travel, space, hingga seni, dan lain-lain. Dukungan riset ekstensif dan kepiawaiannya dalam story-telling membuat buku-bukunya believable dan intriguing. Siapa coba yang pertama membangkitkan dinosaurus dari kepunahannya kalau bukan Crichton dengan Jurrasic Park-nya. 

Jauh sebelum Internet benar-benar melipat dunia, dia sudah menulis Disclosure. Bahkan dunia nano-teknologi yang baru-baru ini dirambah, telah digelar luas dalam novelnya Prey. Dan Next benar-benar membuat kita berpikir ulang tentang rekayasa genetika.

Satu lagi yang membuatku menempatkan Crichton di atas John Grissam, Dan Brown, apalagi Dean Koontz, adalah sense of humor dan kepekaannya terhadap lingkungan. Tercermin di semua novelnya. Dalam cerita setegang atau sepelik apa pun, ada saja bagian yang membuatku tertawa atau merenung.

Crichton bahkan bisa membuat suamiku yang semula tidak membaca fiksi jadi pembaca getol novel. Dia bisa membaca satu novel Crichton dalam sekali duduk. Luar biasa efeknya buatku, tentu saja. Antara lain, isi perpustakaanku melejit dengan cepat, hahaha. Dan komunikasi kami mempunyai cabang baru, tentunya.

Aduuh...mengingat itu, aku benar-benar kehilangan Crichton. Next is the last. Tak berlebihan kalau disebutkan bahwa, "He will be profoundly missed by those whose lives he touched, but he leaves behind the greatest gifts of a thirst for knowledge, the desire to understand, and the wisdom to use our minds to better our world."

(Deeply sighing)

Ini daftar novelnya:

The Andromeda Strain  [ filmnya 4 bintang juga]
The Terminal Man 
The Great Train Robbery  [ filmnya 5 bintang karena Pierce Brosnan-nya hehe]
Eaters of the Dead  [filmnya 4 bintang juga, dibintangi Antonio Banderas]
Congo  [filmnya 4 bintang, lebih bagus novelnya]
Sphere  [ filmnya 4 bintang juga, Sharon Stone dan Dustin Hoffman]
A Case of Need 
Jurrasic Park  [filmnya bintang 5 juga]
Rising Sun  [filmnya bintang 5, Sean Connery]
Disclosure  [filmnya bintang 4, Michael Douglas dan Demi Moore]
The Lost World  [filmnya payah, merusak novel!]
Twister  [film yang dibukukan sebetulnya, 4 bintang]
Airframe 
Timeline  [filmnya 3 bintang saja]
Prey 
State of Fear 
Next 

What Next?

Ouch... mungkin aku perlu menonton ulang seri Emergency Room (ER) untuk sedikit mengurangi rasa kehilangan ini. Who's with me?

 

Btw. a great and relieving news I just found out: 

His last novel is tentatively scheduled to be released posthumously on May 4, 2009. It was pushed back from its originally scheduled release date of December 2, 2008 . The title has not been revealed, but it has been assigned an ISBN (ISBN 978-0007241019). 

Can't wait....

___________________________________________________________
Catatan tambahan:


Pirate Latitude, the last of Crichton.... I finished reading it on Feb 6, 2010.


Following his untimely death, I sadly
accepted the fact that after "Next", there would not be his next novel. 

But then they found this novel in his computer. A complete work. It was a miracle. A kind of a put-off grief. I was one of the eager fans who waited for the publication. 

I enjoyed half of it. It's Crichton all right. Vivid cynical description. Funny remarks and word play. (A church which was seldom frequented, he said...haha) 

Of course, it's about pirate. And reading the book will remind you of The Pirate of Caribbean without Disney touch. And it reminds me a bit of Ocean Eleven, when Captain Hunter seek out his seamen, his retiring old friends, one by one. 

From the moment a kraken showed up, I started to miss something. In his previous books, Crichton always gave ample scientific information based on his extensive research. In Pirate Latitude, the information is just enough to make the story going. (It's only 312 p.) 

I think I agree with some reviewers who said, if only he had more time, the book would come out differently. 

I love the book, nevertheless. 

May he rest in peace. 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..