FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

 
21 October 17:00-18:00
Author: Ary Nilandari
Moderator: Jan Budweg
Theme: If one should think that stories for children must avoid any mention of conflict or terror, think of the Grimm Brothers whose tales have caused nightmares for generations of children. Even in these political correct days, violence is still the leitmotif in many children’s tales. Why is this so?

                                                                                         Ketemuan dulu di Jakarta, pas IIBF, untuk diskusi materi

 
Jan's note: we avoided the actual question of the description above “Even in these political correct days, violence is still the leitmotif in many children’s tales. Why is this so?“
It seems our (Ary & Jan) view of the topic is more centered towards:
 
- What is Darkness (beyond violence), and are there cultural differences in the answer to this?
- Why should it not be avoided in children‘s stories?
 
 
1. Diskusi Pembuka
 
Jan memindahkan fokus diskusi pada bahwa:
 
---Yang dimaksud ”darkness” tidak terbatas pada kekerasan dalam dongeng, maknanya lebih luas lagi. ---Kami berdua sepakat bahwa pada dasarnya tak ada yang perlu dihindari untuk bacaan anak, jadi tak ada perdebatan.
---Alih-alih, kami membicarakan darkness seperti apa yang perlu disisipkan dalam cerita anak, mengapa, dan bagaimana penulis dapat berseberangan pendapat dengan penerbit dalam hal ini.
 
2. Exploring Darkness
 
Jadi, jika kita perluas makna kegelapan dalam cerita-cerita untuk anak, melampaui yang biasa dicontohkan, yaitu kekerasan dalam cerita rakyat, what other content would you include in that description?
 
Saya kira apa pun yang berpotensi menyebabkan anak mendapatkan mimpi buruk bisa dianggap darkness. Bagi anak kecil, hal yang paling menakutkan barangkali konflik-konflik orangtua, seperti pertengkaran, perpisahan, pola asuh yang bertolak belakang dan membingungkan, pelecehan, pengabaian, dll. Dan tentu saja kematian, wajar/tidak wajar; bencana, perang, terminal illness, marginalisasi, pemaksaan, dan barangkali yang justru dianggap sepele orang dewasa: growing pains, sakitnya bertumbuh, termasuk gejolak emosi.
 
- Contoh ”Darkness” baik dalam cerita-cerita Barat dan Indonesia
- Kisah-kisah dari Grimm Brothers
- Cornelia Funke „Tintenherz”
- Roald Dahl „The BFG” and others
- Astrid Lindgren „Brüder Löwenherz” vs. „Ronja Räubertochter”
- Maurice Sendak „Where the Wild Things are”
 
Indonesian examples
- Banyak kisah rakyat yang diterbitkan untuk anak-anak cukup kelam dan biasanya dimodifikasi dan disensor → contohnya Hua Lo Puu (anak yang mati karena diabaikan) - atau Sangkuriang (yang jika disensor, tak ada cerita tersisa)
- Legenda Danau Toba, tentang kekerasan dalam rumah tangga, dan janji yang tidak ditepati.
 
 
 
3. Bagaimana perkembangan bacaan anak Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan aspek kegelapan yang kita bicarakan.
 
Saya akan coba menjawabnya sejauh yang saya amati dan mungkin tidak terlalu presisi karena tidak berdasarkan dokumentasi kronologis.
--- Pada awalnya, buku-buku anak berkisar pada cerita-cerita rakyat yang kebanyakan tidak ditujukan untuk anak.
---Kemudian muncul modifikasi dari kisah-kisah ini agar aman dikonsumsi anak.
---Dibarengi dongeng-dongeng baru dengan style mirip kisah tradisional tapi dengan tona lebih cerah. Style tradisional yang saya maksud adalah pola-pola yang biasanya ada pada cerita rakyat, seperti karakter hitam-putih, tema didaktis, kebaikan pasti mengalahkan kejahatan, keajaiban yang tidak terjelaskan, dll.
---Mulai muncul juga literatur dengan genre baru, seperti detektif, misteri, dll. Ini terimbas dari buku-buku luar/terjemahan yang masuk
---Bersamaan itu muncul cerita-cerita religi.
---Semua itu digabungkan menjadi kekayakan literatur anak Indonesia. Kebanyakan mungkin masih sarat muatan pendidikan.
---Sementara itu, buku-buku terjemahan dari Barat, komik Jepang, pop-kultur Korea terus membanjiri pasar Indonesia dan digandrungi pembaca.
---Dan kami sadar bahwa buku-buku lokal tidak akan mampu bersaing jika masih ditulis dengan paradigma lama yaitu menganggap anak sebagai objek untuk pengajaran, ceramah, pencetakan sesuai keinginan orangtua.
---Muncul keprihatinan bahwa anak-anak tidak suka membaca karena mereka lebih tertarik pada games dan melayari Internet untuk menonton anime atau membaca komik gratis. Mungkin benar demikian. Tapi awalnya, saya kira, mereka mulai bosan membaca karena terlalu sering dijejali buku yang tidak cocok dengan mereka. Dan belum ada buku yang klik, untuk menarik mereka kembali ke bacaan.
---Jadi, untuk memenangkan kembali anak-anak ini, banyak penulis mempelajari lagi teknik menulis untuk menghasilkan tulisan lebih baik, menghapus gaya parenting/ceramah, menyediakan tema-tema lebih beragam, menghadirkan karakter lebih bervariasi, plot yang memukau, dan memasukkan unsur kegelapan agar bacaan lebih mendebarkan.
---Sebagian penulis mencoba mengambil hati anak-anak dengan kisah-kisah “mendidik” yang dibungkus daya tarik Jepang atau Korea, misalnya pada ilustrasi dan setting.
---Tetapi buku anak yang mengajarkan sesuatu secara eksplisit dengan simbol-simbol religi kental pun masih mendominasi pasar.
 
 
 
4. Bagaimana dengan tema-tema gelap dalam karya Anda sendiri?
 
Saya menulis tentang kematian, kehilangan, pengabaian, kekecewaan, kesepian, kebingungan, pelecehan, bullying, bencana, perceraian, dll. Tapi saya tidak suka memunculkan monster atau penjahat yang menghantui benak pembaca cilik. Banyak yang seperti itu sudah ada di dunia nyata, sebagian bahkan sudah terpatri di benak anak-anak dari tontonan dan berita televisi. Saya lebih tertarik menulis cerita yang memberdayakan para tokohnya untuk menghancurkan moster-monster ini. Itu sebabnya saya tidak menulis horor.
Tapi saya menulis tentang anak-anak yang diabaikan, anak-anak tanpa ayah, anak-anak dengan masa lalu traumatis. Mereka merasakan real pain, real loss, yang digambarkan dengan real juga. Para tokoh ini belajar dan berjuang bahwa kemenangan mereka datang dari pengorbanan. Dari tekad untuk berdiri di tempat yang benar meski harus kehilangan sesuatu. Karakter yang dibuat berdaya melalui pengalaman dan pemikirannya, bukan karakter yang diposisikan sebagai korban dan mendapat bantuan dari sekitarnya.
 
Bisa beri contoh?
 
Saya menulis tentang sekelompok anak yatim piatu, anak-anak yang secara harfiah terbuang, salah satunya dibuang di tempat sampah. Mereka menjadi protagonis untuk novel YA, Pangeran Bumi Kesatria Bulan. Saya membekali mereka harga diri dan kecerdasan.
 
Saya juga menulis tentang anak lelaki kesepian dari keluarga disfungsional dan anak perempuan dari keluarga yang kacau, untuk praremaja, Keo&Noaki. Karena seri ini untuk anak-anak lebih muda yang masih bergantung pada orangtua untuk dibelikan buku, saya harus membuat seri ini menarik bagi orangtua juga. Jadi saya memasukkan unsur gelap ini sedikit demi sedikit dalam setiap serinya. Penekanan sementara ini lebih pada masalah coming of age, puberty, dan sebangsanya. Tapi nanti saat tokoh-tokoh beranjak usia, dosis kegelapannya akan ditambah, dan pembaca sudah lebih siap.
 
Tema kematian yang lebih menonjol ada di Negeri Bawah Air. Suicidal teenager dan sexual abuse ada di beberapa cerpen saya untuk young adult.
 
Mengapa menurut Anda aspek ini harus dimasukkan?
 
Beberapa psikolog menyarankan bahwa anak-anak dapat belajar menghadapi kenyataan menakutkan dalam realitas kehidupan melalui cerita fiksi, karena ada solusi di akhir. (Walaupun bukan berarti penulis harus selalu memberikan solusi). Anak-anak bisa “ikut” mengalami masalah dan “ikut” berjuang bersama si tokoh, dan pada akhirnya “ikut” merasakan kemenangannya. Sebuah buku cerita, dengan kata lain, adalah lingkungan terkendali dan aman, tempat pembaca belajar menghadapi pelbagai pengalaman, merasakan pelbagai emosi, dan menemukan akhir perjalanan, terminal istirahat: ending berupa solusi atau sekadar silver lining, harapan. Fear to be mixed with reassuring messages. Belajar menghadapi masalah adalah proses seumur hidup, tapi untuk memulainya, tak ada tempat yang lebih aman dari buku cerita.
 
Saya bahkan berharap DARKNESS hanya ada dalam buku cerita ketimbang MENYERGAP anak-anak kita di tengah hari bolong di tempat yang DIKIRA AMAN di kehidupan nyata tanpa seorangpun menduga. Faktanya, hal-hal itu bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, di mana saja, courtesy of the world and the very real existence of shadows.
 
5. Bagaimana dengan minat/kepentingan yang berbeda antara penulis dan penerbit.
 
Ya, perbedaan itu akan selalu ada, apa pun temanya. Penerbit mencari naskah yang dapat diserap pasar. Profit oriented. Apa pun yang dianggap sedang trend, sedang dicari orang, mereka akan menerbitkannya. Untuk buku anak di Indonesia, ada pasar besar dan terus berkembang. Buku-buku untuk balita dengan tema-tema favorit seperti kemandirian dan pengetahuan dasar akan terus diminati selama kelahiran bayi masih terjadi. Ada juga captive market untuk buku-buku didaktis dan religius. Kesan bahwa buku anak Indonesia berkisar pada tema yang itu-itu saja ya karena ini. Pasarnya masih meminta, produser tinggal memberikan. Tapi saya yakin akan selalu ada penerbit yang mencoba meraih audiens baru, mengambil risiko dengan menerbitkan konsep-konsep baru.
 
Penulis tinggal menulis naskah yang sesuai dengan keinginan penerbit atau menulis sesuai dengan minat dan idealismenya sendiri lalu mencari penerbit jodohnya. Sering juga kok penerbit menerima naskah tanpa batasan spesifik.
 
Dalam kaitannya dengan tema-tema gelap, mungkin penerbit lebih hati-hati karena memikirkan kesiapan pembaca. Siapa yang akan membeli buku itu? Biasanya orangtua. Apakah orangtua akan menerima tema seperti ini? Itu yang akan mengemuka lebih dulu.
 
Karena orangtua itu punya kecenderungan alami untuk melindungi anak dari segala yang dianggap membahayakan, sebagian orang dewasa bercaya buku anak harus manis, menenangkan, sesuai perkembangan dan tidak boleh ada gejolak yang meresahkan pembaca cilik. Mereka khawatir anak-anak ketakutan dan mengalami mimpi buruk setelah membaca buku dengan tema-tema gelap ini.
 
Tidak menyalahkan orangtua yang seperti itu. Tapi saya sendiri bukan orangtua seperti itu. Anak-anak saya dikelilingi orang dewasa dengan segala permasalahannya, berteman dengan sebaya dengan segala permasalahan juga. Mereka setiap pagi bangun, pergi ke sekolah, di jalan, bisa jadi ketemu dengan segala macam krisis dan tantangan tak terbayangkan. Mereka mendengar konflik dari percakapan dnegan teman, membaca berita, dll. Hal-hal yang dianggap mengerikan dan meresahkan itu lebih dekat daripada yang kita bayangkan. Mereka memerlukan buku yang dapat menghadirkan situasi itu ke hadapan mereka sekaligus memberi mereka clues atau petunjuk bahwa ada solusi. Hanya di buku konflik selalu disertai solusi dan pembaca distimulasi untuk menemukan sendiri pemecahan masalah. Dalam kehidupan nyata, konflik dan solusi bisa berada di dimensi berbeda yang sepertinya tak ada jalan untuk bertemu.
 
Jadi, saya kira sebagai penulis, kita perlu meyakinkan penerbit bahwa tema-tema gelap itu perlu bagi anak-anak. Dan meyakinkan orangtua pula bahwa tema-tema gelap dapat diberikan kepada anak-anak dengan porsi dan cara penyampaian tepat sesuai perkembangan target pembaca.
 
Satu contoh menarik adalah yang terjadi pada sebuah novel anak dengan tokoh gadis kecil penderita AIDS. Bukan saya yang menulis, saya hanya membaca draftnya dan saya kira bagus sekali. Penulisnya, sahabat saya, agak kecewa karena respons penerbit awalnya adalah ingin mengganti penyakit itu menjadi penyakit yang lebih ringan karena khawatir orangtua takut. Justru itu, kata sahabat saya, buku itu ditulis untuk memberikan informasi yang benar agar orangtua tidak takut lagi. Pada akhirnya, penerbit dan penulis sampai pada kesepakatan untuk tetap menampilkan AIDS, tapi mengubah fokus dan mengurangi intensitasnya. Saya kira itu bukan solusi yang bagus, tapi bisa jadi pelajaran bagaimana penulis mempertimbangkan semua opsi.
 
Pada penerbit, saya harap untuk lebih open minded. Memang saat pertama kali membaca naskah, yang terpikir adalah, “Siapa yang akan beli buku ini?” Tapi jangan lupa, kalau diet fisik saja perlu beragam, maka diet mental pembaca juga perlu keragaman. Asupan monoton akan membuat mereka bosan. Anak berhenti menyukai buku. Benci baca buku. Itu risiko jika anak-anak terlalu sering dijejali buku bacaan yang tidak klik dengan mereka. (Padahal diam-diam mereka membaca yang lebih gelap lagi di media lain) Buku yang tidak terjual dengan baik belum tentu berarti tema atau konsepnya yang salah. Sebelum menyalahkan kontennya, periksa dulu apakah marketing, promosi, dan distribusi sudah dilakukan dengan optimal. Di zaman sekarang, tiga hal itu jauh lebih menentukan ketimbang isi jualannya sendiri.
 
 
--------------------------------------------------------------------------
Special Thanks : Stefano Romano untuk foto-fotonya.

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



PELIK: Behid the Scene

PELIK: Behid the Scene

..more..

Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..