Excerpt Negeri Bawah Air: Memperkenalkan Hulubalang Rambe

Salah satu tokoh utama Negeri Bawah Air adalah Rambe Muhammad Ritonga, kelas 6 SD. Aku menyukai karakternya, periang dan ceplas-ceplos di permukaan, tapi bergolak di dalam sana karena merasa dirinya seperti anak kelinci yang terlupakan. Inilah excerpt novel Negeri Bawah Air yang memperkenalkan Rambe dan masalahnya yang mungkin tanpa kita sadari juga dirasakan anak-anak kita, dalam keluarga kecil sekalipun. Watch out Moms and Dads!

_____________________

.....

"Kapan terakhir kamu makan durian, Wan?" Rambe bertanya tanpa memandang Ridwan. Biji-biji durian di baskom menarik perhatiannya. Bentuknya tidak bulat lonjong dan montok seperti biji durian dalam negeri. Tapi kecil agak gepeng. Apakah karena jenisnya berbeda? Ataukah ada ilmuwan yang berhasil menciutkan biji dan menggemukkan dagingnya? Apakah biji seperti itu bisa tumbuh kalau ditanam?

Ridwan masih mengingat-ingat. "Barangkali sekitar dua tahun lalu. Pamanku datang membawa dua. Karena ibuku tak suka durian, aku makan satu buah utuh sendirian."

"Beruntung sekali," kata Rambe. "Terakhir kali aku makan durian itu musim durian yang lalu. Amang juga beli dua, kecil-kecil. Tapi kamu tahu, dengan sekompi anak, masing-masing cuma dapat dua butir."

Dan jatahnya malah nyaris dicomot Abang Maruli, karena waktu itu Rambe sudah tidur. Tak ada yang ingat untuk membangunkan dia. Untung saja Amang sudah menghitung isi durian dan membagi sepuluh. Untuk Amang-Uma dan delapan anak. Jadi, ketika tangan-tangan berhenti berseliweran dan tersisa dua butir, Amang heran. "Bagian siapa ini?"

Absen pun diserukan. Amang, Uma, Maruli, Mawar, Mariam, Oloan, Uly, Malina, Tagor...! Kok cuma sembilan. Amang dan Uma saling berpandangan. Ada anak yang belum disebut, tapi siapa? Coba diulang. Hati-hati, jangan sampai ada yang kelewat lagi.

Coba absen anak-anak dari yang paling besar. Mawar, Maruli, Tagor, Rambe, Mariam, Malina, Uly, dan Oloan. Sudah delapan? Ya. Jadi, siapa tadi yang terlupakan?

Rambe mendesah. Begitulah nasibnya. Dia bukan Angkang Mawar atau Abang Maruli. Mereka gampang diingat sebagai putri dan putra sulung. Sebentar-sebentar Uma akan berteriak, "Mawar! Ruli! Kasih contoh yang baik buat adik-adik kamu!"

Dia juga bukan Abang Tagor yang paling sering bikin Uma jengkel. "Tagor, simpan sepatumu di rak! Tagor, jangan ngomong sambil mengunyah! Tagor, PR sudah dikerjakan? Tagor, berhenti ganggu Uly! Lho, ini kaos kaki siapa? Tagooor?!"

Bukan pula Mariam yang selalu dipuji Uma karena sering jadi juara lomba menyanyi. Bahkan Malina dan Uly lebih mudah diingat karena celoteh mereka yang ramai. Dan jelas dia tidak seimut-imut Oloan. Sebagai anak bungsu saja, Oloan sudah merebut hati semua orang.

Rambe hanya anak laki-laki biasa, tak punya julukan, tak punya predikat "paling", tak banyak tingkah, mengalir tenang tanpa menimbulkan riak. Namanya jarang disebut di rumah. Barangkali karena itu dia sering terlupakan. Kalau kebetulan mereka saling berpapasan, Uma memanggilnya. Tapi Uma akan menyebut semua anak laki-laki, sebelum sampai pada nama yang benar. Papasan itu juga terjadi sekali-sekali saja. Uma lebih sering di dapur dan sumur sementara Rambe lebih banyak di luar rumah.

Kambing-kambing Pak Engkos malah lebih hapal namanya. "...Mbeee..." Sapaan itu terdengar setiap kali Rambe melewati kandang mereka.

"Mbe!" Ridwan menonjok bahunya pelan. "Kamu terhipnotis biji durian?"

....dst....

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Short Stories

Spin-Off

Writing for Kids



Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

..more..

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

..more..

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

..more..