(Dongeng) Putri Sejati

Tiara pulang dengan gembira. Buah-buahan hutannya habis terjual. Kebutuhan pokok hari ini tercukupi. Dia juga bisa membelikan oleh-oleh kejutan untuk ayah-ibunya yang sudah tua. Sampai di depan pondoknya yang miring-miring diterpa segala cuaca, Tiara tercengang. Sebuah kereta mewah kerajaan diparkir di halaman. Ketika dia melewatinya, saisnya buru-buru menekuk lutut dan menyapanya dengan sebutan Yang Mulia. Belum sempat Tiara memprotes orang yang salah alamat itu, ayah-ibunya keluar bersama seorang bangsawan. 

Bangsawan itu menatapnya takjub. “Benar-benar mirip Putri Krisan.”

“Putri Krisan?” Tiara heran. Dia tak pernah pergi ke ibukota, tak pernah melihat istana dan penghuninya.
 “Ayah, Ibu, ada apa ini?”

Ibunya menggamit lengannya. “Tiara, Tuan Kopaka ini sedang mencari Putri Krisan. Kemarin beliau melihatmu di pasar, dan mengira kau adalah sang Putri.” 

“Aku sudah putus asa mencari. Karenanya aku membutuhkan bantuanmu. Ikutlah bersamaku ke istana. Akan kujelaskan dalam perjalanan,” kata Tuan Kopaka. 


Setelah diyakinkan bahwa ayah-ibunya akan baik-baik saja, Tiara baru mau pergi.

Di dalam kereta, Pejabat Kerajaan itu mulai bercerita. Ada dua acara kenegaraan yang harus dihadiri Putri Krisan. Pertemuan khusus keluarga istana dan lawatan ke Lembah Gagak. Namun sampai hari ini, Putri Krisan masih menghilang. Istana akan gempar kalau dia tidak hadir. Pembatalan lawatan ke Lembah Gagak juga bisa menyulut perang. 

“Apakah Putri diculik?” Tiara cemas. Mungkin dia akan disuruh
 membebaskan sang Putri dari sekapan raksasa atau monster.

Tuan Kopaka tertawa. “Tidak, dia hanya berkelana, menyamar menjadi orang biasa. Itulah kesukaannya sejak kecil. Sejak dinobatkan menjadi Putri Mahkota, jadwal acaranya ketat dan ada larangan keluar istana. Namun di waktu senggang, Putri sering menyelinap keluar. Hanya aku dan istriku yang tahu. Kami membiarkannya. Dia Putri yang rajin dan cakap, tak ada salahnya bersenang-senang sedikit. Lagipula, dia biasa pulang tepat waktu. Hanya kali ini dia mungkin berhalangan. Jadi untuk acara-acara besok, harus ada pengganti Putri Krisan. Itulah tugasmu, Tiara. Dan ini rahasia.” 

“Aku menyaru sebagai Putri? Memangnya gampang?” Tiara merengut. “Orang-orang yang akrab dengan Putri pasti bisa membedakan.”

“Kukira tidak,” sahut Tuan Kopaka. Lalu dia menyuruh istrinya mendandani Tiara dan mengajarinya tata krama istana. 


Berkat kecerdasan dan kegigihannya, Tiara segera menguasai perannya sebagai Putri Mahkota. Namun pada pertemuan khusus keluarga kerajaan, ternyata dia tak perlu repot-repot berakting. Para pangeran dan putri duduk kaku di kursi yang saling berjauhan, lalu bergantian melaporkan kegiatan seminggu terakhir kepada Baginda dan Permaisuri. Tak ada canda tawa yang akrab seperti layaknya sebuah keluarga. Tidak aneh kalau mereka tidak menyadari penyamaran Tiara. Tak heran juga kalau setiap orang tampak ingin segera mengakhiri acara. 

Pertemuan dengan Raja Lembah Gagak berjalan lancar pula. Tuan Kopaka bahkan tidak perlu membisiki apa yang harus dikatakannya. Tiara mampu membujuk raja muda itu untuk mengakhiri sengketa sekaligus membuka hubungan dagang. Persahabatan terjalin, peperangan terhindarkan. 

Kedua acara itu sudah lewat, namun Putri Krisan belum kembali juga. Hanya ada kabar bahwa Putri menyamar sebagai kelasi dan nekad berlayar. Tuan Kopaka menjadi panik. Banyak acara, termasuk ulang tahun kerajaan, yang tidak bisa diundurkan atau dibatalkannya. Apa boleh buat, Tiara harus tinggal lebih lama. 


Dan waktu berlalu. Tiara mensukseskan setiap acara. Dia mulai merasa lebih cerdas dan pantas menjadi putri daripada Putri Krisan. Pakaian bagus, perhiasan mewah, pesta-pesta kaum ningrat, jalan-jalan ke manca negara…. Oh, bodoh sekali Putri Krisan menyia-nyiakan kedudukannya, pikir Tiara. Dan dia berharap, Putri Krisan menghilang untuk selamanya.

Pada hari ulang tahun kerajaan, Baginda dan Permaisuri menganugerahinya sekuntum mawar besar dari emas. Terukir pada pelat di bawahnya, “Untuk prestasi paling gemilang tahun ini”.

Tiara terpukau. Hadiah itu sangat istimewa dan berharga. Harus disimpan baik-baik. Dia akhirnya memberanikan diri membuka lemari Putri Krisan. Dan Tiara terbelalak. Di dalamnya, berderet mawar-mawar serupa dengan yang diterimanya. 

Jadi, Putri Krisan telah menerima hadiah dan ucapan yang sama berkali-kali. Alangkah membosankannya! Ayah-ibunya jauh lebih kreatif. Untuk setiap prestasi Tiara, mereka memberikan hadiah berbeda. Rangkaian bunga hutan, kalung biji-bijian, boneka jerami disertai ucapan-ucapan nan indah, penuh cinta, dan kebanggaan. Selalu penuh kejutan. 

Tiara terduduk di tempat tidur. Sudah berbulan-bulan dia meninggalkan ayah-ibunya. Kerinduan tiba-tiba menyesakkan dadanya. Tak ada yang bisa menggantikan mereka di sini, penguasa negeri pun tidak. Disadarinya kini mengapa Putri Krisan lebih senang berkelana. Tanpa kehangatan dan perhatian khusus orangtua, apa lagi yang bisa menjadi tambatan hati? 

“Aku bodoh kalau mau terjebak di sini selamanya,” gumam Tiara. “Kasihan Putri. Aku harus melakukan sesuatu untuknya.” 


Setumpuk pakaian samaran di dasar lemari memberinya gagasan. Dengan mengenakan baju pelaut, Tiara lalu menemui Tuan Kopaka. Dia mengaku sebagai Putri Krisan sejati yang baru pulang. Tuan Kopaka terkelabui. Dia berjanji akan melakukan apa saja untuk membuat Putri Krisan betah di istana. 
“Kalau begitu, aturlah agar pertemuan keluarga lebih akrab. Dan bebaskan aku dari pengawalan.” 


Tuan Kopaka menyetujui permintaan pertama. Namun soal pengawalan tidak bisa sepenuhnya dikabulkan. Pengawalan tetap ada, tapi tak lebih dari dua orang. Tiara merasa puas. Dan pada pertemuan keluarga kerajaan berikutnya, Tiara menerapkan semua kegiatan sederhana yang pernah dilakukannya bersama ayah-ibunya. Hasilnya luar biasa. Canda tawa menggema di istana.

Malam itu, Putri Krisan kembali. Sebelum Putri melihatnya, Tiara menyelinap pulang. Bahagia rasanya berkumpul lagi di bawah atap bocor bersama ayah dan ibunya. 

Sebulan kemudian, seorang gadis datang berkunjung. Wajahnya seperti bayangan Tiara dalam cermin. Tiara 
segera tahu siapa dia, namun tak disangkanya Putri Krisan jauh lebih jangkung dari dirinya. Ya ampun, bagaimana mungkin orang-orang istana tidak menyadari perbedaan sejelas itu? 

“Tiara, kau bisa saja mengelabui seisi istana, dan menyingkirkan aku selamanya. Tapi kau tidak melakukannya. Kau malah mengubah istana menjadi rumah yang menyenangkan untukku. Kubawakan hadiah yang kautinggalkan di lemariku. Kau pantas mendapatkannya. Kau berhati mulia seperti putri sejati,” kata Putri Krisan dengan riang. 

Tiara tersenyum. Putri tidak tahu bahwa dia sempat tergoda kemewahan istana. Untung saja dia teringat ayah-ibu yang mencintai dan dicintainya. Mereka membuat pondoknya lebih indah daripada istana.

(Dimuat Majalah Bobo Edisi Khusus Musik, ilustrator: Iwan Nazif, kawan lama yang telah melengkapi Misteri Elang Perak dengan ilustrasinya)


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..