(Cerpen Dewasa) Retas di Ujung Waktu

Aku mengintip ke dalam, melalui lapisan tebal debu pada kaca jendela. Jejak jemariku dari mingu lalu masih ada. Menggelikan, aku ke sini pertama kali dengan setelan putih dan pashmina mewahku. Niatku memberikan kesan baik tampak konyol. Penampilanku di tempat kusam terpencil ini jadi seperti adegan awal film horor murahan.

Hanya ada dua ruangan di dalam sana. Sebuah kamar tertutup dan ruang sisa berbentuk L yang berisi satu meja, satu kursi, satu kompor, dan satu panci saja. Di mana dia menerima tamu? Di teras ini? Atau…aku bergidik. Barangkali aku tamunya yang pertama sejak puluhan tahun lalu.

Aku harus menyelesaikan ini segera. Kembali kuketuk pintu keras-keras. Terdengar batuk-batuk dari samping rumah, dan lelaki itu muncul menyeret kaki kanannya.

Kecelakaan itu membuatnya cacat seumur hidup.

Dia membelalak. "Kamu lagi!"

"Ya..." Aku meragu. Apa sebutan yang pantas untuknya? Teman nenek berarti seorang kakek. Tapi dia tak pernah menikah, tak pernah punya cucu. Pak atau Om juga terasa janggal bagiku.

"Huh! Masih mewakili nenekmu?" tanyanya sinis.

"Nenek tidak bisa datang sendiri...." Kugigit bibirku. Aku telah melihat Nenek tersenyum lega. Senyum yang sepantasnya baru kuterima setelah aku berhasil mendapatkan maaf lelaki itu untuk Nenek.

"Kamu pikir, aku akan memaafkannya kalaupun dia sendiri yang datang?" sergahnya kasar.

Aku mundur selangkah ketika dia naik ke beranda. Tapi dia tidak mendekatiku atau mengusirku lagi, hanya mengempaskan diri di kursi rotan di bawah jendela. Matanya mengisyaratkan agar aku duduk di kursi satunya. Kain bantalan kursi itu kelabu suram. Entah apa warnanya dulu. Aku duduk diam mengamatinya.

Dari bentakannya, semula kubayangkan dia laki-laki gagah berwibawa menjelang enam puluhan. Melihatnya dengan jelas sekarang, aku jadi sangsi apakah dia benar-benar pemuda tampan dalam foto menguning yang disimpan Nenek. Nenek tampak lebih muda dan segar. Setidaknya sebelum kanker itu menaklukkannya...

Dia mendengus lagi. "Keadaanku tidak jadi lebih baik dengan memaafkannya!"

"Saya tahu. Tapi besar artinya bagi Nenek. Demi ampunan Allah, permasalahan dengan manusia harus dibereskan dulu, bukan? Itu sebabnya, keinginan Nenek cuma satu, dimaafkan sebelum...sebelum...."

"Ajal?" sambungnya pedas.

Aku menggigit bibir lagi. Kesinisannya kumaklumi. Yang tak kuduga hanyalah betapa beratnya perasaan tak berdaya ini, perasaan orang yang terpaksa menadahkan tangan. "Saya mohon, berikanlah keinginannya."

Wajahnya mengeras. Keriput di ujung-ujung matanya semakin pekat. "Kamu tahu apa yang diperbuatnya dulu terhadapku?"

"Nenek menyesalinya. Dia tersiksa dihantui perasaan bersalah dan mimpi buruk..."

Tawanya menukasku. "Pergilah!" katanya, tanpa bekas tawa sedikitpun di wajahnya.

Aku terperangah. Nenek sudah memperingatkan aku. Tapi aku yakin bisa melunakkan hatinya. Aku tidak percaya ada hati yang bisa mati mendahului pemiliknya.

"Pergi, kataku!"

"Tapi, Nenek..?"

"Tak akan kumaafkan. Katakan itu padanya." Begitu dingin. Begitu tenang.

Aku tak beranjak. Barangkali harus kuingatkan bahwa masih ada sanak saudara yang ingin merengkuhnya kembali dalam kehangatan keluarga. Harapan mereka tersulut lagi ketika aku menerlepon mereka dalam usahaku melacak jejaknya.

Dia bangkit dengan susah payah dan masuk ke dalam rumah. Pintu dikuncinya. Kata-kata yang hendak kuucapkan terpaksa kutelan lagi.

Kunjungan keempat

"Bagaimana kamu bisa menemukan aku?"
"Saya menghubungi banyak orang." Aku enggan memaparkan usahaku. Bukan untuk itu aku datang lagi.

Agaknya dia juga tak serius ingin tahu. Dia asyik menisik robekan pada sebuah kemeja. Sunyi sesaat. Hanya angin menderit-derit di antara rumpun bambu di sudut kebun. Hih, aku tak ingin berada di sini malam-malam.

"Saya mengerti, betapa sakitnya dibohongi dan dikhianati sahabat sendiri. Kalau saya yang mengalaminya, mungkin saya juga akan membenci Nenek. Tapi itu sudah lama berlalu. Saya mohon, maafkanlah dia..."

"Berapa usiamu?"

Aku menelan ludah. Kata-kataku diabaikannya. "Hampir delapan belas."

"Kamu nyetir sendiri sedan yang diparkir di ujung jalan sana?"

Aku mengangguk.

"Hati-hati, jangan sampai nabrak orang."

"Saya tidak suka ngebut."

"Bagus. Bayangkan, kalau ada orang yang tiba-tiba lari menyebrang jalan. Yah, memang orang itu salah sendiri, tidak lihat kanan-kiri dulu. Tapi kalau dia sedang mabuk dan dikejar polisi,
bagaimana lagi?"


Dia ditabrak sebuah mobil ketika sedang lari menghindari polisi. Sebuah perkelahian, seseorang terbunuh.

"Saya tidak bisa membayangkan akibat perbuatan Nenek. pasti sangat berat...."

"Pulanglah!" Pelan namun menusuk.

"Saya mohon..."

Dia terburu-buru berdiri, nyaris terjerembab. Aku sigap menangkap tangannya. Setelah posisinya stabil, dia menyentakkan tangannya lepas. Ada kilatan api di matanya sesaat sebelum dia membuang muka dan meninggalkan aku. Api di matanya. Namun, tangannya yang ringkih seakan berselimut es.

Kunjungan kelima

Aku sendirian di beranda. Pintu dan jendelanya terkunci. Salamku tak sanggup memancingnya keluar. Dia merajuk. Kesimpulan itu begitu saja melintas dalam benakku. Nenek pernah merajuk, mengunci diri seperti itu. Waktu itu Kakek belum lama meninggal dan aku memilih kos dekat kampus. Ayah dan Ibu tak sanggup membuat Nenek keluar kamar. Aku duduk di lantai, berbicara sendiri tentang dosen, ujian, cowok, tukang serabi langganan kami, sampai kehabisan kata kecuali, "Nek, Lani sudah kebelet pipis, nih. Keluar dong."

Terlintas keinginan untuk melakukan monolog seperti itu di sini. Entah bagaimana, aku bisa merasakan kesepiannya. Kesepian mewujud hanya setelah seseorang merasakan kehadiran orang lain. Kehadiranku telah mengganggu kesendiriannya. Dan dia menyadari itu. Dia tidak mau menemuiku agar tidak merasa kesepian setelah aku pergi.

Monologku hanya akan mempertajam rasa sepi. Sebaiknya kutunggu saja. Kemeja yang kemarin dijahitnya masih tergeletak di kursi. Aku duduk dan meneruskan menjahit robekan di bagian punggung.

Telah kusaksikan bagaimana benang hubungan antar manusia diputuskan oleh kebohongan. Dan pengkhianatan meretasnya lebih lebar dalam sekejap.

Telah kusaksikan pula betapa menyakitkannya rasa bersalah bagi yang melakukannya. Terutama ketika usahanya menyambung benang-benang itu tak juga berhasil sementara waktu sudah tak ada lagi. Apa yang kusaksikan sudah kualami sendiri sekarang.

Kuat-kuat tanganku menarik benang. Kuingin apa yang telah kuretas kembali rapat seperti robekan kemeja ini. Oh ya Allah, apa yang telah kuperbuat terhadap Nenek? Aku tak mungkin menyambung benang di antara kami tanpa bantuan-Mu, ya Allah.

Waktu. Hanya itu yang kubutuhkan. Hanya itu yang tak kumiliki. Sesenggukan aku berlari pergi. Aku tak mau menangis di sini.

Kunjungan keenam

"Siapa namamu?" Bibir pucatnya bergetar. Di balik jaketnya, kulihat kemeja yang kemaris kutisik.

"Leilani."

"Nama yang indah."

Aku tersenyum. "Nama Hawaii. Artinya bunga surga. Nenek yang memberiku nama itu." Kuamati wajahnya. Kalaupun ada perubahan, itu sangat samar. Tampaknya dia sudah mau mendengar aku menyebut Nenek. Harapanku subur lagi.

"Ini, saya bawakan sup ayam jamur. Mau makan sekarang? Mumpung masih hangat. Kalau saya tidak enak badan, nenek membuatkan sup seperti ini. Saya bisa sembuh tanpa obat."

Dia memperhatikan aku membuka tutup mangkuk, menghirup aroma sup dengan mata terpejam, penuh perasaan. Hanya sesaat. Mendadak dia melengos, matanya berlari cepat menyusuri jalan setapak di depan rumah, ke jalan raya, dan tak mau kembali.

Apakah dia berharap mati saja dalam kecelakaan itu? Barangkali menurutnya mati lebih baik ketimbang hidup cacat dan mendekam lama di penjara. Seandainya dia tidak minum-minum setelah ditinggal kekasih, seandainya dia tidak berkelahi dan lawannya tidak terbunuh, apakah hidupnya sekarang akan berbeda?

Benar kata Nenek, dia rapuh. Hanya orang rapuh yang memilih tidak bersinggungan dengan orang lain.

Dulu, diam-diam Nenek mencintainya. Mendekatinya, dan menjadi sahabatnya. Tetapi laki-laki itu justru menceritakan cintanya pada gadis lain, tanpa menyadari ada hati yang terluka. Nenek menyaksikan cinta mereka berpadu dan melakukan apa saja untuk memisahkan mereka. Nenek membohonginya, mengkhianatinya.

Gadis itu pun meninggalkannya. Nenek siap menggantikannya. Tapi dia terlalu rapuh untuk digenggam. Cinta Nenek memudar, berganti rasa bersalah dan penyesalan.

"Sup ini buatan saya. Baru belajar, jadi rasanya mungkin tak keruan."

Pelan-pelan, dia kembali, memandangku. Tajam mengiris.

Begitukah dia memandang Nenek ketika Nenek datang ke selnya untuk mengakui perbuatannya? Atau ketika dia menumpahkan sup yang dibawakan Nenek pada kunjungan berikutnya? Atau ketika Nenek berkali-kali berhasil menemukan dirinya setelah dia bebas? Atau ketika dia mengucapkan kalimat pamungkas bahwa dia tak ingin melihat wajah Nenek lagi selamanya?

"Terima kasih. Tinggalkan saja. Kamu pulanglah, sudah sore."

"Saya..." Suaraku serak. Aku merasakan kepedihan Nenek.

"Pulanglah, Lani."

Kunjungan ketujuh

Aku meletakkan sekeranjang buah di atas meja. Dia mengangguk untuk berterima kasih. Aku terkesima dengan kekakuannya. Kukira, sudah ada kemajuan kemarin.
Dia tetap berdiri di ambang pintu. Sorot matanya seakan berkata, "Pergilah, aku tidak mau berbicara denganmu sekarang."

Kunjungan kedelapan

"Kamu tidak kapok juga?"

Nadanya menciutkan hati, Tapi karena dia sudah duduk di kursi rotan itu seakan menungguku, aku tersenyum lebar. Kukeluarkan bungkusan roti dari tasku. "Saya tidak akan menyerah sebelum Nenek dimaafkan."

Tarikan napas panjang. Mata menatap lantai. Kesunyian membuatku resah lagi. Ketika akhirnya dia berkata, hanya gumaman, "Dia menderita sekali, ya?"

Aku tak sanggup menjawab.

Rasa bersalah seperti beban tak kasatmata yang dirantaikan ke kaki Nenek, membuatnya tak mampu berjalan apalagi berlari mengejar hidup. terseok-seok sendirian, tertinggal. Tak ada yang boleh melihat beban itu, termasuk suaminya. Baru setelah Nenek terbaring di rumah sakit, beban itu ditunjukkan kepadaku. Pergelangan kakinya sudah membusuk dengan luka tak terawat. Nyerinya menyebar ke setiap sel tubuhnya, lebih menyakitkan ketimbang kanker yang menggerogotinya.

Mataku berkabut. Aku ingin membantunya melepaskan beban itu. Tapi kuncinya hanyalah maaf dari lelaki ini.

"Kalau aku memaafkannya, kamu masih mau datang ke sini?"

Dan aku jatuh berlutut. Tetesan air mataku membentuk bulatan gelap pada tegel berdebu.

"Lani, beri aku kertas dan bolpen. Akan kutulis surat untuk nenekmu. Kamu begitu mencintainya sehingga kebencianku makin terasa salah. Aku memaafkannya. Sebetulnya, kusalahkan dia hanya karena aku terlalu pengecut untuk menjadi pemeran utama dalam hidupku sendiri."

Kuberikan apa yang dimintanya, dan cemas menunggu kalau-kalau dia berubah pikiran. Kapan terakhir dia menulis? Masih ingatkah dia caranya? Tapi surat itu selesai, kertas dilipatnya. "Berikan ini kepada nenekmu segera."

Kugosokkan tanganku yang kotor pada jinsku sebelum kuterima surat itu dengan takzim. Aku telah mendapatkan kuncinya.

"Terima kasih,...."

"Panggil aku kakek. Aku setua nenekmu." Dia tersenyum.

"Baik, Kek," kataku lega. Tak perlu lagi menghindari memanggilnya.

***


Surat itu kuletakkan di depan nisan Nenek. Beberapa genggam tanah merah basah kutumpuk di atasnya. Angin tak akan bisa menerbangkannya.

Nenek, ketika aku bilang bahwa dia telah memaafkanmu di kunjunganku kedua, aku hanya mencoba mengakali waktu. Agar kau mendapatkan keinginanmu yang terakhir sebelum waktumu tiba. Ya, Nek, aku telah membohongimu. Aku telah meretas benang di antara kita justru ketika waktumu sudah datang menjelang. Tak kupikirkan bagaimana menyambungnya nanti.

Tapi lihatlah surat ini, Nek. Ini maafnya yang sesungguhnya. Inilah yang kau inginkan. Tak terlalu terlambat kan? Lagipula, dia memaafkanmu selagi kau masih hidup dalam pikirannya. Ya, Nek, aku telah membuatnya berpikir seperti itu. Aku telah membohonginya juga. Meretas benang di antara kami.

[cerpen ini dimuat Majalah NOOR, April 2005]


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..