(Cerpen Anak) Hadiah Ramadhan Terindah

Etalase toko itu memajang aneka mainan baru. Mataku beralih cepat dari satu mainan ke mainan lain. Sementara, Hendra dan Alfa dengan ribut menunjuk-nunjuk. 

“Yang itu hadiahku kalau puasaku tamat!” seru Tatan, menarik perhatian kami semua. Langsung terdengar wah wow bersahutan. Di tengah etalase, satu set trek balap berdiri megah, melingkar, menyilang, naik-turun. Tempat start ada di bagian atas. Sepuluh buah mobil balap kecil berjajar di sana, beraneka bentuk dan warnanya. Pantas, Tatan bersemangat sekali mengajak kami ke sini sepulang sekolah.

“Berapa ya harganya?” Hendra setengah bergumam. “Pasti mahal.” 

“Iya, lagian tinggal dua lagi. Mama akan membelinya segera, takut kehabisan.” 

“Kok hadiahnya duluan? Kalau puasamu nggak tamat, gimana?” tanya Alfa membuat kami tertawa. Ramadhan tahun lalu, waktu kami kelas tiga, Tatan pernah tertangkap basah makan kue di bawah bangku. 

Wajah Tatan memerah. Aku merangkulnya sebelum dia meledak marah. 
“Pulang, yok. Mendungnya sudah tebal tuh!”


Ketika kami hendak pergi, datang seorang anak laki-laki sebaya kami. Dia memandangi sudut etalase. Aku memperhatikannya sejenak. Tubuhnya kurus, pakaiannya kusam kedodoran, dan sepatunya tipis berlubang. Apa yang ada di benaknya ya? Kupikir, semua mainan itu tak terjangkau olehnya, karena kalau dia punya uang, pastilah sepatu dulu yang akan dibelinya.

Toko mainan di seberang sekolah adalah penyakit, kata Ibu. Tapi kita tidak bisa melarang orang berjualan. Tinggal kita yang harus kuat menahan godaan. Sekali-sekali membeli mainan sih boleh-boleh saja, asalkan harganya terjangkau. 

Itulah masalahnya. 

Aku berlatih puasa sejak kelas satu. Awalnya hanya sampai dzuhur, tahun berikutnya sampai ashar, dan kemudian sampai magrib. Setiap aku berpuasa, Ibu memberiku bendera kecil berwarna putih. Bendera putih bisa kutukar dengan stiker. Atau kalau ditabung, sepuluh bendera putih bisa ditukar dengan satu bendera perak. Bendera perak itu bisa ditukar dengan sebuah buku cerita. Tapi kalau kukumpulkan, tiga bendera perak bisa ditukar dengan satu bendera emas. Lalu, bendera emas itu boleh kutukarkan dengan hadiah yang lebih besar. 

Sayangnya, track set di etalase itu tidak masuk dalam hitungan. Aku yakin, Ayah dan Ibu akan mengatakan mainan itu terlalu mahal. Tapi tak ada salahnya mencoba. Maka malam itu juga, aku membujuk Ayah dan Ibu. Mainan itu bagus sekali. Pasti asyik kalau aku punya sendiri, tidak perlu nebeng main di rumah Tatan.

Tapi baru beberapa hari kemudian Ayah memutuskan, “Baiklah, Gun. Kau boleh menukar bendera emasmu dengan mainan itu. Tapi ada syaratnya. Uang sakumu dikurangi separuh selama sebulan ke depan. Dan kita beli mainan itu nanti, setelah lebaran. Siapa tahu kau berubah pikiran. ” 

Tidak, bantahku dalam hati. Aku yakin aku cuma mau mainan itu. Syarat Ayah langsung kusetujui. Dan sejak saat itu, sepulang sekolah aku selalu menengok etalase. Aku bersyukur track set itu masih ada. Hanya aku mulai khawatir karena anak laki-laki kurus itu semakin sering juga ke sana. Jangan-jangan dia menginginkan mainan itu pula, dan entah bagaimana dia akan bisa membelinya lebih dulu.

“Hei!” Akhirnya aku menyapanya. “Kamu mau beli apa?”

Dia menoleh, tersenyum, dan mengarahkan telunjuknya ke sudut etalase. Aku miris melihat jari seringkih ranting kering itu. Segera kualihkan mataku pada mainan yang ditunjuknya. Boneka? Aku tercengang. Sudah kurus, kesukaannya aneh pula!

“Aku ingin sekali menghadiahkan boneka itu kepada adikku. Mirna baru belajar puasa. Jadi masih sering menangis karena lapar dan haus. Kalau ada boneka itu, dia pasti lupa makan-minum.”

Aku tertegun, ingat kisah yang pernah diceritakan Ibu. Dahulu, Rasulullah Saw. mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar untuk menyampaikan perintah berpuasa. Kaum muslimin di sana langsung berpuasa dan melatih anak-anak mereka berpuasa pula. Anak-anak itu lalu dibuatkan mainan dari bulu domba, agar tidak menangis meminta makan.

Keinginan anak itu membuatku kagum. Lalu, kenapa dia tidak membelinya saja sekarang? Ramadhan kan sudah berjalan. Harga boneka itu juga jauh lebih murah ketimbang track set. Kalau mau, aku bisa menukarnya dengan satu bendera perak saja.

Seakan memahami pikiranku, anak itu berkata, “Nggak mungkin terbeli. Untuk makan sehari-hari pun, ibuku sudah bekerja sangat keras, mencuci baju di beberapa rumah.”

“Ayahmu?” tanyaku.

Anak itu menggeleng. “Sudah meninggal.” 

Kami terdiam. Hujan mulai turun. Aku mengeluarkan payung, bersiap untuk pulang. Anak itu memperhatikanku dan tiba-tiba menjentikkan jarinya. “Aha, payung! Terima kasih ya telah memberiku ide.” Lalu tanpa menunggu jawabanku, dia pergi menembus hujan. Tinggal aku terbengong-bengong.

Hari-hari pun berlalu cepat. Kegiatan Ramadhan di sekolah dan di rumah membuatku tidak lagi memikirkan anak kurus itu. Hanya kalau aku mampir ke toko mainan, aku bertanya-tanya tentangnya. Track set itu tinggal satu. Boneka itu masih terduduk di sudut. Namun kami belum pernah bertemu lagi.

Akhirnya, seminggu setelah Idul Fitri, Ayah dan Ibu mengajakku ke toko itu. Dengan gembira aku memeriksa track set terakhir. Sebentar lagi aku bisa asyik bermain seperti Tatan. Sempurna, tak ada cacat. Ayah sudah siap membayarnya.

Namun tiba-tiba, seorang anak laki-laki yang basah kuyup kehujanan masuk ke toko. Kurus, baju kebesaran, sepatu tipis berlubang. Anak itu…

Di depan pelayan toko, dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan segenggam uang kertas ribuan dan recehan lain. “Aku ingin membeli boneka yang di sana itu,” katanya di antara gemeletuk giginya. “Kukira uangku cukup. Tolong dihitung.”

Pelayan itu menatapnya curiga. “Kamu dapat dari mana uang ini?” 
“Bekerja,” sahutnya lantang. “Ngojeg payung di mal sana. Ayolah Teh, uang itu halal kok. Aku harus membawa boneka itu pulang untuk adikku. Dia hebat, puasanya tamat.”

Dengan enggan, pelayan toko itu menghitung uangnya. 

Aku mendekati Ayah dan Ibu. “Aku nggak jadi beli track set. Kalau boleh, aku mau memberikan bendera emasku kepada anak itu. Biar dia memilih sendiri hadiahnya.”

Entah kenapa, aku merasa bahagia sekali dengan keputusanku. Lebih bahagia daripada ketika aku menerima hadiah Ramadhan yang lalu-lalu. Senyum penuh syukur anak itu adalah hadiah terindah yang pernah kuterima.

(Cerpen ini dimuat majalah Valens, Ramadhan 1424 H)


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..