Cernakku di My Story : Sepele Tapi Bencana

Edisi perdana My Story menampilkan cernakku "Sepele Tapi Bencana" sebagai cover story. Tidak kuduga, tapi jelas merupakan kehormatan bagiku. 

My Story merupakan kumpulan cerita anak yang ditulis penulis-penulis pilihan (cieee....aku cuma meneruskan pesan sponsor lho), yang di antaranya adalah penulis-penulis cilik berbakat. (hehehe, asyiknya karyaku disandingkan dengan karya anak-anak ini...)

Penulis dewasa, selain Ary Nilandari (Aih, rada aneh ya menyebutkan nama sendiri dengan lengkap), ada Rini Nurul Badariah (yang merangkap sebagai penerjemah semua cerita ke dalam bahasa Inggris), Rani Yulianty, dan J. Windaya.

Isinya beragam dari cerita sejati, diari, misteri, sains, jenaka...dsb.

Buku (atau majalah ya?) kumcer ini duamuka, satu berbahasa Indonesia, dan satu lagi berbahasa Inggris. Mencerminkan isinya yang dwibahasa.

To cut the long story short, ini excerpt dari cernakku di My Story:


 

Sepele Tapi Bencana


Ada sebuah negeri di kaki pelangi. Sekilas pandang saja, keadaannya membuat hati trenyuh. Sepi, murung, dan lesu. Bahkan di pasar dan di sekolah. Kenapa? Menurut buku sejarah negeri itu, seabad yang lalu, terjadi duel antara rajanya dan penyihir hitam. Raja menang. Tapi, penyihir hitam yang licik sempat melancarkan kutukan sebelum menghilang. "Vocalittera! Huruf vokal akan mendatangkan bencana bagi kalian."

Kutukannya terdengar sepele. Tapi penduduk segera tahu, hidup mereka selamanya tak akan mudah lagi. Sejak saat itu, bayi-bayi diberi nama dengan rangkaian huruf konsonan yang sulit diucapkan. Seperti Krn, Nd, dan Snt. Toko-toko menghapus huruf vokal pada papan nama mereka. Jadi TK BRG bisa berarti toko burung atau toko barang. Orang yang ingin membeli roti bisa keliru masuk ke toko Rita yang menjual perhiasan.

Huruf vokal juga harus dibuang dari percakapan.Tak heran penduduk memilih tidak berbicara. Untuk berkomunikasi digunakan bahasa isyarat atau pesan tertulis di kertas. Misalnya, "B, Nyl prg k rmh tmn. Plng sr." Bisa kau tebak artinya? Yah, sangat merepotkan, walaupun penduduk akhirnya terbiasa dengan rangkaian huruf konsonan.

 

Apakah semua orang menerima saja kondisi itu? Adakah yang tidak memercayainya? Apa akibatnya kalau berteriak, "AIUEO!"?
Bagaimana memunahkan kutukan itu? Ikuti petualangan THN dalam kisah ini.


Sudah ah, segitu saja ya...
Kisah ini selengkapnya bisa dibaca di MY STORY. (Semoga aku berhasil membuat teman-teman penasaran....hihihihi)


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Short Stories

Spin-Off

Writing for Kids



Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

..more..

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

..more..

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

..more..