(Cerfet) Harmonikaku 10

Bab 10

Harmonikaku

Henggar Junior

oleh: Arynsis

 

Pada mulanya, barangkali, adalah kebetulan…

Dari semua lelaki di Jogja, ibunya telah memilih Henggar Adibroto

Dari segala macam solusi di dunia ini, ibunya memilih tidak memberitahukan kehamilannya kepada lelaki itu dan merelakannya menikahi wanita lain.

Dari semua nama yang tersedia di dunia ini untuk bayi laki-laki, ibunya memberinya nama Henggar, sama dengan ayah biologisnya.

17 tahun kemudian,

Dari semua orang di terminal Umbul Harjo, dialah yang membawa Ibu Hastuti ke rumah sakit.

Dari semua kegiatan yang bisa dilakukannya, dia memilih secara teratur menjenguk wanita malang itu, dan akhirnya bertemu dengan suaminya, Henggar Adibroto.

Dari sekian banyak orang yang bisa diajaknya menjenguk Ibu Hastuti, dia memilih mengajak ibunya, dan pertemuan itu memecahkan kebisuan Ibu selama itu tentang siapa ayahnya.

Henggar Adibroto adalah bapak biologisnya.

Henggar Lintang tersenyum masam. Bapak biologis, frase itu diberinya garis bawah beberapa kali. Sekadar mendamaikan hatinya yang bergejolak dengan kebencian. Dia cuma bapak biologis. Bukan seorang ayah. Apapun alasannya, bagaimanapun kejadiannya, lelaki yang telah menghancurkan ibunya, lelaki yang telah membuat gila istrinya, tak akan pernah menjadi ayahnya. Tak pernah.

Dia kembali menekuri kertas penuh coretan di depannya. Baginya, kertas dan pena adalah teman akrabnya dalam berpikir dan merenung. Kata demi kata ditariknya keluar dari benaknya yang ruwet. Lalu garis, silang, guratan melingkar-lingkar di atas kata-kata itu menjadi perwujudan emosinya. Kertas yang berlubang, robek, atau diremas dan dilemparkannya ke tempat sampah selalu mewakilinya berbicara tentang kemarahan.

Kebetulan….

Sekali lagi dia tuliskan kata itu.

Dari semua kota di Indonesia, Ibu memilih Bandung untuk setting babak baru kehidupan mereka.

Dari semua lelaki yang pernah melamarnya, Ibu menerima pinangan duda bernama Wibisono. Tiba-tiba saja dia memiliki ayah dan dua adik tiri.

Tanpa diketahuinya, rupanya…

Dari semua kota di Indonesia, Bandung pula yang dituju si Henggar Adibroto untuk memboyong keluarganya.

Dari semua gadis di kampusnya, Panji, adik tirinya, memilih mencintai Ita, putri Henggar Adibroto, adik tirinya juga.

Dan dari segala macam perasaan yang pernah dikenal manusia, dia justru merasakan kasih sayang besar terhadap Panji dan Ita.

Bukan kebencian karena dia tahu ayah macam apa yang dimiliki mereka masing-masing. Perasaan Henggar terhadap kedua bapak itu, entah bagaimana, sama sekali tidak menginterferensi.

Dan ke dalam mangkuk berisi mi kehidupan mereka yang saling membelit, bergulung menjadi satu, telah ditambahkan pula mi panjang lurus milik Sara, mi ruwet basi milik Johan dan Risa, mi gila milik Murti, mi busuk milik para partner firma hukum tempatnya bekerja sekarang.

Semua kebetulan itu, Henggar telah menghitung probabilitasnya masing-masing. Probabilitas untuk setiap peristiwa terjadi sendiri-sendiri sangat kecil. Probabilitas untuk semua peristiwa terjadi susul-menyusul, jelas lebih kecil lagi, bisa dibilang nol. Dengan peluang kecil yang artinya nyaris mustahil, setiap peristiwa ternyata tetap terjadi dan telah terjadi. Menjadi rangkaian peristiwa yang tidak lagi tampak kebetulan atau acak. Siapa lagi yang bisa membuat terjadi serangkaian peristiwa yang peluangnya nol untuk terjadi, kalau bukan yang Maha Berkehendak?

Di dunia ini, tak ada yang namanya kebetulan. Dilingkarinya kalimat itu dengan puas. Kursi berkeriyut nyaring disandari punggung kukuhnya. Semua peristiwa mengalir ke satu titik, ke sebuah tujuan. Henggar Lintang punya peran di dalamnya. Dia tahu apa yang harus dilakukannya. Dia sudah memainkan sebagian peran itu, dan akan memainkan sisanya, sesuai kisikan hati dan arahan kepalanya.

Dia menyambar ponselnya dan menekan speed dial nomor 1.

“Ada apa sayang?” suara Sara serak mengantuk.

“Maaf aku membangunkanmu. Lupa sekarang sudah jam dua,” sahut Henggar, benar-benar merasa malu.

“Masih jam dua dini hari, sayang.” Sara meralatnya, sekarang terdengar cemas. “Kau bergadang lagi? Apa para lawyer berbulu domba itu kurang puas dengan tagihan besar yang kauhasilkan bulan lalu?”

Henggar tertawa. “Tidak. Mereka sangat puas dan tak akan mengusikku dalam 1-2 bulan mendatang. Aku anak emas mereka sekarang.”

“Oh aku lupa kau sudah memutuskan untuk mengikuti jejak mereka menjadi devil’s advocate.”

“Sara…” Henggar tercekat, meneguk ludah, menahan diri. “Klienku memang bejat, Sara. Tapi kami melawan orang yang jauh lebih bejat lagi…”

“Oke, kalau itu bisa menjadi justifikasimu. Aku tak bisa mendebatmu, Tuan Pengacara.”

“Sara, aku menelepon bukan untuk itu.”

“Maaf, sayang,” Sara kembali manis. “Ada apakah?”

“Masih ingat alasanku menunda pernikahan kita?” Henggar tak menutupi semangatnya.

“Tentu. Kau ingin tahu dulu tempatmu di dunia ini. Terlalu filosofis dan mengada-ada untuk kucerna.”

Henggar hanya tertawa.

“Kau sudah menjadi pelindung ibumu. Kini dia aman dan bahagia. Tugasmu bisa dibilang selesai. Tapi katamu, ada lagi peran lain yang belum kauketahui. Baru setelah itu selesai, peran pamungkas menjadi suamiku bisa dilaksanakan.”

“Ya, Sara. Dan aku sangat berterima kasih dan semakin mencintaimu karena pengertianmu itu…”

“Apakah kau sudah tahu tugasmu yang lain itu?”

“Ya. Baru saja kusimpulkan. Aku tak bisa menceritakannya padamu sekarang. Tapi aku perlu doa restumu untuk menjalaninya. Setelah ini selesai, I am yours.”

Sara tertawa pertahan. “Baiklah sayang. Doa dan restuku menyertaimu. Aku sabar menunggu.”

Henggar memutuskan percakapan. Meletakkan ponselnya. Mematikan lampu kamar kerja.

---oo0oo---

Henggar 11 tahun berdiri di depan kelas. Semua menunggu. Apa yang akan diceritakannya tentang ayahnya? Bu Guru memberi tugas bercerita dengan tema “aku bangga dengan ayahku”. Henggar begitu menyukai guru baru itu, jadi tidak menolak ketika akhirnya mendapat giliran ke depan.

Setelah beberapa saat, Henggar kebingungan. Bodoh, makinya dalam hati. Apa yang bisa diceritakannya tentang orang yang tak pernah dilihatnya, tidak dikenalnya, bahkan tidak diketahuinya apakah masih hidup atau sudah mati. Teman-temannya mulai saling berbisik. Dia tahu apa yang mereka gunjingkan. Dia hanya tak menduga ada yang berani mengacungkan tangan dan mengambil alih ceritanya.

“Henggar tak punya ayah, Bu Guru! Kata ibuku, ayahnya tak bertanggung jawab.”

---oo0oo---

Henggar 22 tahun duduk semeja dengan keluarga barunya. Pak Wibisono duduk di samping Ibu. Merangkul bahunya dengan mesra. Mata Ibu berbinar bahagia. Henggar lupa kapan terakhir melihat kening Ibu tak berkerut seperti sekarang. Sudut-sudut bibirnya terangkat ke atas. Ibu tampak begitu muda. Padahal sudah 38. Tahun-tahun sebelumnya, Henggar lebih sering melihatnya sebagai wanita menua yang lelah akibat kerja keras dan derita. Tak pernah dia mendengar Ibu mengeluh. Tapi Henggar tahu, kehidupan tak mudah bagi seora
ng remaja yang hamil di luar nikah, dikucilkan dari keluarganya, bekerja apa saja untuk persiapan melahirkan, mengurus bayi sendiri, dan membesarkannya hingga sang putra sekarang menjadi seorang sarjana hukum.

Selama ini sang putra memang telah berusaha melindungi ibunya. Melabrak siapa saja yang menghinanya dengan ayunan tinju kecilnya. Dan setelah besar, dengan kefasihannya menggunakan mulut, dia membungkam mereka yang mencaci maki. Si putra ikut pula bekerja sedapat mungkin untuk biaya kehidupan mereka. Dan setelah besar, dia bertekad untuk mengangkat ibunya di taraf kehidupan lebih layak. Tapi sebelum cita-cita itu berhasil, Ibu telah disunting seorang pengusaha kaya yang langsung bisa membahagiakannya.

Henggar menghela napas. Terasa tangan Ibu meremas tangannya.

“Henggar, jangan muram begitu. Kau telah berbuat banyak untuk Ibu, Nak. Sudah waktunya kau tidak lagi mengkhawatirkan Ibu dan mulai memikirkan diri sendiri.”

Henggar terkesiap. Ada perubahan lagi pada cara Ibu memanggil namanya. Pernah dulu, nama itu disebutnya dengan penuh harap, cinta, dan getar kerinduan. Lalu setelah pertemuan dramatis dengan Henggar Adibroto di rumah sakit Bethesda, nama itu jarang keluar dari mulutnya. Nada putus asa dan penyesalan begitu terasa kalau Ibu terpaksa menyebutkan nama itu. Henggar akhirnya meminta Ibu memanggilnya Lintang saja. Dan mereka berdua bahu-membahu menguatkan satu sama lain.

Kini, baru saja, namanya disebutkan dengan ringan tanpa beban. Ibu telah melupakan Henggar Adibroto.

---oo0oo---

Henggar 24 tahun duduk semeja dalam dinner mewah di hotel Sheraton Bandung bersama Pak Wibisono dan dua sahabatnya, Pak Rambe dan Pak Kusbianto. Mereka adalah pasangan terkenal dari Rambe-Kusbianto Law Firm di Jakarta. Dia tak akan ada di sini seandainya Ibu tidak memaksanya untuk “sedikit” memberi penghargaan terhadap ayah tirinya. Kata Ibu, Pak Wibisono hanya berusaha menjembatani jarak di antara mereka, dan mencoba membantu melejitkan kariernya sebagai advokat.

“Rambe berhutang budi padaku, Henggar. Aku bisa mengusahakan kau bekerja di firmanya. Bukankah kau ingin sekali hidup mandiri di Jakarta?” Begitu kata Pak Wibisono sewaktu mereka berdua masih di dalam mobil.

Henggar terdiam, tak yakin harus menanggapi bagaimana. Dia memang ingin memisahkan diri dari keluarga baru ibunya, tapi bukan untuk bergabung dengan sebuah firma hukum yang sudah mapan dan terkenal arah sepak terjangnya. Dia ingin membentuk firma sendiri. Bersahaja tetapi menyuarakan gagasannya sendiri tentang keadilan. Calon kliennya adalah mereka yang terpinggirkan.

“Henggar,” Pak Rambe menariknya lagi dalam obrolan hangat mereka. “Namamu menjadi buah bibir dan bahan perdebatan kita.”

Henggar terpana.

Pak Kusbianto menepuk bahunya keras. “Henggar, apa kamu pikir, kita para advokat tua hanya duduk tenang menikmati keuntungan tanpa mencari siapa yang akan meneruskan firma kita nanti? Lagipula ada kebanggaan tersendiri kalau kami bisa menemukan orang muda berbakat dan ambisius dan menggemblengnya sampai sukses.”

“Namamu mulai muncul setelah memenangkan gugatan malpraktik Narti terhadap departemen kesehatan. Gila! Kami pikir, kasus itu tak mungkin menang. Bayangkan, sudah 15 tahun kejadiannya. Salah imunisasi. Siapa yang akan peduli dan ingat.”

“Aku peduli, Pak Rambe. Dan Bu Narti akan terus ingat, gara-gara imunisasi yang dilakukan petugas puskemas secara sembarangan itu, putranya sekarang lumpuh tak berdaya. Umur 15 tahun tubuhnya lebih kecil dari anak 5 tahun. Masih mengenakan popok, disuapi, dan digendong ibunya ke mana-mana. Bu Narti akan terus ingat, karena dia dicerai suaminya yang tak mau ikut repot. Selama 15 tahun Bu Narti mencari keadilan. Aku hanya membantunya mewujudkan itu. Tapi apa pun yang diperolehnya sekarang tidak akan menggantikan apa yang telah hilang darinya.”

“Dan apa yang kamu peroleh dari kasus itu, kalau aku boleh tahu?” tanya Pak Kusbianto sinis.

Tidak meminta dan mendapatkan sepeserpun, kata Henggar, hanya dalam hati. Karena dia tidak ingin memuaskan kesinisan mereka. “Aku mendapatkan apa yang biasanya dicari pengacara baru. Ketenaran. Buktinya Anda berdua ada di sini sekarang.”

Pak Rambe terbahak-bahak. Perut gendutnya berguncang-guncang. “Kus, kau kalah lagi. Wib, kami bertaruh tentang Henggar ini. Dan aku menang untuk kedua kalinya. Henggar tidak senaif yang dikiranya!”

“Bagaimana dengan kasus Murti itu? Kasus terakhirmu yang sedikit kontroversial. Aku bertaruh dengan Rambe. Kupikir, izin praktikmu pasti dicabut setelah kamu berbalik menyerang klienmu sendiri dan membebaskan terdakwa. Aku kalah lagi. Kamu melenggang bebas. Bahkan mendapat pujian dari dua kubu advokat yang berseberangan. Satu kubu menyatakan kamu pengacara bening nurani, kubu lain menyanjungmu sebagai pengacara paling licik di jagat ini. Yang benar sebetulnya yang mana?”

“Biarkan itu menjadi teka-teki, Pak Kus. Unpredictability makes the game more interesting, bukankah begitu moto Anda?” sahut Henggar, kembali berkelit.

Wajah Pak Kusbianto memerah. Dia memaksakan tawa yang terdengar sumbang. “Hati-hati, anak muda.”

Pak Rambe sekali lagi terbahak-bahak. “Ah Kus, jangan terlalu diambil serius. Aku suka anak ini. Aku suka sekali. Henggar, kutunggu kamu di kantorku Senin nanti.”

“Tunggu dulu, Mbe. Biar kuuji dulu dia sekali lagi.” Pak Kus memungut koran hari itu, dan meletakkanya di depan hidung Henggar. “Kamu kenal siapa ini?”

Henggar mengangguk. Headline koran itu terbaca dari jarak lima meter sekalipun. Fotonya menampilkan seorang mantan pejabat yang diduga terlibat kasus korupsi.

“Maukah kamu kalau dia memintamu membelanya?” tanya Pak Kus tajam.

Koruptor tak tahu malu, terang-terangan menyalahgunakan uang negara dengan alasan kepentingan rakyat. Tampaknya begitu pemikiran itu terlintas dalam benak Henggar, sorot matanya tak bisa menyembunyikan kejijikannya. Pak Kus sudah menyeringai penuh kemenangan sebelum Henggar memikirkan jawaban diplomatis.

“Kena kamu! Kuterima kamu bekerja di firmaku. Jangan sebut aku Kusbianto kalau tidak bisa mengubah pemikiranmu itu dalam 3 tahun!”

Henggar mendesah. Dia bangkit permisi untuk ke rest room. Pembicaraan itu sangat melelahkan. Dan rasanya dia perlu mengguyur kepalanya dengan air dingin.

---oo0oo---

Henggar 24 tahun duduk di depan dokter Hibrata di rumah sakit jiwa. Kehebohan yang ditimbulkannya akibat kasus Murti belum sepenuhnya reda. Dokter itu termasuk yang membaca semua berita tentangnya. Dan untungnya termasuk yang memberikan dukungan bahwa yang dilakukan Henggar benar.

“Kesimpulannya, Murti tidak membaik, tapi juga tidak memburuk,” kata dokter Hibrata. “Jangan khawatir, dia tanggung jawabku sekarang, Henggar.”

Henggar mengangguk. “Saya mengerti, Dok. Terima kasih telah menjelaskan keadaannya. Sebetulnya saya masih berharap bisa bertemu dengannya.”

Dokter Hibrata tersenyum. “Untuk apa? Henggar, lupakan kasus itu. Jangan merasa bersalah. Kau telah menyelamatkan seorang pemuda yang tak bersalah dari kehancuran lebih parah. Carilah kasus baru, buat lagi kehebohan dengan menunjukkan kebenaran!”

Henggar tersenyum, menjabat tangan dokter dan berlalu. Ya, tak ada yang bisa dilakukannya untuk Murti. Sekali pernah dokter Hibrata mengizinkannya menjenguk wanita malang itu. Dia malah dimaki-maki Murti sebagai lelaki biadab yang menghancurkan hidupnya.

Biadabkah dia? Sebagai penasihat hukum, dia telah melakukan tugasnya dengan baik. Murti dibantunya mengajukan tuntutan secara damai agar pelaku menikahinya. Tetapi tuntutan itu ditolak mentrah-mentah. Henggar kembali membantunya membawa masalah itu ke pengadilan. Tapi belakangan pemuda terdakwa ditemukan tidak bersalah oleh Henggar sendiri. Ketika keja
dian berlangsung, anak muda itu sedang terbang dibuai ekstasi. Murti tahu itu dan menggunakan kesempatan untuk memfitnahnya. Tujuan Murti adalah terbebas dari aib dengan menikahi pemuda kaya itu dan mendapatkan jaminan seumur hidup. Dari penyelidikan Henggar pula, diketahui pelaku sebenarnya adalah paman Murti sendiri. Henggar telah membuka aib keluarga dan menjatuhkan Murti semakin dalam. Padahal Murti adalah korban. Korban seharusnya dilindungi dan dibela. Henggar merasa bersalah karenanya.

Henggar masih ingat benar kata-katanya kepada gadis itu, bahwa dia paling benci pemerkosa dan lelaki tak bermoral, bahwa dia akan sebisa mungkin mengurangi derita Murti dengan mengganjar habis pelakunya. Sambil berkata begitu, dia mengintip keluar dari tirai jendela. Tampak di pinggir jalan di depan kantornya seorang tukang becak beristirahat. Hampir setiap hari, pada jam yang sama, tukang becak itu berhenti di sana. Pura-pura menunggu penumpang atau beristirahat. Mencari-cari kesempatan untuk menemuinya, untuk berbicara dengannya. Tidak, pikir Henggar, tak ada maaf untuk lelaki yang membuat Ibu menderita.

“Seperti lelaki itu,” gumam Henggar sebal. “Dia mendapatkan ganjarannya.”

“Siapa?” tanya Murti heran, tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. “Tukang becak itu?”

Henggar tidak menjawab. Dia mempersilakan Murti pulang. Persiapan sidang cukup untuk hari ini. Dari jendela, dilihatnya Murti berbicara dengan Henggar Adibroto, lalu pergi menumpang becaknya.

---oo0oo---

Henggar 27 tahun duduk di depan ibunya. Dia baru saja mendengar cerita ibunya tentang kericuhan dalam keluarga Wibisono. Bagaimana Panji dipaksa menikah dengan Risa. Bagaimana Johan dan Risa mengetahui hubungan Panji dengan seorang gadis kampung penjual rujak. Dan bagaimana Risa membuat ibunya bingung. Risa telah datang sendirian dan meminta pendapat “calon mertua”-nya tentang contoh undangan pernikahan, daftar tamu, menu katering, dll.

“Ibu menasihatinya agar tidak terburu-buru. Apalagi Panji akan pergi ke Semarang. Tapi Risa tidak mau dengar. Katanya, tukang rujak itu sama sekali bukan hambatan, dia sudah membereskannya.”

“Apa maksudnya, Bu?” Henggar terlonjak dari kursinya. “Apa yang telah dilakukannya terhadap Ita?”

“Ita?”

“Ita adalah gadis yang dicintai Panji, Bu. Putri Ibu Hastuti…”

Ibu menatap Henggar terperangah. Jelas nama itu berkesan mendalam, tak kalah dalam dari nama Henggar Adibroto. “Aduh…Henggar, apa yang telah terjadi?”

Henggar menyodorkan segelas air kepada ibunya. “Minumlah Bu. Maaf, aku mengagetkan Ibu. Bagaimana Panji dan Ita bertemu tidak penting. Yang penting sekarang, aku perlu tahu apa yang dilakukan Risa terhadap Ita?”

Ibu menggeleng. “Risa tidak bilang apa-apa lagi.”

“Bu, kita harus menolong Panji dan Ita. Percayalah, tak ada pasangan lebih serasi dari keduanya. Tolong Ibu bujuk Pak Wibi untuk membatalkan pertunangan Panji dengan Risa.” Henggar tanpa sadar mengguncang bahu ibunya. Semakin putus asa ketika melihat ibunya menggeleng. “Kalau batal tak mungkin, bujuk saja dia menunda pernikahan. Siapa tahu penundaan itu memberi kesempatan pada semua orang untuk berpikir.”

“Baiklah Henggar. Akan Ibu usahakan. Ibu yakin bisa. Ayah tirimu tidak sekeras yang kaubayangkan, asal tahu cara membujuknya.”

Henggar tersenyum. Dikecupnya pipi montok Ibu. “Aku akan kembali ke Jakarta malam ini dan berpikir juga. Telepon aku ya Bu tentang hasilnya.”

---oo0oo---

Henggar tahu apa yang dilakukannya. Karena kini dia tahu tujuan dari semua peristiwa itu ke mana.

Dari sekian banyak alasan yang dipikirkannya untuk menolak tawaran Pak Rambe dan Pak Kubianto di Sheraton waktu itu, dia memilih tidak beralasan sama sekali dan menerima tawaran mereka.

Dia ingin membuktikan Pak Kus salah, bahwa idealismenya tak akan semudah itu mereka ubah dalam 3 tahun.

Selama tiga tahun ini dia telah berhati-hati menerima setiap tugas. Tak segan menolak jika itu bertentangan dengan nuraninya. Tak ada kemajuan berarti dalam kariernya. Dia masih berada di level rendahan selama dua tahun pertama.

Setahun terakhir sangat disadarinya strategi Pak Kus berubah. Dia sering dilemparkan ke daerah abu-abu. Membela yang bejat untuk menghancurkan yang lebih bejat. Sempat dia bertekad untuk keluar, namun entah kenapa kesempatan untuk itu tak pernah sungguh-sungguh diambilnya.

Dari pergaulannya dengan banyak advokat sefirma dan banyak klien di daerah abu-abu itulah dia mengenal nama Johan dan sekian banyak perusahaan yang berinduk pada nama itu. Dia banyak mendengar desas-desus bahwa Johan mengalami kebangkrutan dan telah dibantu firma ini untuk terus berdiri. Konon, Johan memegang beberapa nama partner firma ini dan seabreg nama pejabat di sakunya, menjadi kartu truft jika dia dibiarkan jatuh.

Tugas Henggar sekarang adalah mencari bukti itu. Sekali tepuk dua-tiga nyawa melayang. Sekali kayuh 3-4 pulau terlampaui. Dia hendak melawan api. Bukan api yang hanya bisa menyengat atau melepuhkan. Tapi api yang bisa membakar dirinya diam-diam dan tanpa bekas hingga musnah dari muka bumi ini, kalau dia tidak menggunakan kecerdikannya.

“Untuk itu, Sara, kumohon doa restumu. Inilah peranku selanjutnya. Sudah diplot demikian.” Henggar memejamkan mata dan tertidur dengan senyum tersungging.

---oo0oo---

Ita mengempaskan diri di kursi kereta. Penumpang sekursi belum kelihatan. Keberangkatan memang masih setengah jam lagi. Dia menyesal telah menolak Panji untuk mengantarnya. Sedang apa dia sekarang. Ada denyut tak nyaman mengganggu hatinya. Seolah semalam akan menjadi pertemuan terakhir mereka. Ah, tidak. Tak mungkin. Tak ada yang mengucapkan selamat tinggal.

Ita membuka tas hitamnya. Mencari bacaan pengalih pikiran. Dan dia melihat amplop tebal itu. Sebelum berangkat tadi, seorang kurir tak dikenal datang mengantarkannya. Ita melihat kiriman itu untuknya, jadi dijejalkannya begitu saja ke dalam tas dan bergegas pergi, takut tertinggal kereta.

Tak ada pengirimnya, kening Ita berkerut. Dibukanya terburu-buru, beberapa lembar foto jatuh melayang ke lantai. Panji dan seorang gadis. Di depan rumah Panji, di dalam rumah, di sebuah restoran. Tampak gadis itu menempel manja. Ita memunguti foto-foto itu dengan perasaan tiba-tiba membeku. Tangannya bergetar keras. Badai membuncah di dadanya, mendesak air mata yang berusaha ditahannya agar tak tumpah. Selain foto-foto itu, ada selembar sampel undangan pernikahan. Nama calon mempelai jelas: Panji dan Risa. Tanggal pernikahan dan tempat resepsi masih blank.

Pipinya sudah basah tanpa sadar. Isak tersendat nyaris menjadi tangis kalau dari tirai air mata itu tak dilihatnya sesosok tubuh mendekat. Segera dihapusnya air mata dan dimasukkannya kembali amplop itu ke dalam tas.

“Halo, kita ketemu lagi! Ita kan?” Elang berdiri di sana dengan cengiran lebar.

Ita tersenyum. “Maaf, aku baru saja menangis. Ingat ibu dan bapak. Mereka sendirian sekarang tanpa aku.”

Elang duduk dan menyodorkan tisu. “Aku mengerti. Eh, kemana temanmu yang waktu itu? Aku harus minta maaf padanya, karena selama perjalanan ke Jakarta tempo hari kayaknya kita berdua asyik mendengarkan lagu dan mengobrol. Kukira dia diam saja karena cemburu.”

Ita tertawa. Di dadanya terasa lagi tusukan itu. “Dia ditempatkan di Semarang.”

“Astaga! Apa reaksinya kalau melihat kita sama-sama ke Jogja?”

“Gak apa-apa. Dia bukan siapa-siapa. Cuma teman yang sebentar lagi juga akan menikah.” Suara Ita melirih.

“Oh….” Elang hendak mengatakan sesuatu ketika ponselnya berdering. “Maaf. Ya ampun. Pak Deni lagi. Orang personalia PT Emerald. Kamu tahu kan?”

Ita mengangguk. Saat itu seorang ibu hendak duduk di samping
nya dan mengulurkan tiket kereta sebagai bukti untuk mengusir pemuda tak tahu diri yang duduk seenaknya ini.

“Tunggu sebentar, Pak Deni,” kata Elang. “Bu, maaf, bisakah kita tukar kursi saja. Temanku ini suka muntah dalam perjalanan. Kursi saya di gerbong satu lagi. Terima kasih.”

Si ibu memandang Ita dengan kasihan dan jijik. Buru-buru menukar tiket Elang dan berlalu. Ita membelalakkan mata pada Elang. Elang meringis sambil kembali pada ponselnya.

“Ya, Pak Deni. Dia ada di sini bersama saya…. Sebentar saya tanya. Ta, nomor ponselmu berapa?”

Ita menggeleng. “Gak punya.”

Elang tercengang. “Katanya gak punya, Pak. Yaa memang. Hari gini….” Dia tertawa. “Oke Pak. Akan saya sampaikan.” Elang mengantongi ponselnya. “Pak Deni bilang akan ada orang yang menunggu kita di hotel dan langsung membawa kita ke satu site begitu sampai. Sedang ada trouble. Prototipe antena pemancar yang mereka pasang tidak beres juga. Gila. Semua trouble shooting yang dilakukan teknisi sampe engineer perancangnya sendiri gagal. Mereka membutuhkan kita. Oh ya, Pak Deni yang memberitahuku, kita bakal satu divisi, satu tim.”

Ponselnya kembali berdering. Elang merutuk jengkel. Ponselnya menunjukkan video call. “Ini kepala teknisi. Dari kemarin dia terus menelepon juga. Namanya Pak Tris.” Elang menerima panggilan itu dan mendekatkan ponselnya pada Ita. Mereka berdua bertatapan dengan seorang lelaki di layar. “Kalian seharusnya sudah di sini sekarang,” keluhnya. Lalu menyemburkan serangkaian masalah teknis tentang tower, kabel, indikator framelock yang menunjukkan kegagalan alignment. Bla-bla-bla.

Ita dan Elang saling berpandangan. “Aduh, kedengarannya gawat ya, Pak,” kata Elang. “Tapi apa boleh buat, kami masih di kereta Pak. Baru besok nyampe. Gimana dong?”

“Bisakah saya melihat posisi antenanya, Pak?” tanya Ita tiba-tiba, dia kasihan sekali melihat lelaki itu begitu panik nyaris meletus.

Layar segera menunjukkan benda itu secara close-up.

“Apa yang bisa dilihat?” gerutu Elang.

“Bisa mundur lagi, agar saya bisa lihat posisinya relatif terhadap tower,” teriak Ita.

Antena bergerak mundur, semakin kecil. Kerangka tower tampak silang menyilang di sekelilingnya.

“Itu antenanya dipasang di dalam tower ya Pak?” Ita menjadi yakin telah menemukan penyebab masalah.

Wajah lelaki itu kembali muncul. “Ya. Kenapa?”

“Coba pindahkan ke luar. Jangan sampai ada kerangka tower yang menghalanginya.”

Percakapan berakhir. Elang memandang Ita penuh pertanyaan. Ita tertawa. “Masalah klasik yang silly. Kami pernah membuat kesalahan yang sama waktu kerja praktik dulu. Ya ampun Elang, masa kamu tidak tahu. Ingat sifat gelombang elektromagnetik!”

Elang menepuk kepalanya. Tergelak. “Bodohnya aku. Hebat Ita. Aku bisa mengandalkanmu. Pak Tris pasti senang berhasil mengatasi masalahnya. Eh apa itu?” Elang membungkuk, menjulurkan tangan ke kolong kursi depan.

Kepala Elang begitu dekat dengan lutut Ita. Mau tak mau Ita memerhatikan anak-anak rambut yang jatuh simpang siur di bawah telinga dan tengkuknya. Rambutnya yang gondrong dikuncir asalan. Ada sesuatu dalam pemandangan itu yang membuat darah Ita berdesir cepat. Begitu berantakan dibandingkan Panji. Ita memalingkan muka ke jendela.

Elang menyerahkan selembar foto kepadanya. “Punya temanmu rupanya. Jatuh dari tasmu?”

Risa tampak memeluk erat bahu Panji dari belakang. “Eh i-iya. Kenangan dari mereka. Ini calon istrinya. Tampak mesra ya?”

Elang menelengkan kepala mengamati foto itu dengan saksama. Lalu menggeleng. “Aku gak sependapat. Tampang cowok itu seperti sedang dipeluk laba-laba blackwidow. He he he. Maaf, aku lancang. Jangan bilang-bilang mereka ya.”

Ita tersenyum lebar. Dia suka keterusterangan Elang. Disimpannya foto itu di dalam tas. Didengarnya Elang bersiul mengatasi gemuruh kereta. Love hurts… Ita ikut bersenandung.

---oo0oo---

Previous chapters:
Bab 9Bab 8Bab 7
Bab 6Bab 5Bab 4,
Bab 3Bab 2Bab 1.
 

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Short Stories

Spin-Off

Writing for Kids



Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

..more..

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

..more..

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

..more..