Bukuku Sayang

Masih ingat seloroh ini: "Hanya orang bodoh yang meminjamkan buku kepada orang lain. Tapi orang yang mengembalikan buku pinjaman adalah orang gila."
Kalau tidak salah, (correct me if I am wrong) Gus Dur yang ngomong begitu dalam pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia.

Tapi aku tidak merasa bodoh meminjamkan bukuku. Dan aku tidak merasa gila mengembalikan buku yang kupinjam. Pinjam-meminjam buku adalah hal pintar dan waras. Perlu dilakukan demi kelanggengan manfaat buku itu sendiri. Buku baru bermanfaat kalau dibaca, kan? Dan semakin banyak orang membacanya, semakin menyebar luas manfaatnya.

Aku pintar dan waras dalam hal ini sampai aku sendiri meragukannya.

Saat itu aku memegang sebuah buku yang baru dikembalikan oleh seorang teman. Aku tak percaya itu buku milikku, karena waktu kupinjamkan beberapa bulan sebelumnya, buku itu masih gres dan mengilap, pinggiran kertasnya saja masih bisa melukai.
Kini buku itu kucel dengan segala definisi, interpretasi, dan konotasinya. Ahh.

Jika aku meminjam buku (sekarang jarang banget, mendingan beli deh), aku tidak diwanti-wanti pemiliknya. Jadi, aku juga tidak mewanti-wanti orang yang meminjam bukuku. Aku tahu etika menjaga buku pinjaman. Kuanggap peminjam bukuku juga tahu etika itu. Buku kukembalikan tanpa robek, terlipat, tercoret-coret, atau kusut. Jadi, aku mengharapkan bukuku dikembalikan orang dalam keadaan prima juga.

Etika ini bukan sesuatu yang sulit. Hanya perlu kepedulian untuk melakukannya. Dan ternyata, etika ini juga bukan sesuatu yang baru. Sarjana-sarjana Islam zaman dulu telah membahasnya dengan serius. Salah satunya, Al-Almawi (w.1573), membahas etika pinjam-meminjam buku dalam satu bab khusus bukunya. Almawi juga mengisahkan anekdot tentang Abu Al-'Athahiyah yang tidak suka meminjamkan bukunya. Si peminjam berkata kepadanya, "Tidakkah engkau tahu bahwa kehormatan (makarim) justru selalu timbul dari perbuatan yang tak disukai pelakunya (makarih)?" Athahiyah pun terpaksa meminjamkan bukunya.

Aku masih mau meminjamkan bukuku. Terutama kepada teman, karena teman akan lebih mengasyikkan kalau bisa diajak berdiskusi tentang buku yang sama. Tapi untuk menghindari kesan cerewet, akhirnya aku merancang pembatas buku berisi pesan, "Jagalah buku ini agar tidak terlipat, robek, tercoret, atau hilang. Terima kasih telah membaca dan mengabadikan hikmah di dalamnya."

Setiap bukuku kuselipi pembatas ini. Kalau cara ini berhasil, dan buku-bukuku bisa pulang dengan selamat, berarti aku pintar dan waras. Hehehe.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..