Belajar dari Tulisan Lama

Jangan pernah membuang tulisan lama kita. Tulisan-tulisan itu bisa memberikan gambaran tentang perkembangan keterampilan kita dalam menulis.

Baca lagi tulisan setahun lalu, sebulan lalu, atau bahkan seminggu lalu. Biasanya kita jadi tertawa sendiri atau malah berkerut kening.

“Kok bisa ya, aku menulis begini?”

Dengan wawasan dan pengalaman bertambah, biasanya kita akan mudah menemukan kelemahan dalam tulisan lama, dan itu akan menjadi bahan pembelajaran untuk menulis lebih baik lagi sekarang dan esok.

Sebagai contoh, aku menemukan kalimat ini pada cerita anak yang kutulis tujuh tahun lalu:

Karena peristiwa kebetulan itu, mereka akhirnya berteman.

Oh oh, aku yang sekarang tidak akan menulis seperti itu, untuk anak pula. Karena menurutku sekarang, tidak ada peristiwa kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur oleh Yang Mahakuasa. Bahkan aku menemukan kalimat itu saja bukan kebetulan, yang berlanjut dengan aku menulis catatan ini.

Itu contoh yang berkaitan dengan sudut pandang, pemahaman, dan pemaknaan yang berubah terhadap kehidupan. Semakin dewasa, semakin matang, mestinya kita semakin bijak. Semoga.

Contoh lainnya mungkin kelemahan dalam aspek kebahasaan:

  • Ungkapan yang tidak baku, salah eja, salah makna: Merubah, tak bergeming (untuk diam), didalam, di aduk, membumbung (untuk terbang semakin tinggi), kasatmata (untuk tak terlihat), seringkali, syurga, rejeki, dsb.
  • Ungkapan redundan atau pleonasme: menggelengkan kepala, menundukkan kepala, memikul di bahu, banyak orang-orang, pulih kembali, saling bantu-membantu, dsb.
  • Pengulangan: dulu, sebagai pemula, kepala kita dipenuhi ide dan kata berjejalan. Semua ingin ditumpahkan. Satu pernyataan diulang-ulang, atau diberi penjelasan panjang, kadang dalam satu paragraf, kadang dalam satu cerita. Khawatir pembaca tidak menangkap maksud kita. Sekarang, kita tahu, kalau kita mengerti dengan satu kalimat saja yang diungkapkan efektif dan jelas, maka pembaca pasti juga mengerti.
  • Hambur kata: terkadang kata amat, sangat, cukup, terlalu, sekali, yang membarengi kata sifat sebetulnya tidak dibutuhkan. Cek saja. Contoh: Dia sangat cantik. —> Dia cantik. Pembaca sudah bisa membayangkan kok, tanpa sangat sekalipun.

             Contoh kalimat boros kata:

             Bahwa mereka itu orang-orang yang ramah dan terbuka tidak dapat disangsikan lagi.

           Alina merupakan seorang wanita yang baik hati dan ramah.

             Contoh kalimat hemat kata:

           Keramahan dan keterbukaan mereka tak tersangsikan lagi.

           Alina baik hati dan ramah. (apalagi kalau sudah jelas sebelumnya bahwa Alina seorang wanita)

  • Masih menggunakan kata hubung di mana, yang mana, dalam mana, hal mana.
  • Kesalahan tanda baca…. (ooh, makhluk kecil ini berperan besar dalam tulisan, tetapi sering terabaikan) dst.

Terakhir, kelemahan pada tulisan lama yang berbentuk fiksi, umumnya:

  • Ide terlalu besar, yang seharusnya bisa untuk membangun sebuah novel dijejalkan untuk cerpen, apalagi flash fiction.
  • Terlalu banyak karakter minor, sampai kita bingung sendiri, mau apa mereka dalam cerita kita selain mengucapkan satu-dua kalimat.
  • Ending yang dipaksakan.
  • Banyak dialog yang tidak perlu, tidak mendukung cerita.
  • Plot yang linier, padahal flashback bisa membuat cerpen kita lebih kompak dan efektif. Plot linier biasanya ditandai dengan batas bintang-bintang untuk pergantian waktu dan adegan.
  • Flashback dalam cerita anak harus benar-benar jelas, kalau tidak, hanya akan membingungkan anak. Untuk cerita balita dan prasekolah, sebaiknya tidak ada flash back.

Tulisan lama menggambarkan kita dahulu. Ternyata kita berproses, berkembang, ke arah yang lebih baik. Membaca tulisan orang lain memang efektif membantu kita belajar, tetapi membaca tulisan sendiri juga akan menghilangkan perasaan bahwa kita berjalan di tempat, tidak maju-maju.

Jelaslah, yang berjalan di tempat, tidak maju-maju, adalah penulis yang tidak pernah menulis. Juga penulis yang merasa tulisan lamanya tak bercacat, selalu sempurna dari dulu sampai detik ini.

Jadi, teruslah menulis, jangan takut membuat kesalahan. Proses itulah yang telah membuat aku dan teman-teman penulis ada di sini sekarang.

Oh ya, mungkin Anda masih menyimpan ide-ide yang dulu macet, tulisan yang tidak selesai di harddisk. Coba deh tengok lagi, mungkin sekarang lebih mudah menyelesaikannya.

Setahun lalu aku meninggalkan cerpen 14 halaman karena frustrasi saat menyuntingnya menjadi 10 halaman saja. Susah bukan main. Sebulan lalu, aku hanya perlu waktu beberapa jam untuk membereskannya menjadi 9 halaman saja.

Tunggu apa lagi?

__________________________________________

Catatan tambahan, 20 Agustus 2013 (*)

Ide-ide pada tulisan lama bisa saja masih relevan, atau bahkan memang benar-benar bagus, sampai kita sendiri tercengang sekarang, “Kok bisa kepikiran seperti itu dulu?” Daripada merasa kita mengalami kemunduran karena sekarang sepertinya ide bagus tak lagi mampir, coba saja olah lagi ide-ide lama itu dengan keterampilan dan pemaknaan baru yang sudah kita capai sekarang. Hasilnya, pasti lebih baik. Salam kreatif.

* special thanks to Agnes Bemoe, untuk idenya.

Kunjungi A Sweet Treat for Wattpad Authors untuk tips-tips menulis lainnya.

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..