Behind 365: The Ups and Downs

Berawal dari Kebutuhan

Ada masa ketika anak-anakku menyukai buku yang itu-itu saja. Minta dibacakan tak berhingga kali sampai aku dan dia hapal kata per kata, sampai buku bertelinga doggy terlipat kucel, sampai sering aku berpikir untuk menyembunyikan saja buku itu kalau tak ingat si kecil bakal sangat kehilangan.

Lalu ada masa ketika mereka begitu haus bacaan, sampai tiba-tiba saja stok bacaan habis, dan mereka mengeluh bosan dengan apa pun yang dibacakan.

So, orangtua seperti aku butuh sumber bacaan anak berlimpah.
Tapi harus dalam satu buku agar tidak ada tumpukan buku di kasur, buku harus kuat agar tak mudah rusak, dan cerita tidak boleh panjang-panjang, agar bisa dibacakan tanpa orangtua menjadi serak. Satu syarat lagi adalah isinya harus menarik dan baru. Anak-anak sudah sering mendengarkan dan membaca buku-buku dongeng klasik. Perlu tokoh dan genre yang tidak biasa. Kalau tidak, mereka akan berpaling pada televisi.

Idealnya pula, cerita-cerita itu harus menghibur, tidak menggurui, tapi mendidik tanpa terasa.
Nah, adakah satu buku yang memenuhi semua kebutuhan itu?
Ke mana mencarinya?

Konsep 365, Sehari Satu Cerita Sepanjang Tahun

Browsing di Amazon, mengunjungi Kinokuniya dan Borders, juga toko buku lokal, aku menemukan dan membeli beberapa 365 Bedtime Stories. Dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, buku-buku itu tidak memenuhi kebutuhanku. 

Bulan Juli 2007, anak-anak libur, saat itulah aku mulai desperate dan gemas ingin membuat sendiri 365. Tidak seperti buku-buku yang sudah ada di pasaran (kebanyakan terjemahan dan satu berdasarkan kalender hijriah), aku ingin membuat yang lebih sistematis, baik dalam pembagian tema maupun genre, dan berisikan pesan moral universal untuk pembaca umum.

Kubayangkan 365 akan dibagi menjadi 52 tema seputar kehidupan anak. Setiap tema mingguan ini berisi 7 cerita dengan beragam genre. 

Jadi, misalnya orangtua membutuhkan cerita untuk membantu anak menumbuhkan self-esteem, maka mereka mempunyai persediaan cerita selama seminggu penuh. Tak harus berurutan tanggal membacanya. Tapi jika tak ada tema khusus yang ingin ditekankan, kita bebas memilih cerita apa pun, atau membacakannya berdasarkan penanggalan saja.


Dari Gagasan Ke Proposal

Masih berupa gagasan, baru sekitar separuh dari 52 tema yang terpikirkan. Dan belum ada stok cerita sama sekali. Sampai akhir Agustus, aku masih sibuk menerjemahkan. Gagasan itu masuk peti. Aku bahkan lupa pernah ngobrol santai dengan Uda Halfino Berry menyinggung sedikit gagasan itu. “Boleh juga,” katanya waktu itu. Tapi yah, aku benar-benar lupa karena satu terjemahan kelar, disusul menerjemahkan buku berikutnya.
Karena itu, aku kaget ketika ditagih proposal.

“Proposal apa?” Duh, tulalitnya aku. Hari itu juga aku membuat proposal berisi konsep 365 lengkap.

Kira-kira mid-September, Uda Halfino meneleponku. “Proposal disetujui. Dijadwalkan terbit Januari 2008. Bisa minta contoh cerita sekitar 4-5? Seminggu ya?” 
Saat itu, aku tengah membedah salah satu buku terjemahanku di aula Radio Lita FM, Cimahi. Tak sempat berpikir panjang, “Oke,” kataku.

Oh My God, 365 Cerita dalam Dua Bulan!

Lima cerita dalam seminggu, tak masalah. Tapi 365 dalam 60 hari? Lalu tahu-tahu menjadi 50 hari karena aku masih harus menyelesaikan terjemahan. Oh, how could I do this to myself? 
Aku merencanakan menulis satu-dua cerita perhari sepanjang tahun 2008, disambi menerjemahkan, dan 365 itu bakal terbit 2009. 

“No. Terbit 2008!” kata Uda Halfino tegas. “Pasti bisa lah!”
Mas Ali Muakhir yang hadir saat rapat di penerbit pun ikut menyemangati. “Ah, saya percaya Mbak Ary pasti bisa.”
Aku mengerti pertimbangan timing dan marketing penerbit. Dan sejujurnya, aku tertantang.

Bahkan ketika aku diberi keringanan untuk mendaur ulang cerita-cerita lama, aku bertekad untuk tidak melakukannya. Aku ingin semuanya ceritaku, gagasanku, baru. Kalaupun nanti kepepet, aku akan mengadaptasi cerita-cerita yang tidak umum saja. Ya, aku ingin orangtua tidak lagi dipertemukan dengan Cinderella, Malin Kundang, dan sejenisnya. Karena mereka bisa menceritakan itu tanpa buku.

Perubahan Format

Aku merencanakan panjang setiap cerita antara 1-2 halaman A4, dan puisi tak lebih dari 1 halaman. Tapi menurut perhitungan penerbit, buku akan menjadi sangat tebal dan mahal. Terpaksa dijadikan 2 jilid. 

“Wah, kalau 2 jilid, bukan 365 lagi dong namanya,” kataku berkeberatan.

Akhirnya dicapai kompromi berupa pemangkasan cerita. Jatah perminggu 6 halaman. Tapi tentu saja itu masih harus berbagi tempat dengan ilustrasi. Format perminggu yang disepakati kemudian: 
1 puisi 
1 cerita 350 kata 
3 cerita 250 kata, dan 
2 cerita 125 kata.
Oh, bisa apa dengan 125 kata?

Sedikit Kata Ternyata Mengasyikkan

Hemingway membuat cerpen dengan enam kata.
Wajarlah kalau penulis dari kelas jauh di bawahnya ditantang dengan 125 kata.
Word counter bekerja keras pada awalnya, tapi lama-lama aku menemukan gaya dan pola sehingga sekali tulis tak lagi melebihi 150.

Kadang Menggelinding Kadang Terbentur

Penerbit mewanti-wanti, agar aku menulis berurutan tema/tanggal sehingga naskah bisa digarap simultan dengan ilustrasi dan layoutnya. (Wah lagi deh, karena semula kupikir, aku akan tulis saja apa yang nongol duluan di kepala). 

Kumulai dengan memangkas cerita-cerita yang telanjur kutulis hingga 2 halaman (sekitar 1.500 kata). Untuk cerita yang tak mungkin dipangkas dengan mengorbankan alur, aku membuatnya menjadi cerbung. Editor setuju.

Oh ya, dari awal aku memohon untuk dipasangkan dengan Teh Rani Yulianty. Biarpun waktu itu belum pernah bertemu muka, dari percakapan per telepon dan responsnya terhadap beberapa ceritaku, aku tahu Rani editor handal. Dia tahu kelebihan ceritaku, dan dia tak segan menolak cerita yang dianggapnya tidak bagus atau tidak cocok.

Setiap hari aku mengemail 7-12 cerita kepada Rani, kalau sedang menggelinding turun bukit bebas hambatan. Kalau terbentur, yah paling banyak 5. Rekor tertinggi pecah dengan 15 judul selama 19 jam! Tapi cuma sekali itu. Karena besoknya tiwas terkapar tak menghasilkan satu pun. He he he. Kalau dirata-rata dalam 2 bulan itu ya sekitar 7 lah perhari. 

Benturan Mematahkan Hati

Aku masih kurang 70-an cerita lagi ketika Azman sakit dan dirawat inap. Tanpa bayangan yang jelas kapan bisa meneruskan, dan sisa waktu yang cuma seminggu, aku menelepon Uda Halfino dari rumah sakit, “I give up! Terserah deh mau diapain.”

Buku itu memang my baby, my project, tapi saat itu aku harus realistis. Aku harus merelakannya diteruskan orang lain. Ini keputusan tak mudah untukku. Juga menyulitkan penerbit. Rani khawatir akan ada kesenjangan dalam gaya dan visi secara keseluruhan. Tentu saja, itu akan terjadi. Tak ada dua penulis yang serupa dalam segala hal. 

“Mbak, ada penulis yang bisa Mbak rekomendasikan untuk meneruskan?” tanya Uda Halfino bijak. 
Entahlah, aku terlalu kalut memikirkan anakku.

“Bagaimana kalau….” Uda Halfino menyebutkan sebuah nama. Seorang penulis buku anak ternama. Aku lega karena aku suka gayanya dan tak meragukan kemampuannya untuk menangkap polaku. Urusan teknis seperti pencantuman nama di buku dan lain-lain, aku tak mampu memikirkannya.

It Is Miracle!

Subhanallah, merupakan keajaiban anakku pulih dengan cepat. Merupakan keajaiban dia dinyatakan normal, lolos dari vonis kelainan darah genetik. Merupakan keajaiban pula bahwa dalam seminggu itu, ternyata penulis penerusku masih belum dihubungi Uda Halfino.

Ketika aku meneleponnya untuk menanyakan keadaan “bayiku”, beliau malah menyerahkannya kembali. 
“Sepuluh hari bisa selesai?”
“Bisa! Bisa! Tentu saja!”
Alhamdulillah. Rani benar, nikmat rasanya mengerjakan buku ini.

Dapur Rani

Siapa bilang aku yang paling sibuk dan ribet. Rani punya cerita sendiri di balik 365. Silakan baca postingnya.

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Short Stories

Spin-Off

Writing for Kids



Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

..more..

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

..more..

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

..more..