Kebiasaan mendongeng atau membacakan buku kepada anak sudah umum kita temui di setiap rumah. Kebiasaan itu turun-menurun. Nenek mendongeng kepada orangtua kita. Ibu mendongeng untuk kita waktu kita kecil dulu, dan sekarang kita mendongeng dan membacakan buku untuk anak-anak kita.

Namun sering, kebiasaan itu terhenti begitu saja ketika anak sudah bisa membaca sendiri. Dan kecenderungan yang terjadi sekarang adalah, semakin dini anak bisa membaca, berarti segera berkuranglah tugas/beban orangtua membacakan buku kepada mereka. Alhasil, orangtua berlomba-lomba membuat anak mereka bisa membaca dengan segala cara dan sedini mungkin. Orangtua bangga jika putra-putrinya yang prasekolah sudah bisa membaca. Tuntutan terhadap taman kanak-kanak pun semakin besar. "Ajari anak saya membaca." Ditambah lagi banyak sekolah dasar favorit mengharuskan anak sudah bisa membaca.

Terlepas dari carut-marutnya dunia pendidikan usia dini di negara kita, dan saya tidak akan membahas itu di sini, ada satu hal penting yang telah kita lupakan. 

Bisa membaca tidak sama dengan gemar membaca. Membaca bukan sekadar bisa membedakan huruf “b” dari huruf “d”, membaca mencakup kemampuan yang semakin lama semakin tinggi untuk memahami dan menghargai berbagai macam karangan. Karena itu, melek huruf mestinya sama dengan terpelajar. Kenyataannya melek huruf di Indonesia identik dengan mengenal huruf dan melafalkan kata, sehingga ada golongan masyarakat yang masih belum bisa memahami apa yang dibacanya di koran.

Kita mengajari anak-anak HOW TO READ BUT FORGOTTEN TO TEACH THEM TO WANT TO READ. Dengan demikian, kita telah menciptakan pembaca di sekolah, tapi bukan pembaca sepanjang hayat, atau pembaca sejati.

Berbagi cerita dengan anak Anda—apakah itu dengan membuka buku atau Anda membisikkan dongeng karangan Anda sendiri di telinganya—bukan hanya mengajarkan hikmah kehidupan dan meningkatkan keterampilan sosialnya; kebiasaan ini juga memperkenalkan keindahan bahasa dan keberaksaraan (literacy) di dalam keamanan pelukan Anda. 

Ketika Anda mendampingi putra-putri Anda untuk berbagi cerita setiap hari, Anda mengirimkan pesan kuat: Cerita itu berharga dan penting. Dan Ayah/Ibu bersamamu sekarang. Anakku, kaulah pusat duniaku.

Ini unjuk cinta. Anda ingin bukti? Lihatlah mata berbinar-binar di hadapan Anda.

Cerita dan buku diasosiasikan dengan kebahagiaan—sebuah landasan penting untuk belajar dan keinginan untuk membaca. 
Kita membacakan buku kepada anak untuk semua alasan yang sama dengan ketika kita berbicara dengan mereka: untuk menenangkan, menghibur, membuat ikatan, memberikan informasi, menjelaskan, membangkitkan rasa ingin tahu, dan mengilhami. Akan tetapi dalam membacakan buku, Anda juga:
 
  • Mengondisikan otak anak untuk mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan
  • Memberikan pengetahuan dasar (background knowledge)
  • Membangun kosa kata
  • Memberikan teladan (role model) seorang pembaca sejati

Tak heran jika para ahli sepakat, satu-satunya kegiatan penting untuk membangun pengetahuan yang dibutuhkan untuk sukses dalam membaca adalah membacakan buku kepada anak-anak. Satu-satunya kegiatan penting—artinya, menurut para ahli, membacakan buku jauh lebih penting ketimbang lembar kerja siswa, PR, penilaian, membuat laporan buku, dan flashcards. Ternyata sarana paling murah, paling sederhana, dan paling kuno ini dianggap sarana pendidikan paling baik di rumah maupun di kelas. Jadi, Ayah-Ibu, bacakanlah buku untuk Ananda.




_________________

Sebagian dari makalahku untuk seminar “Rumahku Sekolahku: Bagaimana Mengeksplorasi Kecerdasan dan Kreativitas Anak”. Child Education Series –NEC 
Islamic Center Jakarta, 3 Agustus 2008

image dari 
www.ci.burien.wa.us/.http://arynsis.multiply.com/images/reading.jpg

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..