Apakah Kita Terlahir untuk Menulis?

Sebuah karya tulis, apa pun bentuknya, adalah jembatan penghubung benak penulis dengan benak pembacanya yang terbuat dari rangkaian kata-kata pilihan. Penulis menggunakan bahasa seperti pelukis menggunakan kuas dan cat untuk menghasilkan karya yang dapat menarik dan memengaruhi pembaca. Sebuah karya tulis dikatakan berhasil jika ia dapat membuat pembaca tersentuh, terbawa arus, tergerak, berpikir, merenung, terdiam, terpana, atau setidaknya terhibur.

Lantas, apakah untuk menghasilkan sebuah karya tulis diperlukan bakat? Atau tepatnya, apakah menulis itu merupakan bakat bawaan? Mungkin. Tetapi beberapa kisah di bawah ini menunjukkan bahwa bakat saja tidak cukup. Proses kreatif seorang penulis melibatkan kerja keras dalam arti belajar, melakukan observasi, memantau, mengumpulkan informasi dan data, membaca, berpikir, menganalisis, memahami, mencapai kesimpulan, mencari bentuk ekspresi, mengetahui apa yang diekspresikan, dan menguasai estetika.

Kisah Amir: Ke Mana Perginya Inspirasi?
Pada usia 10 tahun, Amir merasa yakin dia akan menjadi penulis terkenal setelah dewasa. Pada usia semuda itu, dia sudah memenangi lomba cerita anak dan bukunya diterbitkan. Tetapi kesibukan sekolah membuatnya berhenti menulis. Baru setelah masuk perguruan tinggi jurusan sastra, dia menulis lagi. Novel pertamanya mendapat sambutan baik dari penerbit dan pembaca. Kritikus sastra menyebutnya sebagai “Mahfouz Indonesia”. Ketenaran buku Amir menarik perhatian produser untuk memfilmkannya. Amir menulis skenario sendiri untuk menjaga agar film tidak terlalu melenceng dari bukunya. Sayangnya, film itu tidak laku di pasaran. Amir patah arang. Inspirasi seakan tak mau datang kepadanya. Dan dia berhenti menulis.

Kisah Bunga: 99% dari Usaha
Bunga tidak tahu apakah dirinya berbakat dalam menulis. Dia hanya senang membaca apa saja dan menuliskan apa saja yang dipikirkan dan dialaminya dalam buku hariannya. Dia membaca dan menulis secara teratur. Suatu ketika dia mencoba mengirimkan tulisannya ke sebuah majalah. Naskah itu dikembalikan dengan banyak catatan dari editor. Dia memperbaikinya dan mengirimkannya lagi ke majalah yang sama. Kejadian yang sama terulang tiga kali sampai akhirnya naskah itu dimuat. Sejak saat itu, dia menulis banyak naskah dan mengirimkan semuanya ke pelbagai media. Perbandingan naskah yang dikirim dengan yang dimuat awalnya cukup besar, 15:1, 10:1, 5:1, 3:1, 1:1, dan akhirnya medialah yang justru memesan tulisan darinya.

Kisah Cipto: Sang Kritikus
Setiap kali selesai membaca buku, Cipto selalu berkata kepada dirinya, “Aku bisa membuat yang lebih bagus dari ini.” Pada setiap buku, dia menemukan kelemahan. Entah itu plotnya yang tumpul, karakter yang lemah, bahasa yang serampangan, cerita yang antiklimaks, dan sebagainya. “Aku akan menulis cerita yang jauh lebih bagus!” pikirnya. “Tapi nanti setelah aku selesai mengerjakan yang satu ini.” Sayangnya, dia selalu punya pekerjaan lain. Dan tak satupun tulisan muncul dari tangannya.

Kisah Diana: Penulis Kamar Mandi
Diana senang menulis, tetapi tidak terlalu percaya diri untuk menunjukkan hasilnya kepada orang lain, apalagi mengirimkannya ke media. Tulisan Diana adalah gambaran hidup dan jiwanya, jadi menurutnya perlu dirahasiakan. Tulisan-tulisannya pun hanya menjadi penghuni hard disk komputer atau buku hariannya. Tak ada yang keluar.

Kisah Elang: Penulis “Hebat” yang Tidak Menulis
“Aku ingin menulis,” tekad Elang. “Aku punya banyak sekali gagasan.” Satu kata digoreskannya, satu lembar kertas diremasnya. Satu kalimat diketiknya, backspace ditekannya kuat-kuat sampai ke titik nol. Setiap kali gagasan melintas dalam benaknya, Elang berkutat dengan “apa kata pertama yang harus kutulis?” atau “bagaimana menulis kalimat dengan efektif?” atau “bagaimana agar kata-kataku tampak cerdas?” atau “kenapa kalimatku tak enak dibaca?” Dia berpikir dan berpikir. Begitu seterusnya, sampai dia kehabisan waktu, dan gagasannya menguap.

Kisah Fitra: Sang Infopreneur
Fitra menerbitkan sendiri buku yang berisi gagasan uniknya. Buku itu untuk beberapa bulan pertama menjadi best seller. Tapi setelah hitung-hitung, Fitra merasa rugi. Waktu yang sudah dikerahkannya untuk menulis, uang 20 juta yang dikeluarkannya untuk modal memproduksi buku, tidak menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkannya. Dia menjadi jera menerbitkan buku. Dan lebih jauh, dia menjadi jera menulis buku. Ide-ide unik lainnya hanya dia catat dalam buku harian. Suatu kali, sebuah lembaga memintanya memberikan ceramah tentang buku pertamanya. Dan dia dibayar mahal untuk itu. Kesimpulan Fitra: berbicara ternyata mendatangkan lebih banyak keuntungan daripada menulis.

Kisah Gugun: Ghost Writer
Seperti Diana, Gugun adalah penulis kamar mandi. Hanya, kebetulan seorang teman melihat potensinya setelah menemukan tulisannya tanpa sengaja. Teman itu merekomendasikan Gugun kepada seorang figur publik yang sedang mencari penulis “autobiografi”-nya. Akhirnya jadilah Gugun dikontrak untuk menulis riwayat hidup figur publik tersebut. Dia dibayar dengan flat-fee 10 juta rupiah, dan menandatangi perjanjian kerahasiaan kerja sama mereka. “Autobigrafi” itu kemudian sukses besar, dicetak berulang-ulang, dan bahkan mendapatkan penghargaan karya tulis bergengsi. Sang figur publik semakin terkenal, semakin kaya, semakin terhormat karena telah menghasilkan karya yang menyentuh dan spektakuler. Bagaimana dengan Gugun? Praktis dia tidak ada.

Kisah Hana: Mengubur Idealisme
Setelah melalui proses panjang dan melelahkan, Hana akhirnya berhasil menjadi seorang published author. Penerbit memesan naskah darinya. Pesanan itu justru membuat Hana kewalahan. Tidak hanya karena jumlahnya, tetapi juga karena permintaan mereka sering bertentangan dengan idealismenya sebagai penulis. Dia sering berargumentasi, mempertahankan idenya. Penerbit berkilah, “Yang seperti itu tidak laku di pasaran. Yang beginilah yang sedang diminati orang.” Daripada tidak diterbitkan atau tidak laku, Hana akhirnya mengikuti semua kemauan mereka.

 
MIRIP SIAPAKAH ANDA?

Beberapa pertanyaan untuk membantu mengidentifikasi jiwa penulis dalam diri kita:

  1. Apakah kelebihan dan kelemahanku dalam menulis? Apakah aku bagus dalam dialog? Narasi? Esai?
  2. Buku jenis apa yang kusukai? Apa yang paling kusukai dari tulisan jenis itu?
  3. Apakah kepribadianku sesuai dengan jenis tulisan yang ingin kugeluti? Karena perlu orang-orang berbeda untuk menulis roman, jurnalisme investigatif, esai, pemikiran, artikel riset, dll.
  4. Apakah aku punya kemauan untuk mencoba menulis pelbagai macam karangan sampai aku menemukan satu yang cocok?
  5. Apakah aku menganggap menulis sebagai upaya purna-waktu, paruh-waktu, atau sekadar pengisi waktu senggang?
  6. Ingin jadi penulis seperti apakah aku? Ketika aku menutup mata, di mana karyaku muncul dalam bayanganku?

Dan sekadar mengingatkan:

  • Menulis berarti membuka diri, membiarkan pembaca melihat sepenggal diri kita; disadari atau tidak, akan terungkap siapa diri kita dalam tulisan kita.
  • Menulislah dengan hati. Kepala berperan belakangan.
  • Menulislah apa yang ingin kita tulis, apa yang ingin kita ketahui, bukan sekadar apa yang sudah kita ketahui.
  • Ketika kita sedang menulis dan harus berhenti sebelum selesai, usahakan pada saat gagasan mengalir. Ini memudahkan kita untuk melanjutkannya pada lain waktu.

Semoga bermanfaat.

[Makalahku dalam Training Menulis untuk Guru, Cimahi, 13 Agustus 2006. Pak Hernowo, Mizan, membawakan materi, Guru dan Persoalan Meningkatkan Minat Baca]


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Short Stories

Spin-Off

Writing for Kids



Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

Kreativitas Ada dalam Diri Kita: Bangunkan!

..more..

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

Memberi Hadiah kepada Guru Anak-Anak Kita, Bolehkah?

..more..

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

Pelajaran Unik dan Indah di Angkot

..more..