Antara Menulis, Menerjemahkan dan Menyunting

Aku menganggap menulis, menerjemahkan, dan menyunting merupakan profesi berkerabat dekat, kalau tidak bisa dianggap kakak adik, ya sepupuanlah, dan lebih setara.Aku percaya, kalau menulis dan menerjemahkan diformulasikan akan muncullah persamaan reaksi dapat balik, setimbang, bahkan dinamis.(hehehe, jadi ingat reaksi kimia reversible)

 

Menulis + konstanta <–> Menerjemahkan + konstanta

Artinya, penulis bisa melebarkan sayap profesinya menjadi penerjemah juga. Dan sebaliknya, penerjemah bisa sekaligus menjadi penulis. Dari banyak kontakku, aku menemukan beberapa teman yang sudah menjajaki reaksi bolak-balik ini. Dan bagi yang belum, mudah-mudahan terprovokasi dengan tulisanku. Kenapa tidak?

Ini beberapa alasannya:

 

  1. Penulis yang menguasai bahasa asing (sebagai konstanta tambahan) jelas memiliki referensi lebih luas dan tidak bergantung pada buku-buku terjemahan orang, keterampilan bahasa dan berbahasa meningkat, penghargaan terhadap bahasa sendiri melejit, dan pada gilirannya, kualitas tulisannya pun menjadi lebih baik. Benar tidak?
  2. Dan alangkah baiknya, kukira, kalau buku anak diterjemahkan oleh penulis buku anak, buku humor oleh penulis genre yang sama, dst. Bagaimanapun, kesamaan minatbidang menghasilkan karya terjemahan yang lebih berjiwa. Walaupun memang, banyak penerjemah yang bukan published author piawai menerjemahkan apa saja. Salut untuk mereka. (Tapi tetap saja, kepada beliau-beliau ini aku usulkan untuk membagi ilmu mereka dengan menulis/menerbitkan buku…hehehe)
  3. Penerjemah yang baik tidak hanya menguasai bahasa asing. Dengan kata lain, mereka yang menguasai bahasa asing, belum tentu bisa menerjemahkan dengan baik. Keprigelan menulis dalam bahasa target (Indonesia) adalah syarat utama. Konsekuensinya: penerjemah yang bisa dan biasa menulis akan menghasilkan karya terjemahan lebih baik ketimbang yang bahasa Indonesianya sendiri belepotan. Logikanya: kalau mengungkapkan pikiran sendiri secara tertulis saja kurang mampu, bagaimana dia bisa menerjemahkan/menuangkan pemikiran orang lain?

Ehm, para rekan penulis tercinta, Anda sudah memiliki syarat ini.So, go get your second or third language polished.

Sebagai penerjemah, kita dituntut bekerja rutin dan keras untuk mengejar deadline. Setiap kali menerima order ketat, hitungan yang muncul pertama kali adalah: berapa halaman per hari yang harus kukerjakan? 10 atau 25? Wuih… percayalah, perlu stamina tinggi, disiplin dan kata “freelance” sering tidak identik dengan “kerja suka-suka”. Dan ketika 200-400 halaman selesai dalam 1-2 bulan…wow, perlu break. Harus break. Menulis adalah break yang paling indah….(Kita perlu penyaluran muatan yang kita peroleh dari menerjemahkan lho. Menerjemahkan itu banjir informasi, harus dialirkan keluar sebelum kepala meledak saking exicited-nya dengan berkah ini. To be honest, banyak tulisanku terpicu dan terpacu oleh buku-buku yang kuterjemahkan. Honor terjemahan masuk, honor tulisan masuk juga, apalagi kalau dilombakan dan menang…hehehe)

Penulis, kita sama-sama tahu berapa royalti tertinggi yang bisa kita peroleh dari buku kita. Mendapatkan 10% dari cover price sudah kuanggap beruntung. Jika buku kita laris, 3000 eksemplar cetakan pertama laku dalam setahun misalnya, untuk harga buku sekitar Rp 50.000, maka kita memperoleh royalti Rp 11.475.000 setahun (sudah dipotong ppn dan pph 23, dengan asumsi punya NPWP, kalau tidak, pengurangannya lebih banyak lagi). Itu setahun, satu buku. Terjemahkan novel 450 halaman, selama dua bulan, Anda akan mendapatkan lebih dari itu, setelah pajak. Ya, royalti bisa berulang tahun berikutnya. Honor menerjemahkan hanya sekali. Tapi jika buku kita belum best seller, dan jumlah judulnya bisa dihitung dengan sebelah tangan, alangkah baiknya disambi menerjemahkan. Ya kan? Ya kan?

Penerjemah, kita membaca sesuatu lebih dulu ketimbang khalayak. Kita terbiasa dengan riset, kita sering mendapatkan banjir informasi dari pelbagai rujukan yang kita cari selagi menerjemahkan. Ide-ide baru yang memicu ide orisinal dalam benak kita, ilham-ilham yang membuka sejuta peluang penulisan fresh… kenapa hanya disimpan? Olah lagi. Munculkan review, tuliskan analisis, esai, cerpen, novel…apa saja… kirimkan ke media, penerbit, lomba… voila!

Dan rekan-rekan penerjemah, tired of looking your name only mentioned inside a book with a teeny-weeny font, despite a very hard work you’ve done? Be a writer! You’ll get front cover for yourself.

Terdengar gampang? Iya sih….
Padahal praktiknya…..
Duh, benar sekali….
Hambatannya…pasti banyak juga. 

Anyway, kenapa tidak kita coba sekarang menyeimbangkan persamaan itu dengan melengkapi konstantanya? Ingat, masing-masing sudah memegang modal utama: A gift of Language. Berkah yang menjadikan penulis dan penerjemah mengejar tujuan yang sama: A readable, enjoyable, best seller book!

Lalu… di mana posisi penyunting dalam persamaan di atas?

Menyunting itu pekerjaan dewa (sementara menulis dan menerjemahkan adalah pekerjaan manusia…konon lho, bukan aku yang bilang.) Tapi penyunting umunya mendapatkan penghargaan lebih kecil dari segi finansial dan pengakuan eksistensi ketimbang si penulis dan si penerjemah.

Penulis, kemampuan menyunting itu keharusan, agar tulisan kita lolos dari seleksi awal. Ide cemerlang kita akan lebih tersampaikan dengan tulisan yang terbaca, bebas-typo, sistematik, efektif, unik dan bergaya. Itu pekerjaan editor? Tidak. Sebagian besar adalah pekerjaan penulis. It’s your baby, not editor’s. Jangan biarkan naskah kita dikirimkan dalam keadaan mentah sehingga editor gatal ingin mengobrak-abriknya.

Penerjemah, kemampuan menyunting itu keharusan. Baca sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi, terjemahan kita selalu menunjukkan kesalahan-kesalahan baru. Setiap kali dibaca, lalu diubah, akan menghasilkan terjemahan yang lebih baik dan luwes. Terus terang, sering kusesali kalimat-kalimatku sendiri karena belakangan ketika aku membacanya lagi, aku tahu seharusnya bisa kuungkapkan dengan lebih baik.

Belum lagi kalau ada terjemahan yang salah. Kasihan penyunting yang mendapatkan karya terjemahan penuh kesalahan. Sudah honornya kira-kira hanya separuh penerjemah, eh harus re-write. 

Sekarang ini, banyak penerbit yang berterus terang mengeluarkan berapa untuk penerjemah dan berapa untuk editor, lalu menawarkanseluruhnya kepada penerjemah yang dianggap mampu merangkap sebagai editor juga. Why not? Take the chance. 

Jadi… After all has been said and done…and all worries aside,
Tak ada salahnya mencoba menjadi penulis, penerjemah, danpenyunting. Setimbang dan dinamis.

Semoga bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan.

 

Antara Menulis, Menerjemahkan dan Menyunting

Mon, 04 May 2009 - 03:16

Antara Menulis, Menerjemahkan dan Menyunting

Aku menganggap menulis, menerjemahkan, dan menyunting merupakan profesi berkerabat dekat, kalau tidak bisa dianggap kakak adik, ya sepupuanlah, dan lebih setara.Aku percaya, kalau menulis dan menerjemahkan diformulasikan akan muncullah persamaan reaksi dapat balik, setimbang, bahkan dinamis. (hehehe, jadi ingat reaksi kimia reversible)

Menulis + konstanta <--> Menerjemahkan + konstanta


Artinya, penulis bisa melebarkan sayap profesinya menjadi penerjemah juga. Dan sebaliknya, penerjemah bisa sekaligus menjadi penulis. Dari banyak kontakku, aku menemukan beberapa teman yang sudah menjajaki reaksi bolak-balik ini. Dan bagi yang belum, mudah-mudahan terprovokasi dengan tulisanku. Kenapa tidak?

Ini beberapa alasannya:

  1. Penulis yang menguasai bahasa asing (sebagai konstanta tambahan) jelas memiliki referensi lebih luas dan tidak bergantung pada buku-buku terjemahan orang, keterampilan bahasa dan berbahasa meningkat, penghargaan terhadap bahasa sendiri melejit, dan pada gilirannya, kualitas tulisannya pun menjadi lebih baik. Benar tidak?
  2. Dan alangkah baiknya, kukira, kalau buku anak diterjemahkan oleh penulis buku anak, buku humor oleh penulis genre yang sama, dst. Bagaimanapun, kesamaan minatbidang menghasilkan karya terjemahan yang lebih berjiwa. Walaupun memang, banyak penerjemah yang bukan published author piawai menerjemahkan apa saja. Salut untuk mereka. (Tapi tetap saja, kepada beliau-beliau ini aku usulkan untuk membagi ilmu mereka dengan menulis/menerbitkan buku...hehehe)
  3. Penerjemah yang baik tidak hanya menguasai bahasa asing. Dengan kata lain, mereka yang menguasai bahasa asing, belum tentu bisa menerjemahkan dengan baik. Keprigelan menulis dalam bahasa target (Indonesia) adalah syarat utama. Konsekuensinya: penerjemah yang bisa dan biasa menulis akan menghasilkan karya terjemahan lebih baik ketimbang yang bahasa Indonesianya sendiri belepotan. Logikanya: kalau mengungkapkan pikiran sendiri secara tertulis saja kurang mampu, bagaimana dia bisa menerjemahkan/menuangkan pemikiran orang lain?

Ehm, para rekan penulis tercinta, Anda sudah memiliki syarat ini. So, go get your second or third language polished.

Sebagai penerjemah, kita dituntut bekerja rutin dan keras untuk mengejar deadline. Setiap kali menerima order ketat, hitungan yang muncul pertama kali adalah: berapa halaman per hari yang harus kukerjakan? 10 atau 25? Wuih... percayalah, perlu stamina tinggi, disiplin dan kata "freelance" sering tidak identik dengan "kerja suka-suka". Dan ketika 200-400 halaman selesai dalam 1-2 bulan...wow, perlu break. Harus break. Menulis adalah break yang paling indah....(Kita perlu penyaluran muatan yang kita peroleh dari menerjemahkan lho. Menerjemahkan itu banjir informasi, harus dialirkan keluar sebelum kepala meledak saking exicited-nya dengan berkah ini. To be honest, banyak tulisanku terpicu dan terpacu oleh buku-buku yang kuterjemahkan. Honor terjemahan masuk, honor tulisan masuk juga, apalagi kalau dilombakan dan menang...hehehe)

Penulis, kita sama-sama tahu berapa royalti tertinggi yang bisa kita peroleh dari buku kita. Mendapatkan 10% dari cover price sudah kuanggap beruntung. Jika buku kita laris, 3000 eksemplar cetakan pertama laku dalam setahun misalnya, untuk harga buku sekitar Rp 50.000, maka kita memperoleh royalti Rp 11.475.000 setahun (sudah dipotong ppn dan pph 23, dengan asumsi punya NPWP, kalau tidak, pengurangannya lebih banyak lagi). Itu setahun, satu buku. Terjemahkan novel 450 halaman, selama dua bulan, Anda akan mendapatkan lebih dari itu, setelah pajak. Ya, royalti bisa berulang tahun berikutnya. Honor menerjemahkan hanya sekali. Tapi jika buku kita belum best seller, dan jumlah judulnya bisa dihitung dengan sebelah tangan, alangkah baiknya disambi menerjemahkan. Ya kan? Ya kan?

Penerjemah, kita membaca sesuatu lebih dulu ketimbang khalayak. Kita terbiasa dengan riset, kita sering mendapatkan banjir informasi dari pelbagai rujukan yang kita cari selagi menerjemahkan. Ide-ide baru yang memicu ide orisinal dalam benak kita, ilham-ilham yang membuka sejuta peluang penulisan fresh... kenapa hanya disimpan? Olah lagi. Munculkan review, tuliskan analisis, esai, cerpen, novel...apa saja... kirimkan ke media, penerbit, lomba... voila!

Dan rekan-rekan penerjemah, tired of looking your name only mentioned inside a book with a teeny-weeny font, despite a very hard work you've done? Be a writer! You'll get front cover for yourself.

Terdengar gampang? Iya sih....
Padahal praktiknya.....
Duh, benar sekali....
Hambatannya...pasti banyak juga. 

Anyway, kenapa tidak kita coba sekarang menyeimbangkan persamaan itu dengan melengkapi konstantanya? Ingat, masing-masing sudah memegang modal utama: A gift of Language. Berkah yang menjadikan penulis dan penerjemah mengejar tujuan yang sama: A readable, enjoyable, best seller book!

Lalu... di mana posisi penyunting dalam persamaan di atas?

Menyunting itu pekerjaan dewa (sementara menulis dan menerjemahkan adalah pekerjaan manusia...konon lho, bukan aku yang bilang.) Tapi penyunting umunya mendapatkan penghargaan lebih kecil dari segi finansial dan pengakuan eksistensi ketimbang si penulis dan si penerjemah.

Penulis, kemampuan menyunting itu keharusan, agar tulisan kita lolos dari seleksi awal. Ide cemerlang kita akan lebih tersampaikan dengan tulisan yang terbaca, bebas-typo, sistematik, efektif, unik dan bergaya. Itu pekerjaan editor? Tidak. Sebagian besar adalah pekerjaan penulis. It's your baby, not editor's. Jangan biarkan naskah kita dikirimkan dalam keadaan mentah sehingga editor gatal ingin mengobrak-abriknya.

Penerjemah, kemampuan menyunting itu keharusan. Baca sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi, terjemahan kita selalu menunjukkan kesalahan-kesalahan baru. Setiap kali dibaca, lalu diubah, akan menghasilkan terjemahan yang lebih baik dan luwes. Terus terang, sering kusesali kalimat-kalimatku sendiri karena belakangan ketika aku membacanya lagi, aku tahu seharusnya bisa kuungkapkan dengan lebih baik.

Belum lagi kalau ada terjemahan yang salah. Kasihan penyunting yang mendapatkan karya terjemahan penuh kesalahan. Sudah honornya kira-kira hanya separuh penerjemah, eh harus re-write. 

Sekarang ini, banyak penerbit yang berterus terang mengeluarkan berapa untuk penerjemah dan berapa untuk editor, lalu menawarkan seluruhnya kepada penerjemah yang dianggap mampu merangkap sebagai editor juga. Why not? Take the chance. 

Jadi... After all has been said and done...and all worries aside,
Tak ada salahnya mencoba menjadi penulis, penerjemah, dan penyunting. Setimbang dan dinamis.

Semoga bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan.




 

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..