365 dalam Review Sinarbulan

Ulasan Buku Anak: 365 Kisah Mencerdaskan Untuk Ananda

Sub judul: Sehari Satu Kisah, Sepanjang Tahun
Penulis: Ary Nilandari
Penerbit: Leema Kids (Grup SYGMA)
Tebal: 262 halaman, hard cover
Cetakan: I, Januari 2008
Skor: 8,5

Buku karya Ary Nilandari ini mengemas 365 tulisan berdasarkan urutan hari dan dikelompokkan menurut tema. Misalnya dalam bulan Februari terdapat topik Menghargai Pembantu, Sahabat, Guru dan Sekolah, dan Keberanian. Isinya beragam sehingga dapat menepis kejemuan pembaca.

Selain cerpen, ada pula cerbung, dan puisi yang tentu saja dihiasi ilustrasi ceria nan memanjakan mata. Buku ini diperuntukkan orangtua yang bermaksud membacakan kisah-kisah pengantar tidur bagi putra-putri mereka. Tidak ada larangan untuk melalap habis cerita-cerita tersebut dalam tempo kurang dari setahun (seperti yang saya lakukan) karena toh 365 dapat disimak ulang kapan saja. Penulis menyisipkan pula berbagai fabel, cerita petualangan, dongeng, dan puisi bahasa Inggris
dengan gaya tuturnya yang khas dan tidak menggurui.

Kelebihan lain 365 terletak pada orisinalitas tulisan di dalamnya. Sedikit sekali cerita adaptasi yang saya temukan, itupun bukan dari legenda yang sudah terlalu familiar bagi masyarakat (contohnya Cinderella atau Malin Kundang). Sejumlah bahan, termasuk biografi, diolah sedemikian rupa oleh penulis sehingga menghasilkan kisah yang segar. Pada tanggal-tanggal tertentu yang bertepatan dengan suatu peringatan, baik hari raya agama maupun hari internasional seperti Hari Buku, disuguhkan tulisan yang relevan.

Terlalu banyak yang saya senangi dari buku ini, berikut beberapa di antaranya:

1. Karakter fabel yang tidak stereotipe, seperti Zana si macan kumbang yang menjadi ibu angkat Pongo si gorila dalam 'Ibu Baru Pongo' (halaman 8). Ini pernah dibahas oleh Celia Warren dalam buku How to Write Stories, sebagai contoh karakter Singa Penakut dalam The Wizard of Oz. Kisah Zana dan Pongo sangat menyentuh hati saya.

2. Keseimbangan antara kasih sayang ibu dan ayah. Ibu lebih sering dibahas dalam cerita atau buku anak, sebagai representasi sosoknya yang cenderung 'akrab' di rumah. Puisi "Pemimpin Keluarga' (halaman 13) menyodorkan gagasan baru, seperti petikannya di bawah ini:
'Peran itu membuat ayah sibuk
Sedikit waktunya di rumah
Seakan tak peduli
Seakan tak sayang'

3. Cerita misteri yang pas untuk anak-anak. Membaca 'Misteri Tawa 200 Kali', 'Teka-teki Roti Sosis', dan 'Monster Gua' mengajarkan kepada saya bahwa menulis kisah misteri tak perlu membuat pembaca berkerut kening namun tetap masuk akal dan mengalir.

4. Kandungan humor yang proporsional. Saya terhibur sekali membaca '4S' dan 'Superkid Sedang Banyak PR'. Khusus cerita terakhir ini, kesan natural benar-benar tampil. Biarpun berkekuatan super, seorang anak harus memenuhi kewajibannya di 'dunia nyata'.

5. Anak diajak sedikit berpikir 'dewasa' sesuai perkembangan zaman yang pesat sekarang ini, contohnya melalui kisah 'Rahasia Pekerjaan' (halaman 62). Sesuai benar dengan pemikiran saya selama ini bahwa sejak usia dini, anak sudah dapat diperkenalkan perihal kesenangan bekerja yang akan berhasil dengan baik. Cerita tersebut mungkin lebih cocok untuk anak-anak usia 10 tahun ke atas, akan tetapi kreativitas orangtua dapat mengaplikasikannya pada anak yang lebih muda. Sebut saja ketika mencuci piring atau membereskan tempat tidur, yang juga tergolong 'kerja'.

6. Unsur mendidik mengenai perbedaan sosial. Betapa mengharukan membaca 'Daigo Anak Eta' (halaman 143-145).

7. Ide-ide yang amat kreatif. Tak pernah terpikirkan oleh saya menulis cerita kombinasi Hari Anak Nasional dengan peri-peri seperti 'Anak Pilihan Peri ke-12' (halaman 147) atau 'Senam Gurita' (halaman 71).

8. Salah satu favorit saya: 'Perayaan yang Tidak Sia-sia' (halaman 164). Penulis seakan menyuarakan isi hati saya yang tidak setuju pada penyelenggaraan lomba-lomba dan panggung hiburan untuk memperingati 17 Agustus, lalu menggantikannya dengan kegiatan bakti sosial yang lebih bermanfaat dan tidak menghamburkan dana.

9. Pesan moral bahwa anak-anak sebaiknya bermain di luar rumah dan banyak bergerak, sebagaimana puisi 'Televisi dan Komputer' (halaman 178). Dengan cerdik dan memikat, penulis memaparkan dalam 'Telur Misterius' (halaman 57) bahwa Play Station cenderung membuat anak malas serta melalaikan tanggung jawab.

10. Mengajak anak menghargai pelaku profesi tertentu, semisal tukang sampah dalam 'Yang Terpinggirkan' (halaman 256).

Tak ada gading yang tak retak, demikian pula buku ini. Yang paling saya perhatikan adalah tiadanya nomor halaman dalam Daftar Isi. Akan tetapi terlepas dari kekurangan-kekurangannya, 365 menyiratkan sebuah pengalaman membaca yang menawan sekaligus pesan penting bagi saya: kita belajar bersama anak-anak setiap waktu di setiap bidang kehidupan, jadi jangan pernah menganggap mereka bodoh.


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Making Space for the Marginalized.

Making Space for the Marginalized.

..more..

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

Show and Tell : Culture and Tradition in Children's Books

..more..

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

FBF2016/Session 01/Special Event: Darkness in Children's Stories

..more..