17 Mei, Hari Buku Nasional

Esok 17 Mei, Hari Buku Nasional.
Apa yang bisa kulakukan untuk memperingatinya? 


Merapikan buku-bukuku? 
(Yup, in progress)


Membaca? 
(Yes, of course)


Menyumbangkan buku? 
(Not to you, obviously. he he)


Membeli buku? 
(oops, yang ini nggak dulu deh
)

Yah, satu hal kecil yang bisa kulakukan sekarang juga adalah mempersembahkan cerita ini untuk teman-teman, para bapak, ibu, eyang, tante dan om. Tapi karena ini cerita anak-anak, paling pas ya kalau dibacakan kepada anak-anak terkasih. Untuk memperkenalkan mereka dengan Hari Buku Nasional dan mengajak mereka mencintai buku. Semoga bermanfaat.

_________________________________________________

PERI BUKU DAN KUTU BUKU


Di depan pintu setiap toko buku, selalu ada segerombolan peri buku terbang berseliweran. Menunggu. Ketika kau membeli sebuah buku, seorang peri akan bersorak senang. Buku itu menjadi rumahnya. Dia akan lebih berbahagia lagi ketika kau membaca buku itu. Karena berarti kau mengunjunginya. 

Selagi kau membaca buku, dia akan tersenyum-senyum gembira menatap wajahmu. Kau tidak bisa melihatnya. Tapi yakinlah, dia ada di antara tulisan dan gambar. Kadang mengikuti gerak matamu dengan melompat dan menari. Ah, teruslah membaca. Jangan terganggu olehnya. Peri buku memang begitu.


Ketika kau sudah merasa lelah membaca, dia akan merasa lelah juga. Kalian akan sama-sama tidur. Peri buku berharap, kau akan kembali mengunjunginya lain kali.

Tapi ada peri yang kurang beruntung. Buku yang menjadi rumahnya ternyata tak disentuh apalagi dibaca pemiliknya. Rumahnya bagaikan rumah manusia yang terbengkalai. Kotor, lembap, dan gelap. Dia menjadi sakit. Kalau sudah begitu, dia tak berdaya menahan serangan semut, rayap, dan kutu buku.


Dia terdesak oleh tamu-tamu tak diundang itu. Tersudut di pojok halaman terakhir. Menunggu ajal. Karena peri buku yang terusir dari rumahnya akan mati.

Lalu bagaimana dengan buku-buku lamamu? Kau sudah selesai membacanya, jadi tidak lagi menyentuhnya. Jangan khawatir, peri buku tahu bukan maksudmu mengabaikannya. Dia akan tetap hidup dan bahagia, asalkan kau menyimpan dan merawat koleksi bukumu baik-baik. Siapa tahu buku itu dibaca adikmu nanti. Atau dipinjam temanmu. Kau juga bisa menyumbangkan buku-buku lamamu untuk perpustakaan atau anak-anak yang tak mampu. Semua jadi senang, kan?

“Aku malas membaca,” kata seorang anak. "Terlalu banyak membaca, bisa-bisa aku harus berkacamata, dan dijuluki kutu buku.”

“Aku harus meluruskan anggapan itu,” kata peri buku. “Pertama, berkacamata bukan akibat senang membaca, melainkan akibat membaca dalam keremangan dan jarak baca terlalu dekat.”

“Kedua,” lanjut peri buku. “Kutu buku itu serangga kecil yang tidak membaca buku, tapi memakan dan merusaknya. Anak yang suka membaca seharusnya tidak dijuluki kutu buku. Tapi sahabat peri buku. Bahkan, aku dengan senang hati menyebut mereka juga peri buku.” [ANS]

___________________________________________________

Diambil dari "356 Kisah Mencerdaskan Ananda" karya Ary Nilandari
dengan sedikit penyesuaian.
Images:
Brainysmurf dari www.bluebuddies.com
Kutu buku dari www.kisc.meiji.ac.jp/.http://arynsis.multiply.com/hooke-bookworm.html

 


Fun Stuff

If Not About Books

Inspiration

Interviews

Short Stories

Spin-Off

Writing Craft



Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

Situasi Bagaimana yang Melancarkanmu Menulis?

..more..

Proses Kreatif

Proses Kreatif "Write Me His Story"

..more..

Outline, Perlukah?

Outline, Perlukah?

..more..